Pernahkah kita membayangkan, apa yang membuat seseorang begitu dimuliakan hingga setelah meninggal dunia?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengukur kehormatan dari jabatan, kekayaan, gelar akademik, atau banyaknya penghargaan yang pernah diraih. Seseorang dihormati karena kedudukannya.
Namanya dikenang karena prestasinya. Tidak sedikit pula yang merasa bangga karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Namun, Islam menawarkan ukuran kemuliaan yang berbeda. Salah satunya adalah kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an.
Ada sebuah peristiwa pada masa Rasulullah saw. yang memberikan gambaran begitu kuat tentang kedudukan orang yang menghafal Al-Qur’an. Bahkan, keutamaan itu terlihat ketika seseorang sudah tidak lagi bernyawa.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu, diriwayatkan: “Rasulullah saw. mengumpulkan dua orang syuhada Perang Uhud dalam satu kain. Kemudian beliau bertanya, ‘Siapakah di antara keduanya yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya?’ Ketika ditunjukkan salah satunya, beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke dalam liang lahat.” (HR. Abu Dawud No. 3211)
Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang tata cara pemakaman. Ada pesan penting mengenai ukuran kemuliaan manusia yang diajarkan Rasulullah saw.
Al-Qur’an Menjadi Ukuran Kemuliaan
Bayangkan suasana pemakaman para syuhada Uhud. Mereka adalah orang-orang yang telah mengorbankan jiwa demi mempertahankan agama Allah. Di tengah suasana duka itu, Rasulullah saw. memberikan perhatian khusus kepada mereka yang memiliki hafalan Al-Qur’an lebih banyak.
Beliau mendahulukan salah satunya dalam liang lahat.
Tindakan tersebut memperlihatkan penghormatan Rasulullah saw terhadap orang yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an.
Hafalan Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan mengingat rangkaian ayat, melainkan bagian dari ilmu dan kemuliaan yang patut dihargai.
Ada pelajaran menarik dari peristiwa ini. Ketika manusia sering sibuk mengejar pengakuan sesamanya, Rasulullah saw. justru menunjukkan ukuran keutamaan yang bersumber dari wahyu Allah.
Kemuliaan tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, keturunan, pangkat, atau jabatan. Kedekatan dengan Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dalam menilai keutamaan seorang mukmin.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)
Ayat ini menggambarkan orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupannya. Mereka tidak hanya membacanya, tetapi juga mengiringinya dengan ibadah dan kepedulian sosial.






0 Tanggapan
Empty Comments