Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Ahmad Zahro Serukan Persatuan NU–Muhammadiyah, Dakwah Bukan Ajang Pertengkaran

Iklan Landscape Smamda
Prof Ahmad Zahro Serukan Persatuan NU–Muhammadiyah, Dakwah Bukan Ajang Pertengkaran
Guru Besar Ushul Fiqh UIN Sunan Ampel Surabaya Prof.Dr. Ahmad Zahro, MA menjadi penceramah dalam kajian Ahad pagi pekan ketiga di Masjid An Nur PDM Sidoarjo (Zulkifli/PWMU.CO)

Semangat ijtihad sebagai jembatan antara teks suci dan realitas kehidupan kembali ditegaskan dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidoarjo, Ahad (12/4/2026).

Dalam kajian bertema “Ijtihad Ulama : Jembatan antara Nas dan Realitas”, Prof. Dr. K.H. Ahmad Zahro, M.A mengajak umat Islam untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Pengajian yang dipandu Hizbullan Hatta, M.Pd (Mudhir MBS SMP Mulia Tulangan) itu menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan senantiasa berpijak pada Al-Qur’an dan Sunah. Namun, dinamika zaman menuntut hadirnya ijtihad ulama agar ajaran Islam tetap kontekstual dan relevan menjawab persoalan umat.

“Ijtihad menjadi instrumen penting untuk menjembatani antara nas yang bersifat tetap dengan realitas yang terus berubah,”ujar Hatta dalam pengantarnya.

Sosok Ulama Fikih yang Lintas Ormas

Dalam pengenalannya, Hatta menyampaikan bahwa Prof Ahmad Zahro merupakan guru besar fikih di UIN Sunan Ampel Surabaya, imam besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, serta pembina Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM). Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki pengalaman luas dalam kajian perbandingan mazhab dan kehidupan lintas organisasi Islam.

Mengawali ceramahnya, Prof Zahro menyampaikan penghormatan kepada jajaran PDM Sidoarjo serta mendoakan jamaah agar senantiasa diberi kesehatan, kelancaran rezeki, dan keselamatan dunia akhirat.

Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Muhammadiyah yang dinilainya terbuka dan egaliter.

“Ini Muhammadiyah luar biasa. Terbuka, egaliter. Saya ke mana-mana diundang Muhammadiyah, tanpa melihat latar belakang saya,”ujarnya.

Perbedaan Bukan Alasan Bertengkar

Dalam inti ceramahnya, Prof Zahro secara tegas mengajak umat Islam, khususnya dua ormas besar di Indonesia, untuk menjaga persatuan.

“Seharusnya NU dan Muhammadiyah hadir untuk berdakwah, bukan bertengkar,” tegasnya.

Ia mengibaratkan perbedaan seperti warna pakaian yang beragam, namun memiliki fungsi yang sama.

“Warna boleh berbeda-beda, ada putih, ada loreng. Tapi tujuannya sama, menutup aurat. Begitu juga dengan perbedaan dalam beragama, ”jelasnya.

Menurutnya, perbedaan dalam mazhab, metode penetapan ibadah, hingga tradisi keagamaan adalah hal yang wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu disikapi dengan sikap merasa paling benar.

“Jangan merasa benar sendiri, merasa paling lurus sendiri. Lurus boleh, tapi kalau menyalahkan yang lain, itu yang tidak benar,”tandasnya.

Pengalaman Merajut Ukhuwah

Sebagai mantan Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia, Prof Zahro mengaku telah berkeliling menemui puluhan organisasi Islam untuk mengajak persatuan.

“Saya temui sekitar 70 ormas. Saya ajak rukun. Muhammadiyah bagus, NU baik. Sudah, kita berdakwah saja, bukan bertengkar,”ungkapnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ia juga mencontohkan kehidupan keluarganya yang plural dalam organisasi keagamaan sebagai bukti bahwa perbedaan tidak menghalangi keharmonisan.

“Anak saya ada yang di Muhammadiyah, ada yang di NU. Besan saya rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Kami tetap rukun,”ujarnya.

Jangan Biarkan Umat Terpecah

Prof Zahro mengingatkan agar konflik internal umat Islam tidak dibesar-besarkan, apalagi dimanfaatkan oleh pihak luar.

“Jangan sampai konflik kita dibesar-besarkan oleh orang luar. Kita ini saudara,”pesannya.

Ia menegaskan bahwa persaudaraan umat Islam telah ditegaskan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10, bahwa sesama mukmin adalah saudara yang harus saling mendamaikan.

“Ini bukan sekadar teman atau tetangga, tapi saudara. Deklarasi langsung dari Allah,”ujarnya.

Ijtihad dan Kedewasaan Beragama

Dalam konteks perbedaan penentuan ibadah, seperti awal puasa dan hari raya, Prof Zahro menekankan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri dalam menentukan awal puasa berdasarkan ilmu falak yang ia kuasai, yang bisa saja berbeda dengan keputusan ormas tertentu.

“Panjenengan puasa 30 hari, saya 29 hari, ya tidak masalah. Semua punya dasar,” jelasnya.

Menurutnya, Muhammadiyah secara umum telah menunjukkan kedewasaan dalam beragama dengan tetap menghargai pandangan lain.

“Itu yang harus dijaga. Tidak merasa paling benar sendiri,” imbuhnya.

Menutup ceramahnya, Prof Ahmad Zahro kembali menegaskan pesan utama tentang pentingnya persatuan umat.

“Intinya, mari menjadi umat Islam yang rukun. Kita ini saudara. Innamal mu’minuna ikhwatun,”pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat kuat bahwa dakwah sejatinya adalah jalan untuk menyatukan, bukan memecah belah. Di tengah keragaman pemahaman, persatuan umat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan zaman. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 22/04/2026 11:17
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