Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Matamuda Mutulas Kampanyekan Sekolah Anti Bullying kepada Siswa

Iklan Landscape Smamda
Matamuda Mutulas Kampanyekan Sekolah Anti Bullying kepada Siswa
Anis Ulfiyatin, S.Sos., M.Sosio menyampaikan materi pada kegiatan Matamuda Mutulas Kranji. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Maraknya kasus perundungan di kalangan pelajar menjadi perhatian serius MTs Muhammadiyah 17 Kranji (Mutulas). Melalui kegiatan Masa Ta’aruf Murid Baru (Matamuda), sekolah mengampanyekan gerakan sekolah anti bullying sebagai upaya membangun karakter remaja yang tangguh dan saling menghargai.

Materi bertajuk “Good Vibes Only: Membangun Mental Remaja Tangguh Tanpa Bullying” diberikan kepada seluruh peserta didik baru pada hari kedua Matamuda yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren At-Taqwa Muhammadiyah Kranji, Rabu, Kamis, dan Sabtu (15, 16, dan 18/7/026).

Kasus perundungan di sekolah dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying. Dampaknya tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan dan semangat belajar peserta didik.

Sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, Mutulas menghadirkan sosiolog sekaligus dosen STIQSI Sendangagung, Anis Ulfiyatin, S.Sos., M.Sosio., sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Anis menjelaskan bahwa bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, dilakukan berulang kali, serta disertai ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Dampaknya dapat membuat korban merasa malu, takut, kehilangan kepercayaan diri, bahkan kehilangan semangat hidup.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terlebih di lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

Anis juga menjelaskan bahwa dalam kasus bullying terdapat tiga unsur utama, yaitu bully (pelaku), victim (korban), dan bystander (saksi). Oleh karena itu, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab korban maupun guru, tetapi seluruh warga sekolah.

Ia mengajak para siswa untuk mengenal diri sendiri, belajar menyelesaikan masalah tanpa merugikan orang lain, serta menghargai setiap perbedaan sebagai bagian dari keunikan setiap individu.

SMPM 5 Pucang SBY

“Remaja tangguh bukan yang paling kuat, tetapi yang mampu mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, berani meminta maaf, berani mengatakan yang benar, dan tidak ikut-ikutan mengejek,” tegas dosen asal Palirangan tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa perundungan tidak boleh dianggap sebagai candaan.

“Bullying bukan sekadar bercanda. Siapa pun yang mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan harus berani speak up dan melaporkannya kepada guru atau pihak yang berwenang,” pesannya.

Pada akhir sesi, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyusun proyek berupa komitmen bersama mendukung gerakan sekolah anti bullying. Setiap kelompok kemudian membacakan hasil komitmennya di depan peserta lain sebagai bentuk deklarasi untuk tidak melakukan maupun membiarkan tindakan perundungan.

Melalui kegiatan ini, Mutulas berharap seluruh peserta didik baru memiliki kesadaran untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 18/07/2026 10:49
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu