Pelajar perlu mempersiapkan diri tidak hanya dengan kemampuan intelektual, tetapi juga ketakwaan dan karakter yang kuat untuk menjadi pemimpin.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Pengajian Keliling Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 11 Surabaya, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut berlangsung di Masjid Al-Islamiyyah, Jalan Petemon Sidomulyo IV/113, Surabaya. Pengajian diikuti jajaran guru, karyawan, pengurus IPM, serta para pengurus kelas.
Mengusung tema “Menjadi Pemimpin Bertakwa Versi Rasulullah”, kegiatan menghadirkan mubalig Ahmad Mujaddid, S.H., M.Pd., Gr. sebagai penceramah.
Dalam tausiyahnya, Ahmad Mujaddid menjelaskan posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab besar di muka bumi. Ia mengaitkannya dengan Surah Al-Baqarah ayat 30:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
Ia juga menjelaskan fase kehidupan manusia sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 54:
“Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”
Menurut Ahmad Mujaddid, manusia memiliki keistimewaan berupa akal yang membedakannya dari makhluk lain. Hal tersebut juga ditegaskan dalam Surah At-Tin ayat 4:
“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
“Allah memberikan kelebihan istimewa yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal, manusia dapat membedakan mana yang baik dan benar serta mana yang bukan, sekaligus mampu memahami konsekuensi dari setiap perbuatannya,” tutur Ahmad Mujaddid.
Ia mencontohkan penggunaan akal melalui kesadaran menjalankan salat Subuh secara berjemaah di masjid. Menurutnya, manusia perlu memahami konsekuensi dari setiap amal agar terdorong untuk terus memperbaiki diri.
Di hadapan para pelajar dan pendidik, Ahmad Mujaddid juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda. Ia menyebut krisis identitas, kurangnya pendirian, kebiasaan menyia-nyiakan waktu, dan kurang mandiri sebagai sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan.
Fenomena mengikuti tren karena takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) juga menjadi sorotan.
“Di tengah teknologi yang makin maju, mentalitas anak-anak justru sering terkikis sehingga gampang galau. Bahkan kebiasaan pelajar saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk scrolling gadget daripada belajar online,” kritiknya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah dan tidak menunda-nunda pelaksanaan salat.
Menurut Ahmad Mujaddid, manusia memiliki empat potensi utama, yakni intelektual, spiritual, emosional, dan fisik. Keempatnya perlu dikembangkan agar melahirkan sosok pemimpin yang memiliki mental kuat, mampu berkomunikasi, berani memimpin, serta mampu membesarkan organisasi.
Namun, ia menilai masih terdapat fenomena yang ia sebut sebagai “mental stroberi”, yakni tampak menarik di luar tetapi rapuh di dalam.
Ahmad Mujaddid kemudian mengajak generasi muda membekali diri dengan takwa. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 197:
“Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Ia menegaskan bahwa takwa tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan salat lima waktu, tetapi juga tercermin dari pilihan seseorang ketika tidak ada orang lain yang melihat.
“Takwa itu juga diuji dari apa yang kamu klik ketika kamu sedang sendirian,” tegasnya.
Menurut Ahmad Mujaddid, terdapat tiga alasan mendasar seorang pemimpin perlu memiliki takwa. Pertama, muroqobah, yakni senantiasa merasa dekat dan diawasi Allah SWT.
Kedua, objektivitas, yaitu memiliki keadilan dan pandangan objektif dalam memimpin umat. Ketiga, uswatun hasanah, yakni kemampuan menjadi teladan yang baik sekaligus memiliki rasa malu untuk melakukan perbuatan buruk.
Sebagai langkah nyata, generasi muda didorong untuk memperdalam agama Islam, meningkatkan keterampilan, serta aktif melakukan dakwah kultural yang dapat diterima masyarakat luas.
Ahmad Mujaddid juga menyampaikan sejumlah prinsip kepada peserta agar berani mengambil peran dalam perubahan.
Menurutnya, generasi muda perlu melihat hal yang belum mampu dilihat orang lain, memikirkan hal yang belum mampu dipikirkan orang lain, bergerak lebih dahulu ketika orang lain masih menunggu, serta memberikan kontribusi luar biasa.
Ia juga mengajak pelajar untuk menjadi perintis, bukan sekadar pewaris.
“Menjadi generasi yang bertakwa adalah sebuah pilihan. Ingatlah, 100 pemuda yang diam akan tergerus oleh keberadaan 1 pemuda yang bergerak,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments