Perbedaan kebutuhan pendidikan di enam sekolah Thailand Selatan mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyesuaikan program pengabdian dengan kondisi masing-masing mitra.
Selama KKN Internasional yang berlangsung pada 18 Juli hingga 12 Agustus 2026, mahasiswa UMM menghadirkan berbagai program, mulai dari pengembangan kepemimpinan, komunikasi, bahasa, hingga pertukaran budaya.
Ketua Kelompok KKN Internasional UMM, Salsabila Fitri, mengatakan setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa terlebih dahulu mempelajari kondisi mitra sebelum menentukan program yang dijalankan.
“Kami berusaha melihat kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah terlebih dahulu. Jadi, tidak serta-merta membawa program yang sudah jadi dari Indonesia,” ujar mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM tersebut.

Salah satu program menonjol berlangsung di Phattana Islam Wittaya School melalui komunitas YALORA.HUB.
Program tersebut dirancang untuk mengembangkan kepemimpinan, komunikasi, storytelling, kreativitas digital, dan pengenalan budaya.
Kegiatannya meliputi Leadership and Team Building, Public Speaking and Storytelling, Culture Exchange and Indonesian Culinary, Digital Creativity and Community Project, hingga persiapan dan presentasi proyek siswa.
Menurut Salsabila, salah satu perkembangan yang paling berkesan terlihat ketika siswa mulai berani menyampaikan cerita dan gagasannya.
Hal tersebut menjadi salah satu hasil yang diharapkan, yakni meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, berpikir kreatif, serta kemampuan mengembangkan ide menjadi sebuah proyek.
Mahasiswa juga menghadapi kebutuhan berbeda di Phadung Sil Wittaya School.
Program di sekolah tersebut diarahkan untuk memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan membantu siswa memikirkan rencana masa depan.
Kegiatan dilakukan melalui Coloring the Gunungan Wayang sebagai pengenalan simbol budaya Jawa, Future Planning: Dream Big, Work Hard untuk melatih siswa menyusun cita-cita dan strategi masa depan, serta English Magic Words sebagai pembiasaan komunikasi sederhana dalam bahasa Inggris.
Pembelajaran Bahasa Inggris juga dikemas secara interaktif agar siswa lebih mudah terlibat dalam proses belajar.
Selain itu, culture exchange diperkuat melalui kegiatan memasak makanan khas Indonesia, seperti nasi goreng dan jajanan sederhana. Siswa dilibatkan secara langsung dalam proses memasak sehingga pertukaran budaya berlangsung secara lebih interaktif.
“Kegiatan ini merupakan proses berbagi dua arah. Siswa Thailand tidak hanya mengenal budaya dan makanan Indonesia, tetapi juga memperkenalkan makanan lokal mereka. Mahasiswa juga menjelaskan makna budaya di balik hidangan, sehingga siswa dapat mengenal perbedaan, berkomunikasi aktif, serta belajar merancang cita-cita dan masa depan.”
Di empat sekolah lainnya, program juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mitra.
Lukmanulhakeem School mendapat pendampingan edukasi kesehatan, makanan sehat, pertolongan pertama, dan pembelajaran.
Di Asa Suladin Wittaya School, mahasiswa terlibat dalam penyusunan dan revisi kurikulum baru untuk kelas 1–3 SMP.
Sementara itu, Russamiesart Anusorn mendapat pendampingan Bahasa Inggris, class meeting, parade, dan perlombaan.
Adapun Sang Arun Wittaya mengembangkan majalah sekolah melalui kegiatan dokumentasi, wawancara, dan pengumpulan informasi.
Beragam program tersebut menunjukkan bahwa KKN Internasional UMM tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga menempatkan mahasiswa sebagai mitra yang perlu memahami kebutuhan masyarakat dan lembaga pendidikan setempat.
Menurut Salsabila, pengalaman tersebut turut mengembangkan kemampuan leadership, komunikasi lintas budaya, problem solving, teamwork, dan adaptability mahasiswa.
Ia berharap program yang telah dirintis dapat dilanjutkan mahasiswa pada periode berikutnya agar manfaatnya semakin berkelanjutan.
Apresiasi disampaikan Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus memberikan kontribusi sesuai kebutuhan mitra.
Salis mengapresiasi keberagaman kontribusi mahasiswa, mulai dari pendidikan, pengembangan kurikulum, literasi digital, kesehatan, hingga media sekolah.
Menurutnya, KKN Internasional tidak hanya menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi mitra lokal.
“Program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi positif bagi mitra lokal. Kami mengapresiasi semangat mahasiswa yang mampu hadir, beradaptasi, dan memberikan kontribusi sesuai kebutuhan mitra,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments