Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 185 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memanfaatkan limbah serbuk kayu di Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, menjadi briket sebagai alternatif bahan bakar. Inovasi ini dilakukan untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai guna sumber daya lokal.
Serbuk kayu yang sebelumnya berpotensi dibuang, dibakar secara terbuka, atau dibiarkan menumpuk, diolah menjadi bahan baku biomassa. Pembuatan briket menggunakan 100 gram arang, 30 gram tepung tapioka, dan 250 mililiter air.
Limbah kayu terlebih dahulu dibakar dalam kondisi minim oksigen hingga menjadi arang. Arang kemudian ditumbuk, disaring, dan dicampurkan dengan perekat dari tepung tapioka yang telah direbus. Adonan selanjutnya dicetak dan dikeringkan dengan diangin-anginkan selama satu hari, kemudian dijemur selama 2–5 hari.
Selain praktik pengolahan, KKN Berdampak 185 UMM juga mengadakan sosialisasi kepada masyarakat Desa Besuki. Warga diperkenalkan pada tahapan pembuatan briket, mulai dari pembuatan perekat, pencampuran bahan, hingga pencetakan. Demonstrasi secara langsung dengan bahasa sederhana membuat materi lebih mudah dipahami dan mendapat respons positif dari masyarakat.
“Yang jelas, dibuka sesi pertanyaan membuat antusias, jadinya ada ketertarikan dari audiens, yang kedua audiens jadi penasaran untuk mencoba. Berikutnya, ada pencerahan baru terkait limbah serbuk itu yang dibuang ternyata dengan ilmu itu bisa digunakan. Saya baru tau prosesnya dan itu cukup menarik. Alhamdulillah ilmunya sangat bagus dan pengampuan materinya sudah terbiasa berbicara di depan khalayak.” Tanggapan Suwito, selaku Ketua BUMDes Besuki.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya KKN Berdampak 185 UMM dalam memanfaatkan potensi sumber daya lokal sekaligus memperkenalkan pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan. Pengolahan serbuk kayu menjadi briket diharapkan dapat mengurangi pembuangan dan pembakaran limbah secara terbuka serta mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Mahasiswa berharap pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan masyarakat secara mandiri setelah kegiatan KKN berakhir. Melalui pemanfaatan yang konsisten, serbuk kayu berpotensi menjadi sumber energi alternatif sekaligus memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat Desa Besuki. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments