Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya Berbagi Praktik Pendidikan Inklusi di Pondok Gede

Iklan Landscape Smamda
Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya Berbagi Praktik Pendidikan Inklusi di Pondok Gede
Sharing praktik baik pembelajaran Heru Tjahyono kepada guru di Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede, Jawa Barat. (Suyono/PWMU.CO)
pwmu.co -

Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya menggelar kegiatan silaturahmi pendidikan di wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan berbagi praktik baik pengelolaan pendidikan inklusi di Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan pendidikan sekaligus peningkatan kualitas manajemen sekolah berbasis inklusi.

Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah itu dihadiri jajaran manajemen dan guru Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede. Tim Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang hadir terdiri atas Heru Tjahyono, Ely Rhodlifah, Suyono, dan Ira Pratiwi.

Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan pembahasan mengenai pengelolaan pendidikan inklusi di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede yang berada di bawah naungan PCM Kebayoran Baru Jakarta saat ini tengah mengembangkan layanan pendidikan inklusi bagi siswa dengan beragam karakter dan kebutuhan belajar.

Kepala Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede, Cholis, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki Sekolah Kreatif dapat menjadi referensi dalam pengembangan sistem pendidikan inklusi di sekolahnya.

“Dalam rangka meningkatkan kualitas manajemen bidang pendidikan inklusi, tentu sangat tepat apabila kami belajar langsung kepada sekolah yang sudah memiliki pengalaman. Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari silaturahmi sebelumnya saat pihak Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede berkunjung ke Sekolah Kreatif Baratajaya Surabaya.

“Apa yang kami lakukan tahun lalu dengan datang jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya kini ditindaklanjuti langsung oleh para pakarnya yang berkenan hadir di tempat kami. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus berkembang,” tambahnya.

Dalam sesi pemaparan materi, Heru Tjahyono yang tergabung dalam Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS) menjelaskan bahwa konsep sekolah inklusi tidak hanya berkaitan dengan penerimaan siswa, tetapi juga budaya keterbukaan di lingkungan sekolah.

“Sekolah inklusi itu adalah keterbukaan, bukan eksklusif. Menghilangkan sekat antara sekolah dengan orang tua, guru dengan guru dan karyawan, siswa dengan siswa, bahkan dengan masyarakat sekitar,” tegas Heru yang akrab disapa Babe Heru.

Menurutnya, pendidikan inklusi membutuhkan kesamaan visi dari seluruh sumber daya manusia di sekolah agar layanan pendidikan dapat berjalan optimal.

“Oleh karena itu perlu adanya penguatan sumber daya manusia agar memiliki visi yang sejalan. Semua elemen sekolah harus bergerak bersama,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan di sekolah.

SMPM 5 Pucang SBY

“Orang tua harus menjadi partner karena mereka adalah aset penting bagi sekolah. Sekolah perlu memberikan ruang yang luas agar orang tua bisa ikut berkegiatan dan bersilaturahmi,” tambahnya.

Sementara itu, Ely Rhodlifah memaparkan kebijakan penerimaan siswa di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang dilakukan tanpa tes khusus sebagai bagian dari layanan pendidikan inklusi.

“Di Sekolah Kreatif semua karakter siswa diterima tanpa tes khusus. Konsekuensinya, sekolah harus siap memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh siswa dengan kebutuhan yang beragam,” ujar Ely.

Ia menjelaskan bahwa fleksibilitas manajemen sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan siswa sesuai potensinya masing-masing.

Pada sesi berikutnya, Ira Pratiwi yang merupakan guru kelas II membagikan pengalaman praktik pembelajaran di kelas heterogen. Menurutnya, pendidikan inklusi membutuhkan kerja sama antarguru dalam mendampingi siswa.

“Dibutuhkan kerja sama yang solid dalam team teaching antara guru kelas, guru shadow, dan guru BK. Tanpa kerja sama yang baik, manajemen kelas tentu tidak dapat berjalan maksimal,” ungkap Tiwi, sapaan akrabnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pendampingan siswa memerlukan pendekatan emosional serta pemahaman karakter setiap anak.

“Prioritas yang harus diutamakan adalah menuntaskan kebutuhan siswa yang belum terselesaikan, misalnya kebutuhan bermain atau memahami karakter mereka lebih dalam. Ketika guru memberikan perhatian dan memahami siswa, chemistry akan terbentuk sehingga siswa lebih mudah menyesuaikan diri dengan kondisi kelas,” jelasnya.

Kegiatan berbagi praktik baik tersebut ditutup dengan pesan motivasi dari Babe Heru kepada Sekolah Alam Islami Muhammadiyah Pondok Gede agar terus mengembangkan layanan pendidikan inklusi.

“Modal awal yang sudah baik ini harus dipertahankan sekaligus terus dikembangkan. Sekolah Alam Islami Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk berkembang lebih baik. Karena itu harus tetap konsisten dan istiqamah,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 13/05/2026 07:12
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