PWMU.CO – Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta memperkenalkan pengolahan sampah organik dengan sistem biopori, Selasa (26/08/2025).
Adapun sosialisasi tersebut mereka laksanakan kepada masyarakat dusun Jalen II Desa Setail kecamatan Genteng Banyuwangi.
Di desa Setail tempat KKN dari kelompok II.A.2 angkatan ke-169 merupakan wilayah pedesaan. Di mana, warga masyarakatnya rata-rata masih memiliki pekarangan di sekitar rumah yang cukup luas. Sehingga terkait dengan persampahan biasanya warga membuang sampah cukup di sekitar pekarangan rumah dan dibakar.
Melihat fenomena tersebut, para mahasiswa memberikan pencerahan dan edukasi pengolahan sampah yang bisa bermanfaat.
Yaitu, dengan memilah sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik diolah mejadi pupuk, sedangkan sampah anorganik terutama plastik bekas minunan bisa dikumpulkan dan menghasilkan uang.
Jelaskan Teknik Pembuatan Pupuk
Salah satu dari mahasiswa KKN UAD, Paundra Marlina Punanti, berujar pihaknya mengamati bahwa warga di sekitar pekarangan banyak memanfaatkan sisa lahannya untuk ditanami sayur jangka menengah, seperti bayam, kenikir, cabe dan lainya.
Bahkan tidak sedikit yang juga senang dengan tanaman bunga hias. “Oleh karenanya untuk mengurangi kesuburan tanah karena penggunaan pupuk kimia, kami perkenalkan pupuk organik yang ramah lingkunan dan bahannya ada di rumah para warga” terangnya.
Selanjutnya, Mahasiswa KKN UAD lainnya, Widya Bunga Pramadila bersama Rahmawati dari fakultas Ekonomi Pembangun menjelaskan teknik pembuatan pupuk organik dengan sistem biopori.
Dengan panjang lebar, warga yang didominasi ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Jalen tampak serius mendengarkan setiap penjelasan mereka.
Sebelum acara berakhir, Vito Mahardika mahasiswa asal Tangerang mempertegas dengan memberi keterangan bahwa sampah organik yang sering teranggap sebagai masalah, sebenarnya bisa menjadi sumber manfaat besar bagi kehidupan.
Melalui lubang resapan biopori sampah organik bisa diolah menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanah. Sementara ecoenzym atau cairan dari fermentasi limbah organik mampu menghasilkan cairan serbaguna yang ramah lingkungan.
“Dengan langkah sederhana ini kita tidak hanya mengurangi timbunan sampah. Tetapi juga menjaga kesuburan tanah, memperbaiki kualitas lingkungan , dan memberikan warisan bumi yang lebih sehat untuk generasi mendatang” jelasnya.
Kegiatan pengenalan sampah sistem biopori terlaksana di rumah H Latif Usman SH dan Hj Lilik Ekowati. Keduanya merupakan aktivis PRM dan PRA Jalen.
Suasana semakin akrab, nyaman dan familiar sehingga tidak terasa hampir empat jam bercengkerama. Selanjutnya para mahasiswa pamit undur diri ke posko.





0 Tanggapan
Empty Comments