Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merawat Salat dan Al-Qur’an, Menyiapkan Keluarga Menuju Surga

Iklan Landscape Smamda
Merawat Salat dan Al-Qur’an, Menyiapkan Keluarga Menuju Surga
Ustaz Khoiri, M.Pd.I menyampaikan tausiyah dalam Kajian Keluarga Sakinah di Masjid Al Hikmah Wage, Sidoarjo, Senin (12/10/2026). Foto: Mashuri/PWMU.CO

Keluarga yang ingin meraih surga bersama tidak cukup hanya dibangun dengan rumah yang nyaman, harta yang mencukupi, atau pendidikan anak yang baik. Ada fondasi yang harus dijaga setiap hari, yakni salat, kedekatan dengan Al-Qur’an, pengendalian hawa nafsu, dan amal saleh yang dilakukan secara konsisten.

Pesan itu menjadi pokok Kajian Keluarga Sakinah bertema Sukses Meraih Surga Bersama Keluarga yang disampaikan Ustaz Khoiri, S.Th.I, M.Pd.I di Masjid Al Hikmah Wage, Sidoarjo, Senin (12/10/2026).

Kajian rutin setiap Senin pekan kedua ini mengajak jamaah melihat keluarga bukan semata-mata sebagai tempat memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan iman dan menyiapkan kehidupan akhirat.

Menurut Ustaz Khoiri, membangun keluarga sakinah perlu dimulai dari perkara paling mendasar: menjaga shalat. Ibadah ini bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian penting dari pendidikan dan kebiasaan beragama di dalam rumah.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah Maryam ayat 59: “Kemudian, datanglah setelah mereka generasi pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.”

“Ayat ini menjadi peringatan bahwa ketika salat mulai diabaikan dan hawa nafsu dibiarkan mengendalikan kehidupan, keluarga perlu segera berbenah,” ujar Ustaz Khoiri.

Dia lalu menjelaskan, persoalannya bukan hanya apakah anggota keluarga sudah menunaikan salat, tetapi juga bagaimana ibadah itu menuntun perilaku sehari-hari. Apakah keluarga semakin jujur? Apakah harta diperoleh dengan cara yang halal? Apakah kebutuhan dibedakan dari keinginan?

Ustaz Khoiri juga menuturkan, praktik riba yang dianggap biasa dan kebiasaan menumpuk barang yang tidak bermanfaat juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Keluarga Muslim dituntut cermat mengelola harta, mengendalikan keinginan, dan memastikan kehidupan rumah tangga tidak menjauh dari nilai-nilai agama.

“Dengan demikian, kesalehan tidak berhenti pada ritual. Ia semestinya terlihat dalam cara mencari nafkah, membelanjakan uang, memperlakukan pasangan, dan mendidik anak,” katanya.

Mengawali Hari dengan Ketaatan

Ustaz Khoiri juga mengatakan, kebiasaan bangun sebelum subuh menjadi salah satu ikhtiar membangun keluarga yang lebih tertib dalam beribadah.

“Waktu pagi dapat digunakan untuk menunaikan salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mempersiapkan aktivitas dengan lebih tenang,” ujarnya.

Rasulullah saw, timpanya, mengingatkan tentang tiga ikatan yang dibuat setan di tengkuk seseorang ketika tidur.

Pada setiap ikatan, setan membisikkan bahwa malam masih panjang dan orang itu sebaiknya melanjutkan tidurnya. Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Merawat Shalat dan Al-Qur’an, Menyiapkan Keluarga Menuju Surga
Jamaah memadati d Masjid Al Hikmah Wage, Sidoarjo. Foto: Mashuri/PWMU.CO

Pesannya jelas, rasa malas tidak boleh terus-menerus dibiarkan mengalahkan niat untuk beribadah.

Rasulullah saw juga berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Allahumma baarik li-ummatii fii bukuurihaa.

“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).

“Doa tersebut mengajarkan pentingnya memanfaatkan pagi untuk kegiatan yang membawa manfaat. Keluarga dapat membangun kebiasaan memulai hari dengan shalat Subuh, membaca Al-Qur’an, dan berdoa sebelum menjalankan kesibukan masing-masing,” terang Ustaz Khoiri.

Kebiasaan ini tentu membutuhkan komitmen bersama. Orang tua perlu memberi teladan, sementara anggota keluarga saling mengingatkan tanpa menjadikan ibadah sebagai sumber pertengkaran.

Rumah Bukan Gudang Barang yang Tak Terpakai

Masih kata Ustaz Khoiri. Kehidupan keluarga yang berkah juga berkaitan dengan cara memperlakukan harta dan barang-barang milik sendiri.

Kebiasaan eman-eman atau merasa sayang membuang barang terkadang membuat rumah dipenuhi benda yang sudah tidak digunakan. Barang tetap disimpan, meskipun tidak lagi memberikan manfaat dan justru membuat ruang terasa sesak.

