Penulisan sejarah tokoh Muhammadiyah menjadi salah satu upaya penting untuk merawat jejak perjuangan para kader yang telah berkontribusi besar bagi dakwah dan kemajuan Persyarikatan.
Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Sang Maestro Historical Leadership 2026 yang digelar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) bersama Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Sabtu–Ahad (4–5/7/2026).
Sebanyak 45 peserta dari berbagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Jawa Timur mengikuti pelatihan yang bertujuan memperkuat kemampuan penelitian dan penulisan sejarah tokoh Muhammadiyah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi energi baru bagi para kader untuk terus menggali keteladanan para tokoh yang selama ini berjuang dengan penuh keikhlasan dalam membangun amal usaha, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan sosial di tengah masyarakat.
Ketua MPID PWM Jawa Timur, Dr. H. Aribowo, M.S., menyampaikan bahwa tingginya minat peserta menunjukkan penulisan sejarah masih memiliki daya tarik, khususnya di kalangan generasi muda Muhammadiyah.
Menurutnya, panitia menerima sekitar 80 pendaftar, namun hanya 45 peserta yang lolos seleksi mengikuti program tersebut.
“Melalui program ini akan dilatih bagaimana penulisan sejarah dan tehnik pengambilan datanya, sehingga hasil karya sejarah dapat menjadi bagian dari peradaban masa depan, maka teruslah berkarya, temukan keunikan dan perjuangan para tokoh dan warga Persyarikatan yang menginspirasi gerakan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MPKSDI PWM Jawa Timur, Dr. Phil. Mohammad Rokib, M.A., berharap kolaborasi kedua majelis dapat terus berlanjut agar semakin banyak tokoh Muhammadiyah yang terdokumentasikan.
“Ada banyak tokoh kita yang kehidupannya sederhana tetapi perannya begitu luar biasa dalam dakwah, seperti KH. Abdi Manaf dari Lumajang yang keilmuannya mendalam, familier dengan warga dan jamaah, atau tokoh tokoh lainnya,” jelasnya.
Selain mengikuti materi di kelas, peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke kawasan bersejarah Peneleh, Surabaya, termasuk Rumah HOS Tjokroaminoto dan Toko Buku Peneleh.
Dalam perjalanan, peserta mendapatkan penjelasan sejarah Muhammadiyah Surabaya dari Andi Hariyadi, Ketua MPID PDM Surabaya.
Ia menjelaskan hubungan perjuangan KH. Mas Mansur, dr. Soetomo, dan KH. Ahmad Dahlan dalam mengembangkan dakwah Muhammadiyah, khususnya di bidang kesehatan.
Andi juga mengisahkan berdirinya Balai Kesehatan Muhammadiyah pada 14 September 1924 yang kini berkembang menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Mas Mansur.
Di kawasan Peneleh, peserta juga mempelajari keterkaitan sejarah HOS Tjokroaminoto, KH. Ahmad Dahlan, KH. Mas Mansur, serta masa muda Soekarno yang pernah mengikuti tabligh KH. Ahmad Dahlan di Surabaya.
Usai kunjungan lapangan, peserta mengikuti materi penelitian sejarah yang disampaikan Prof. Dr. Sarkawi B. Husein dari Universitas Airlangga.
Ia menjelaskan metodologi penelitian sejarah, teknik pengumpulan sumber, hingga penyusunan proposal penelitian yang valid.
“Penelitian merupakan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan cara, kaidah, dan ketentuan ketentuan tertentu yang baku dan terkonvensi untuk menghasilkan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Menurut Prof. Sarkawi, terdapat lima komponen penting dalam penyusunan penelitian sejarah, yakni tujuan, konteks konseptual, pertanyaan penelitian, metode, dan validitas.
Diskusi berlangsung interaktif karena peserta turut berbagi pengalaman penelitian sejarah di daerah masing-masing.
Pada hari kedua, peserta memperoleh materi Menulis Biografi Tokoh Muhammadiyah yang disampaikan Prof. Dr. Purnawan Basundoro.
Ia menegaskan bahwa penulisan biografi harus berpijak pada fakta sejarah yang telah diverifikasi.
“Tulis apa yang dialami tokoh dan jangan menulis apa yang tidak pernah dilakukan, sesederhana pun tulislah. Hal ini bukan mengkultuskan tokoh sehingga dimitoskan.”
Menurutnya, biografi merupakan karya tulis mengenai perjalanan hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain dengan menampilkan latar belakang, pendidikan, perjuangan, serta nilai keteladanan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menjelang penutupan kegiatan, peserta menyusun rencana tindak lanjut agar target penulisan tokoh Muhammadiyah di daerah masing-masing dapat direalisasikan.
Sebagai penutup, panitia menyerahkan buku “Jejak Langkah Tokoh Muhammadiyah Surabaya: Meneladani Kiprah dan Dakwah 1921–2025” kepada narasumber dan perwakilan peserta sebagai inspirasi untuk terus melahirkan karya-karya sejarah Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments