Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik pada Ahad (6/9/2026) mengangkat tema “Menjaga Iman di Akhir Zaman”.
Kajian yang bertepatan dengan 24 Rabi’ul Awal 1448 H tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Jalan Permata Nomor 07 Graha Bunder Asri (GBA), Kebomas, Gresik. Kegiatan kali ini menghadirkan H. Qodiron Abdurrahim, M.Pd.I. sebagai pemateri.
Qodiron menyampaikan bahwa fitnah atau ujian di akhir zaman sangat berat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat keimanan seseorang menjadi sangat rentan.
“Hal ini dapat ditandai dalam tiga indicator, pertama maraknya gaya hidup hedonism, kedua semaraknya geombang permurtadan dan ketiga munculnya politik kotor yang banyak melahirkan pemimpin dholim” Ujarnya.
Mubaligh yang tergabung dalam Korps Mubaligh Muhammadiyah Sidoarjo itu kemudian mengupas ketiga indikator tersebut, yakni gaya hidup hedonisme, bermegah-megahan, serta memperturutkan hawa nafsu.
Ia menjelaskan, sejumlah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, maupun At-Tirmidzi memberikan peringatan mengenai berbagai fitnah yang dapat melemahkan keimanan, termasuk fitnah dunia, wanita, dan harta.
Dalam kajian tersebut, H. Qodiron Abdurrahim, M.Pd.I. juga menyampaikan kisah tentang bagaimana orang tua dapat menentukan masa depan keimanan putra-putrinya.
Sebuah riwayat mengisahkan Muqatil bin Sulaiman yang mengunjungi Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (95-158 H) pada hari pertama ia diangkat sebagai khalifah. Ia menggantikan Khalifah Abul Abbas As-Saffah.
Khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah tersebut kemudian meminta nasihat kepada Muqatil.
“Beri saya nasehat, wahai tuan guru.”
Muqatil bertanya, “Nasehat apa? Dari kejadian yang aku saksikan atau dari cerita yang aku dengar?”
Khalifah menjawab, “Tentu saja dari pengalaman yang anda saksikan sendiri.”
Muqatil kemudian menceritakan perbandingan kehidupan keluarga Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.
“Baiklah wahai Amirul Mukminin. Saya akan sedikit bercerita. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak. Ketika ia wafat meninggalkan warisan hanya 18 dinar. Itupun masih dikurangi 5 dinar untuk membeli kain kafan dan 4 dinar untuk membeli tanah makam. Sisanya 9 dinar dibagi kepada semua ahli warisnya. Sementara itu, Hisyam bin Abdul Malik, yang menjadi khalifah 4 tahun setelah Umar wafat, juga memiliki 11 anak. Ketika ia meninggal, tiap anaknya mendapat warisan 1 juta dinar. Sungguh, demi Allah, di satu hari yang sama aku menyaksikan sebuah ironi. Yaitu, salah satu putra Umar bin Abdul Aziz bersedekah 100 ekor unta untuk jihad fi sabilillah. Sedangkan salah satu putra Hisyam bin Abdul Malik mengemis di pasar.”
Dengan pertanyaan retoris, Ibn Sulaiman melanjutkan ceritanya.
“Lalu apa rahasianya? Ketahuilah, ketika Umar bin Abdul Aziz sekarat menjelang ajal, ia ditanya: ‘apa yang kau wariskan untuk anak-anakmu?’ Sang khalifah menjawab, ‘Aku wariskan takwa untuk mereka. Jika mereka menjadi orang-orang yang shalih, Allah akan menolong mereka. Andai mereka menjadi orang yang tidak baik, paling tidak aku tidak menyisakan warisan yg bisa mereka gunakan untuk bermaksiat.’”
Menurut Qodiron, kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak bukan sekadar harta, melainkan iman dan ketakwaan.
