Sedekah tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk harta. Memberikan tenaga, pikiran, ilmu, membantu orang lain, hingga memberikan senyuman juga dapat menjadi bagian dari kebaikan yang bernilai sedekah.
Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Najih Prastiyo, S.H., M.H., dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonocolo di Lucky Cafe, Jalan Gg. Modin No. 28, Surabaya, Ahad (6/9/2026).
Dalam kajiannya bertema sedekah sebagai solusi ekosistem sosial, Najih mengawali pembahasan dengan menguraikan makna firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 152, “Fadzkuruni adzkurkum” yang berarti, “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian.”
Menurut Najih, susunan ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa manusia perlu terlebih dahulu memberikan kebaikan sebelum berharap mendapatkan kebaikan dari orang lain.
Dalam kehidupan sosial, manusia sering berharap dimuliakan, dibantu, dan mendapatkan kebaikan dari orang lain. Namun, menurut dia, prinsip yang perlu dibangun justru sebaliknya, yakni memulai kebaikan dari diri sendiri.
“Kalau kita berharap dimuliakan oleh orang lain dan berharap mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka yang lebih baik adalah kita memberikan kebaikan dan memuliakan orang lain terlebih dahulu,” jelasnya.
Sedekah Tidak Hanya Berupa Uang
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah itu kemudian menjelaskan bahwa pemahaman tentang sedekah perlu diperluas. Sedekah tidak semata-mata identik dengan memasukkan uang ke kotak amal.
Ia memberikan contoh, ketika seseorang memasukkan uang ke kotak masjid, perbuatan tersebut dapat disebut sebagai infak. Sementara sedekah memiliki cakupan yang lebih luas karena dapat dilakukan melalui berbagai bentuk amal kebaikan.
Membantu memperbaiki fasilitas masjid, merawat dan membersihkan masjid, membantu orang lain, memberikan ilmu, tenaga, serta pikiran merupakan bentuk kebaikan yang dapat bernilai sedekah ketika dilakukan dengan mengharap rida Allah.
Demikian pula dengan senyuman. Najih mengingatkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa senyuman kepada saudara merupakan sedekah.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyempitkan pengertian sedekah hanya pada pemberian materi.
Kebaikan yang Diberikan Dapat Kembali
Najih juga membahas janji Allah mengenai penggantian atas kebaikan yang dilakukan manusia. Menurutnya, penggantian tersebut tidak selalu harus dipahami dalam bentuk materi atau bertambahnya harta secara langsung.
Ia mencontohkan seseorang yang memberikan makanan kepada anak yatim. Kebaikan tersebut tidak berarti secara otomatis akan dibalas dengan tambahan uang dalam jumlah tertentu. Kebaikan dapat kembali melalui berbagai jalan, salah satunya doa dari orang yang menerima manfaat.
Dari sinilah, menurut Najih, terbentuk apa yang ia sebut sebagai ekosistem kebaikan.
Seseorang yang membantu orang lain dapat memperoleh doa dari orang yang dibantunya. Demikian pula ketika seseorang memberikan kebahagiaan kepada orang lain, kebaikan tersebut dapat memberikan dampak kembali kepada dirinya.
“Orang yang kita bantu mungkin mendoakan kita. Orang yang kita bahagiakan mungkin memberikan doa terbaik untuk kita,” ungkap Bendahara Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah.
Ia juga mengaitkan sedekah dengan upaya menolak bala. Najih menyampaikan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi mengenai anjuran mengobati orang sakit dengan sedekah.
Ia kemudian mengisahkan seseorang yang mengalami sakit dalam waktu lama dan kemudian dianjurkan melakukan kebaikan dengan membangun sumur untuk dimanfaatkan masyarakat. Setelah sumur tersebut digunakan, orang itu mendapatkan kesembuhan.
Menurut Najih, kisah tersebut memberikan gambaran bahwa manfaat kebaikan dapat kembali kepada orang yang mengerjakannya, termasuk melalui doa orang-orang yang merasakan manfaat dari kebaikan tersebut.
Tidak Harus Menunggu Kaya
Pada bagian lain, Najih menegaskan bahwa sedekah tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak harta. Ia mengutip hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kemampuan seseorang dalam bersedekah tidak ditentukan oleh besarnya harta yang dimiliki.
Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu kaya untuk berbuat baik. Selama memiliki kemampuan melakukan kebaikan, hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara.
Memberikan ilmu, tenaga, dan pikiran, menyampaikan kabar baik, meluruskan kabar yang tidak benar, membantu orang lain, serta menghadiri majelis ilmu merupakan bagian dari amal kebaikan.
Bagi Najih, prinsip tersebut kembali pada satu hal, yakni memulai kebaikan dari diri sendiri. Ketika kebaikan terus dilakukan dalam kehidupan sosial, hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun melalui transaksi materi, tetapi juga melalui saling membantu, mendoakan, dan memberikan manfaat.
Dengan demikian, sedekah tidak berhenti pada pemberian harta, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan di tengah masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments