Dua inovasi sederhana diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAS) Kelompok 98 kepada kelompok tani di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Inovasi tersebut berupa alat penabur pupuk dan pemanfaatan limbah bonggol jagung menjadi briket bioenergi.
Kegiatan berlangsung di Balai Desa Wringinsongo pada Kamis (20/8/2026) mulai pukul 15.30 WIB. Kelompok tani dari Dusun Nongkosongo dan Dusun Sumberingin terlibat langsung dalam praktik penggunaan alat penabur pupuk serta pembuatan briket.

Para petani tidak hanya menyaksikan penjelasan dari mahasiswa, tetapi juga mencoba merakit dan menggunakan alat penabur pupuk. Di sisi lain, peserta lainnya mengikuti proses pembuatan briket dari bonggol jagung dengan pendampingan mahasiswa KKN MAS.
Ketua Kelompok KKN MAS 98, Gibran El Ghifari, mengatakan kedua program tersebut dipilih berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang berkaitan dengan sektor pertanian.
“Kelompok 98 memilih kedua program tersebut karena melihat potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang berkaitan dengan sektor pertanian,” ujar Gibran.
Menurut Gibran, alat penabur pupuk diperkenalkan untuk menjawab kebutuhan petani terhadap alat sederhana yang dapat membuat proses pemupukan lebih praktis dan efisien serta tidak terlalu bergantung pada tenaga manual.
Alat tersebut diharapkan dapat membantu proses pemupukan menjadi lebih mudah, cepat, dan merata sekaligus mengurangi beban tenaga kerja.
Salah seorang anggota kelompok tani, Khoirul Anwar, memberikan tanggapan positif terhadap inovasi tersebut. Menurutnya, alat penabur pupuk menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian para petani.
“Saya kira cukup membantu dari semua bahan praktik yang ada itu. Untuk yang paling, karena mungkin sementara ini petani sangat berminat itu alat penabur pupuk. Soalnya di samping nggak terlalu capek, presisi juga,” kata Khoirul.
Tanggapan serupa disampaikan Kepala Dusun Nongkosongo, Budi Utomo. Ia menilai alat tersebut berpotensi membantu petani dalam proses pemupukan yang selama ini masih dilakukan dengan cara manual.
“Untuk alat pemupukan ini mungkin sangat berguna sekali. Selama ini petani menggunakannya secara manual dengan cara ditabur. Mungkin dengan alat ini bisa lebih efisien waktu, juga pemupukannya lebih merata,” ujar Budi Utomo.
Bonggol Jagung Jadi Briket
Selain memperkenalkan alat penabur pupuk, KKN MAS Kelompok 98 juga mengajak kelompok tani memanfaatkan bonggol jagung sebagai bahan dasar briket bioenergi.
Program tersebut berangkat dari adanya limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui proses pengolahan, bonggol jagung yang sebelumnya menjadi limbah dapat memiliki nilai guna sebagai bahan bakar alternatif.
Ketua Kelompok Tani Sejahtera 1, Supri Yanto, mengapresiasi pelatihan pembuatan briket yang diberikan mahasiswa KKN MAS. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi anggota kelompok tani.
“Sangat terima kasih sekali untuk menjadikan ilmu buat kelompok tani, petani kami yang ada di Sejahtera 1 ini. Mudah-mudahan bermanfaat selamanya,” ujar Supri Yanto.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut dapat memberikan manfaat bagi kelompok tani, terutama dalam pemanfaatan limbah pertanian.
Sementara itu, Budi Utomo berharap program kerja yang diperkenalkan mahasiswa KKN MAS dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Wringinsongo. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat juga menjadi pengalaman untuk memahami kebutuhan masyarakat.
Melalui alat penabur pupuk dan pengolahan bonggol jagung menjadi briket, KKN MAS Kelompok 98 memperkenalkan pemanfaatan teknologi sederhana serta sumber daya lokal kepada kelompok tani. Kedua inovasi tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan KKN berakhir. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments