Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Melihat Pembelajaran di SMPM 13 Surabaya, Rapor Akademik yang Transparan

Iklan Landscape Smamda
Melihat Pembelajaran di SMPM 13 Surabaya, Rapor Akademik yang Transparan
SMP Muhammadiyah 13 Surabaya yang berlokasi di Jalan Tambak Segaran 27, Rangkah, Tambaksari (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Mayoritas siswa baru yang masuk bukan berasal dari lulusan SD Muhammadiyah. Melainkan lulusan SD Negeri dan swasta umum. Kondisi ini mendorong pembelajaran di SMP Muhammadiyah (SMPM) 13 Surabaya menerapkan strategi khusus.

Porsi siswa dari sekolah negeri bahkan menyentuh angka 70 persen. Sementara dari internal Muhammadiyah hanya berkisar antara 30 hingga 40 persen. Sekolah menerapkan masa Forum Ta’aruf Siswa (Fortasi) selama satu bulan untuk mematangkan adab, kemandirian, dan dasar ibadah.

“Anak-anak yang masuk ke sini mayoritas dari SD negeri. Makanya fokus kami di bulan pertama bukan menjejalkan rumus matematika. Tapi membenahi adab dan kemandirian harian lewat Fortasi satu bulan penuh,” ujar Kepala SMPM 13 Surabaya, Sofyanda Atmaja, S.Pd, M.Pd.

Di antara penanaman karakter itu adalah cara menghormati guru dan tata cara salat yang benar. Bahkan pada hal yang mendasar seperti bisa menyetrika baju dan menggoreng telur sendiri.

Manurut Sofyanda, durasi Fortasi yang mencapai sebulan ini punya tujuan khusus. Yaitu menyamakan pijakan awal para siswa baru yang latar belakang pendidikannya sangat beragam. “Kami ingin memastikan fondasi karakternya kokoh dulu, baru setelah itu kita bicara soal pelajaran di kelas.”

“Karena mayoritas dari SD negeri, yang kami utamakan di bulan pertama adalah adab dan soft skill dasar untuk hidup. Anak-anak diajari cara mencuci baju, menyetrika, sampai hal simpel. Seperti menggoreng telur atau membuat kopi sendiri,” ujar Sofyanda saat ditemui di lingkungan sekolah, Kamis (11/6/2026) siang.

Selain kemandirian fisik, pembenahan adab sehari-hari dan praktik ibadah menjadi menu wajib harian. Sofyanda menyebutkan, tata cara berinteraksi dengan guru, orang tua, teman, hingga adab membaca Al-Qur’an ditanamkan secara intensif.

Pola pembiasaan di sekolah yang terletak di Jalan Tambak Segaran 27, Rangkah, Tambaksari ini terbilang unik. Pagi hari untuk pendalaman agama. Saban pagi, aktivitas dimulai dengan murojaah surat-surat pendek yang langsung disetorkan kepada wali kelas masing-masing.

Setelah itu, siswa mengikuti program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) yang dikelompokkan berdasarkan kemampuan. Mulai dari tingkat Iqra, Al-Qur’an, hingga kelas hafiz. Rangkaian aktivitas pagi ditutup dengan salat Dhuha bersama dan drill praktik salat.

“Pembelajaran umum baru dimulai pukul 10.30 WIB setelah semua urusan agama dan pembiasaan pagi selesai. Ternyata, sentuhan Al-Qur’an setiap hari ini membuat anak-anak lebih tenang dan melunakkan karakter mereka,” tutur Sofyanda yang saat itu mengenakan batik kolaborasi hitam-putih lengan panjang.

Meski jam pelajaran umum bergeser ke siang hari, performa akademik siswa justru menunjukkan tren positif. Sofyanda mengklaim metode penataan mental lewat Al-Qur’an di pagi hari berbanding lurus dengan ketajaman berpikir siswa di kelas.

Berdasarkan data evaluasi sekolah, nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMPM 13 Surabaya melampaui rata-rata nasional. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai tertinggi siswa mampu menyentuh angka 100. Jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 65.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara untuk Matematika, nilai tertinggi mencapai 90 dengan sebaran nilai 70 dan 80 yang cukup merata, padahal rata-rata nasional hanya bertengger di angka 40.

Rapor Akademik, Transparan Nilai 20 Ditulis 20

Menghadapi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027 di wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Tambaksari, SMPM 13 Surabaya memilih meninggalkan cara lama. Sekolah tidak lagi mengandalkan baliho besar atau spanduk melintang jalan yang berpotensi mengganggu estetika kota. Strategi yang digunakan adalah pembuktian performa siswa di dalam sekolah (inside-out marketing).

Kepala SMPM 13 Surabaya, Sofyanda Atmaja, S.Pd, M.Pd. (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
Kepala SMPM 13 Surabaya, Sofyanda Atmaja, S.Pd, M.Pd. (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)

Salah satu terobosan manajemen yang diterapkan adalah penggunaan sistem multi-rapor. Sekolah menerbitkan lima hingga enam jenis rapor untuk satu siswa, termasuk Rapor Dinas, Rapor Akademik (Nilai Asli), dan Rapor Literasi-Numerasi.

“Di SMPM 13, kami buat Rapor Akademik tersendiri yang isinya murni nilai asli. Kalau anak dapat 20 atau 30, ya kami tulis apa adanya,” tegas Bendahara BikersMu Surabaya tersebut.

Langkah berani ini diambil bukan untuk mempermalukan siswa, melainkan untuk memberikan peta bakat yang akurat kepada orang tua. Dari grafik nilai asli tersebut, orang tua bisa melihat dengan jelas di mana kelemahan dan kelebihan anak. Apakah condong ke sains, seni, atau bahasa. Peta ini nantinya menjadi kompas bagi orang tua untuk mengarahkan jalur pendidikan anak saat masuk ke jenjang SMA atau SMK.

Selain Rapor Akademik, sekolah juga menerapkan Rapor Literasi dan Numerasi yang dievaluasi setiap bulan. Siswa diwajibkan membaca buku dan membuat rangkuman, cerpen, atau puisi. Guna mengantisipasi kecurangan berbasis teknologi AI atau mesin pencari, seluruh tugas literasi wajib ditulis tangan di atas kertas folio.

“Saya ingin kemampuan dasar manusia seperti membaca cepat, merangkum, menulis, dan public speaking tetap terjaga di tengah gempuran gadget,” tambah Sofyanda.

Model pengembangan bakat spesifik ini berujung pada target prestasi. Sekolah mewajibkan setiap siswa minimal mengantongi satu prestasi sebelum lulus. Pola ini mendapat dukungan penuh dari wali murid, yang secara mandiri bersedia mendanai kebutuhan kompetisi anak-anak mereka jika melihat potensi sang anak berkembang.

Hasilnya, dalam beberapa kompetisi keagamaan tingkat regional, sekolah mampu mengirimkan lebih dari 100 siswa sekaligus dan menyabet gelar juara umum.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 12/06/2026 17:10
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu