Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama aktivis perempuan lintas generasi terus menghidupkan jejak perjuangan Siti Walidah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Sosok ini dikenang sebagai simbol kebangkitan intelektual perempuan Muslim di Indonesia.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1971, Nyai Ahmad Dahlan merupakan pendiri Aisyiyah, organisasi perempuan yang hingga kini mengelola puluhan ribu lembaga pendidikan anak usia dini serta ratusan amal usaha di bidang kesehatan dan pendidikan di seluruh Indonesia.
Jika Raden Ajeng Kartini dikenal melalui gagasan emansipasi yang tertuang dalam surat-suratnya, Nyai Ahmad Dahlan melangkah lebih jauh dengan mengimplementasikan gagasan tersebut dalam gerakan nyata di tengah masyarakat.
Pada era 1910-an, ketika akses pendidikan perempuan masih sangat terbatas, Siti Walidah mendirikan Sopo Tresno. Forum ini tidak hanya menjadi pengajian rutin, tetapi juga ruang belajar bagi perempuan untuk membaca, menulis, serta memahami hak-hak mereka dalam perspektif Islam.
Gerakan ini kemudian berkembang menjadi ‘Aisyiyah pada 22 April 1917—sebuah tonggak penting yang menandai estafet perjuangan perempuan Indonesia dalam balutan nilai religius.
Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan berakar kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah yang menempatkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam kebaikan dan amal saleh.
Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 97:
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…”
Hal ini diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (laki-laki maupun perempuan).”
Bagi Nyai Ahmad Dahlan, kecerdasan perempuan—khususnya sebagai ibu—menjadi fondasi utama peradaban. Ibu adalah madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Warisan perjuangan Nyai Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Hingga kini, kontribusi ‘Aisyiyah terus dirasakan dalam berbagai sektor strategis:
- Pemberdayaan Ekonomi: Program Bina Usaha Ekonomi Keluarga (BUEKA) yang memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.
- Kesehatan Publik: Peran aktif dalam penanganan stunting serta edukasi kesehatan reproduksi perempuan.
- Pendidikan: Transformasi digital di ribuan sekolah Muhammadiyah untuk mencetak generasi adaptif dan melek teknologi.
Perjuangan Siti Walidah membuktikan bahwa Islam tidak membatasi kreativitas perempuan, melainkan memberikan landasan moral untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat (rahmatan lil ‘alamin).
Nyai Ahmad Dahlan adalah representasi nyata dari “Kartini yang beraksi.” Ia menunjukkan bahwa emansipasi perempuan tidak harus bertentangan dengan nilai keimanan. Justru, iman menjadi energi utama untuk berkarya dan memberi manfaat.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, semangat Siti Walidah menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana perempuan diberi ruang untuk belajar, memimpin, dan menginspirasi.
Sumber Literatur
- Museum Muhammadiyah
- Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah
- Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
- Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI





0 Tanggapan
Empty Comments