Sesungguhnya yang benar-benar akan menjadi milik kita hari ini dan nanti adalah harta yang pernah kita infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Sementara itu, yang kita tinggalkan akan dimiliki oleh anak cucu kita. Itupun kalau tidak dijadikan ajang rebutan di antara anak cucu.
Karenanya, orang boleh mewariskan harta yang berlimpah. Tetapi, jika anaknya tidak berilmu maka harta itu akan habis juga. Atau, meskipun berilmu tapi tidak kokoh imannya, maka harta itu akan digunakan untuk kemaksiatan di dunia sehingga tidak berkah dan akan cepat habis juga.
Maka, warisan terbaik untuk anak cucu tetaplah iman. Jika kaya, ia akan menggunakan kekayaannya dengan baik dan mengantarkannya ke surga. Jika miskin, ia akan tetap sabar dalam menjalankan hidupnya di jalan Allah.
Ustaz Qodiron menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menubuatkan bahwa pada masa mendekati kiamat, iman seseorang bisa berubah sangat cepat dalam sehari; pagi hari beriman, tetapi sore hari menjadi kafir, atau sebaliknya, demi mendapatkan materi duniawi.
Faktor pemicunya antara lain lemahnya ilmu agama, tersebarnya kebodohan, materialisme, serta syubhat atau keraguan dan syahwat yang mendominasi kehidupan manusia.
Ia kemudian mengungkapkan sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah yang menggambarkan fenomena “kemunduran moral akhir zaman”, ketika nilai-nilai kebenaran menjadi terbalik akibat sistem atau politik yang kotor.
“Akan datang kepada manusia suatu zaman penuh penipuan. Pada zaman itu, pembohong dibenarkan (dipercaya) dan orang yang jujur didustakan. Pengkhianat diberi amanat (kepercayaan) dan orang yang amanat dikhianati. Dan pada zaman itu, Ruwaibidhah ikut berbicara.”
Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh/kotor yang turut campur dalam urusan masyarakat luas (publik).”
Pengajian yang mengusung tagline “Mengokohkan Iman, Menguatkan Persaudaraan dalam Persyarikatan” tersebut diikuti seribuan jamaah Muhammadiyah dan Aisyiyah dari cabang dan ranting PDM Gresik.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Qodiron memberikan sejumlah cara untuk menjaga iman di tengah berbagai tantangan akhir zaman.
“Cara menjaga iman di akhir zaman dapat merujuk pada empat pilar keselamatan yang tercantum dalam Surat Al-‘Ashr agar terhindar dari kerugian” Ungkapnya.
Pertama, memiliki iman yang kokoh, dengan memperkuat akidah dan keyakinan kepada Allah SWT beserta ajaran Islam di tengah banyaknya fitnah dan kerancuan. Jamaah juga dianjurkan mempelajari ilmu agama yang benar dari sumber dan ulama terpercaya agar tidak mudah goyah.
Kedua, mengerjakan amal saleh. Ibadah wajib seperti shalat lima waktu perlu dijalankan dengan baik dan dilengkapi dengan memperbanyak amal sunnah. Amal saleh menjadi penguat keimanan agar terus meningkat dan tidak merosot.
Dalam Surah Ali Imran ayat 113-114 digambarkan amal saleh yang dapat dilakukan:
“golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat), mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan.”
Cara ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran. Jamaah diajak mengingatkan keluarga dan lingkungan sekitar agar senantiasa taat kepada aturan Allah. Media sosial dan sarana komunikasi juga dapat dimanfaatkan untuk berbagi kebaikan serta ilmu yang bermanfaat.
Keempat, saling menasihati dalam kesabaran. Hal ini dilakukan dengan bersabar dalam menjalankan ketaatan, menjauhi perbuatan dosa, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan di akhir zaman.
Selain itu, menjaga pergaulan dengan berkumpul bersama orang-orang saleh juga penting untuk menjaga stabilitas keimanan.





0 Tanggapan
Empty Comments