“Persoalannya bukan larangan menyimpan barang atau anjuran membuang sesuatu secara berlebihan. Yang diperlukan ialah kemampuan membedakan barang yang masih dibutuhkan dan barang yang hanya menumpuk,” papar dia.

Barang yang masih layak pakai tetapi tidak lagi diperlukan dapat diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan begitu, sesuatu yang semula tidak terpakai di rumah sendiri bisa menjadi manfaat bagi keluarga lain.

Menurut Ustaz Khoiri, rumah semestinya memberi ruang bagi kehidupan yang sehat: tempat beristirahat, mendidik anak, membangun kedekatan, dan beribadah. Mengelola barang dengan bijak juga menjadi bagian dari tanggung jawab mengelola rezeki.

“Kesibukan bekerja, belajar, dan mengurus rumah tangga sering menyita waktu. Namun, jangan sampai seluruh aktivitas mendapatkan tempat, sementara membaca Al-Qur’an justru tersisih,” terang Ustaz Khoiri.

Al-Qur’an tidak semestinya hanya dibaca ketika Ramadan, pengajian, atau acara keagamaan. Kitab suci ini perlu hadir dalam rutinitas keluarga, meskipun dimulai dengan beberapa ayat setiap hari.

SMPM 5 Pucang SBY

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zukhruf ayat 36: “Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya.”

Dikatakan Ustaz Khoiri, ayat ini mengingatkan pentingnya menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman hidup. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk memperoleh pahala, melainkan juga tuntunan dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.

Rasulullah saw bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumahmu seperti kuburan. Sungguh, setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim).

Hadis ini memberikan dorongan untuk menghidupkan rumah dengan ibadah dan bacaan Al-Qur’an.

“Keluarga tidak harus menunggu memiliki banyak waktu luang. Ayah dan ibu bisa memulai dengan membaca beberapa ayat setelah subuh atau magrib. Anak-anak diajak mengaji sesuai kemampuan. Kebiasaan itu dijaga bersama, bukan hanya dibebankan kepada satu anggota keluarga,” ungkap Ustaz Khoiri.

Dari rutinitas tersebut, Al-Qur’an diharapkan tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi tumbuh menjadi sumber nilai yang memengaruhi perilaku seluruh penghuni rumah.

Sedikit, tetapi Terus Dijaga

Ustaz Khoiri mengingatkan, keluarga yang dekat dengan Allah tidak harus memulai perubahan dengan program besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus justru lebih memungkinkan untuk bertahan.

Rasulullah saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Ahabbul a‘maali ilallahi adwamuhu wa in qalla.

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”

Prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari, membiasakan bangun sebelum Subuh, dan menghidupkan rumah dengan doa merupakan ikhtiar yang bisa dimulai sekarang.

“Kuncinya bukan semata-mata banyaknya kegiatan keagamaan, melainkan kesungguhan menjaga kebiasaan baik tersebut,” kata Ustaz Khoiri.

Keteladanan orang tua juga menentukan. Anak-anak tidak cukup hanya diperintah untuk shalat atau membaca Al-Qur’an. Mereka perlu menyaksikan ayah dan ibu menjalankan ibadah, berbicara dengan baik, serta memperlakukan orang lain dengan penuh tanggung jawab.

Apa yang berulang kali dilihat anak di rumah akan menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakternya.

Mewujudkan keluarga yang diridai Allah juga membutuhkan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

Ar-rijaalu qawwaamuuna ‘alan-nisaa.

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.”

Ayat tersebut menegaskan tanggung jawab laki-laki dalam kehidupan rumah tangga. Tanggung jawab itu perlu diwujudkan melalui perlindungan, pemenuhan kewajiban, keteladanan, dan bimbingan menuju kebaikan.

Ustaz Khoiri menegaskan, kepemimpinan keluarga bukan sekadar menuntut ketaatan. Ia menuntut kesediaan untuk memberi contoh, mendengarkan pasangan, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, dan mendampingi anak-anak bertumbuh dalam nilai-nilai Islam.

Suami dan istri perlu saling menguatkan dalam ketaatan. Ketika salah satunya mulai lalai, yang lain mengingatkan dengan cara yang baik. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua membimbingnya tanpa kehilangan kasih sayang dan ketegasan.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar membangun rumah tangga yang harmonis selama hidup di dunia, tetapi juga berharap dapat berkumpul kembali dalam kebaikan di akhirat,” katanya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 23 tentang surga ‘Adn, tempat orang-orang saleh bersama bapak-bapak, istri-istri, dan keturunan mereka.

Ayat ini menghadirkan cita-cita besar bagi keluarga Muslim: bukan hanya berhasil membangun kehidupan dunia, tetapi juga berjuang agar kebersamaan itu berlanjut hingga surga. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/10/2026 21:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu