Mengikuti Jambore di Candi Jabung, Kamis-Jumat (13-14/8/2026), menjadi pengalaman berkesan bagi anak-anak Hizbul Wathan (HW) SD Muhammadiyah 1 Paiton atau SD Mutu.
Kegiatan ini mempertemukan peserta HW SD Mutu dengan anggota Pramuka dari SD dan SMP se-Kecamatan Paiton dalam suasana penuh kebersamaan.
Meski mengenakan seragam yang berbeda, para peserta tetap dapat berbaur dan mengikuti berbagai kegiatan bersama.
Perbedaan identitas kepanduan justru menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal lebih banyak teman dan belajar tentang arti persaudaraan.
Bagi peserta HW SD Mutu, jambore tidak hanya menjadi ajang untuk belajar keterampilan kepanduan. Mereka juga membawa kebiasaan dan karakter yang selama ini ditanamkan di sekolah.
Hal tersebut terlihat ketika waktu shalat tiba. Di tengah padatnya kegiatan jambore, anak-anak HW SD Mutu tetap melaksanakan shalat tahajud dan shalat berjamaah di tenda.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa karakter religius yang dibangun di sekolah tidak berhenti ketika anak berada di lingkungan sekolah.
Nilai-nilai tersebut tetap dibawa dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat mengikuti kegiatan di luar sekolah.
Salah satu peserta, Ananda Khansa Almira Dzakiyya, siswa kelas 6 Palestina, mengikuti jambore untuk pertama kalinya. Pengalaman bertemu teman-teman baru dan mengikuti kegiatan bersama membuatnya ingin kembali mengikuti kegiatan serupa.
“Seru, banyak teman, mau lagi,” ujar Khansa.

Jurnalis Cilik Gali Tujuan Jambore
Tidak hanya menjadi peserta, Jambore Candi Jabung juga menjadi ruang belajar bagi Jurnalis Cilik SD Mutu. Mereka berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan Kak Nurul Jadid, M.Pd., selaku Kwartir Cabang (Kwarcab) Probolinggo.
Dalam kesempatan tersebut, Jurnalis Cilik menggali informasi mengenai tujuan diadakannya jambore serta harapan terhadap kegiatan kepanduan bagi para peserta.
Saat menjawab pertanyaan tersebut, Kak Nurul Jadid juga menyampaikan tentang persamaan antara HW dan Pramuka. Menurutnya, meskipun memiliki seragam dan identitas organisasi yang berbeda, keduanya sama-sama berada dalam semangat kepanduan dan memiliki tujuan yang sejalan dalam membentuk karakter generasi muda.
“HW dan Pramuka itu sama-sama gerakan kepanduan. Keduanya mengajarkan anak-anak untuk mandiri, disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, memiliki jiwa kepemimpinan, dan peduli kepada sesama,” jelas Kak Nurul Jadid kepada Jurnalis Cilik SD Mutu.
Jawaban tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para jurnalis cilik. Mereka tidak hanya belajar mendapatkan informasi dari narasumber, tetapi juga belajar bahwa perbedaan seragam tidak menghalangi persamaan nilai dan semangat yang dibangun melalui kegiatan kepanduan.
Melalui Jambore Candi Jabung, anak-anak HW SD Mutu mendapatkan pengalaman belajar di luar kelas sekaligus kesempatan mempraktikkan karakter yang telah dibiasakan di sekolah.
Dari menjaga ibadah, membangun persahabatan, hingga berani berkomunikasi dengan tokoh kepanduan, semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang mereka bawa pulang.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments