Suasana ceria menyelimuti selasar dan ruang kelas SD Muhammadiyah 6 Surabaya setiap Jumat. Sekolah ini konsisten menggelar program Literasix (Literasi Anak SD Musix), sebuah wadah bagi siswa untuk mengeksplorasi bakat sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.
Melalui program ini, siswa tidak hanya sekadar membaca. Mereka diajak menyelami koleksi buku cerita di perpustakaan mini yang tersedia di setiap kelas. Setelah membaca, siswa diminta menuliskan kembali inti cerita, kemudian mempresentasikannya secara lisan di depan kelas.
Kegiatan Literasix disambut hangat oleh para siswa. Fatir An Nafi, siswa kelas 3 ICP yang akrab disapa Fatir, mengaku selalu menantikan program ini setiap pekan.
“Kegiatan Literasix ini sangat asyik dan menarik. Banyak cerita bagus yang dibaca setiap Jumat. Yang paling aku ingat dan membekas di hati itu cerita tentang Botol Ajaib,” ujar Fatir dengan antusias.
Senada dengan itu, Ghaysan Hamish Rajendra menilai Literasix menjadi momen penyegaran di tengah rutinitas belajar.
“Sangat menyenangkan karena bisa membaca banyak buku cerita. Jadi tidak harus belajar pelajaran terus-menerus,” ungkapnya jujur.
Di balik suasana yang menyenangkan, Literasix merupakan program strategis dalam meningkatkan kualitas akademik sekaligus karakter siswa. Anisa Herwati, M.Pd., selaku Kepala Urusan Kurikulum SD Muhammadiyah 6 Surabaya, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kemampuan berpikir kritis.
“Tujuan utama Literasix adalah membangun fondasi kemampuan berpikir kritis dan memahami informasi. Kami percaya, dengan kegemaran membaca yang kuat, hasil akademik siswa akan meningkat secara luar biasa,” jelas Ustadzah Anisa.
Ia juga menekankan pentingnya aspek public speaking dalam kegiatan ini untuk melatih keberanian, keterampilan berbicara, serta kepercayaan diri siswa.
Puncak keseruan Literasix terjadi saat sesi tanya jawab dimulai. Setelah seorang siswa menyampaikan hasil bacaannya, siswa lain diberi kesempatan untuk bertanya.
Suasana kelas pun berubah menjadi hidup. Para siswa tampak antusias, bahkan saling berebut mengacungkan tangan untuk bertanya. Ustadz dan ustadzah harus sigap memilih siswa yang berkesempatan berbicara.
Interaksi dua arah ini tidak hanya membuat cerita lebih menarik, tetapi juga melatih siswa menjadi pendengar yang baik sekaligus penanya yang kritis.
Melalui Literasix, SD Musix Surabaya berhasil menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan proses aktif yang menyenangkan, interaktif, dan membangun keberanian siswa sejak dini.





0 Tanggapan
Empty Comments