Semangat membangun budaya inovasi dalam dunia pendidikan mewarnai kegiatan Innovation Program School Innovation: Best Practice and Sharing yang menghadirkan Kepala SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Athiq Amiliyah, sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh 26 pimpinan sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA di bawah naungan Yayasan Islam Bunga Bangsa.
Kegiatan berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026, bertempat di Aula Lantai 2 Hotel Mesra Samarinda, hotel bintang empat bernuansa hijau yang berada di kawasan perbukitan Jalan Pahlawan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Athiq Amiliyah membagikan pengalaman nyata SD Muhammadiyah Manyar dalam membangun budaya inovasi sekolah melalui berbagai strategi manajemen modern yang telah diimplementasikan secara berkelanjutan.
Materi tidak disampaikan dalam bentuk ceramah satu arah, melainkan menggunakan Model Pembelajaran Kontekstual berbasis langkah TANDUR (Quantum Teaching) yang membuat seluruh peserta terlibat aktif sejak awal hingga akhir kegiatan.
Tahapan TANDUR yang terdiri atas Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan menjadi kerangka utama pelatihan sehingga peserta tidak hanya memahami konsep inovasi, tetapi juga mengalami, mempraktikkan, dan merancang inovasi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Pada tahap Tumbuhkan, fasilitator menyiapkan empat media berupa gelas, botol plastik, botol kaca, dan tumbler. Melalui media sederhana tersebut, peserta diajak mengamati serta mendiskusikan makna inovasi sebelum memperoleh penjelasan mengenai konsep inovasi itu sendiri. Aktivitas ini berhasil membangun rasa ingin tahu dan membuka cara pandang baru bahwa inovasi sering kali lahir dari benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana semakin hidup pada tahap Alami ketika peserta diminta menjawab pertanyaan, “Mengapa sekolah perlu berinovasi?” Setiap jawaban dituliskan pada sticky note kemudian ditempelkan pada gambar pohon harapan. Selanjutnya peserta kembali diminta menuliskan inovasi yang ingin diwujudkan sesuai bidang tugas masing-masing.
Beragam gagasan yang muncul kemudian dibacakan dan didiskusikan bersama sehingga menjadi inspirasi antarpeserta. Pada sesi Namai, peserta dibagi ke dalam kelompok menggunakan model Jigsaw. Setiap kelompok mempelajari salah satu dari enam strategi utama inovasi sekolah, yaitu Re-Engineering, Benchmarking, Balanced Scorecard, Six Sigma, Kaizen, dan Blue Ocean Strategy.
Literasi dan Diskusi
Melalui kegiatan literasi dan diskusi, peserta menggali konsep, manfaat, serta peluang implementasi strategi tersebut di sekolah masing-masing.Enam strategi inovasi yang dipelajari meliputi Re-Engineering, Benchmarking, Balanced Scorecard, Six Sigma, Kaizen, Canvas Strategy, serta Blue Ocean Strategy. Seluruh konsep diperkuat dengan praktik nyata yang telah diterapkan di SD Muhammadiyah Manyar.
Athiq Amiliyah kemudian memperkuat pemahaman peserta dengan membagikan best practice SD Muhammadiyah Manyar dalam mengimplementasikan berbagai strategi inovasi tersebut.
Secara umum, praktik baik yang dibagikan meliputi transformasi sistem pembelajaran dan supervisi guru, penguatan budaya mutu, pengembangan talenta peserta didik, peningkatan kapasitas guru melalui inovasi berkelanjutan, penyusunan strategi sekolah yang kolaboratif, hingga penciptaan program-program unggulan yang menjadi diferensiasi sekolah. Berbagai praktik tersebut telah mengantarkan SD Muhammadiyah Manyar meraih berbagai prestasi dan pengakuan di tingkat regional maupun nasional.
Memasuki tahap Demonstrasikan, peserta kembali ke kelompok asal untuk mengikuti simulasi “Shark Tank Inovasi Sekolah”. Setiap anggota mempresentasikan hasil diskusi beserta rancangan inovasi yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Suasana diskusi berlangsung interaktif karena setiap peserta saling memberikan masukan dan penguatan terhadap ide yang dipresentasikan.
Pada tahap Ulangi, fasilitator mengajak peserta mengingat kembali keenam strategi inovasi melalui gerakan tubuh yang telah dipelajari sebelumnya. Cara ini membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan sekaligus membantu peserta mengingat konsep dengan lebih mudah.
Sebagai penutup, tahap Rayakan diisi dengan pemberian Innovation Award kepada kelompok yang memperoleh suara terbanyak pada sesi demonstrasi. Seluruh peserta memberikan apresiasi melalui tepuk tangan dan yel-yel bersama sebagai bentuk penghargaan atas kreativitas dan kolaborasi yang telah ditunjukkan sepanjang pelatihan.
Menutup kegiatan, Athiq Amiliyah menyampaikan pesan reflektif bahwa inovasi merupakan proses yang harus terus dihidupkan dalam budaya sekolah.
“Inovasi tidak lahir dari zona nyaman, tetapi dari keberanian mencoba yang belum ada”. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments