Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa pers dan literasi bukan sekadar pelengkap gerakan, melainkan bagian penting dari DNA Muhammadiyah.
Ketua MPI PP Muhammadiyah, Prof. Muchlas MT, mengatakan tradisi pers telah menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak organisasi ini berkembang. Muhammadiyah tidak hanya tumbuh melalui amal usaha dan kelembagaan, tetapi juga melalui gagasan yang disebarkan lewat pers dan literasi.
“Pers dan literasi Muhammadiyah berangkat dari sebuah kesadaran,” ujar Muchlas dalam Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (HC) Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod
Menurut Muchlas, kesadaran itu npenting karena Muhammadiyah merupakan organisasi besar yang dikelola dari tingkat pusat hingga daerah, termasuk melalui berbagai amal usaha dan media afiliasi.
Secara historis, tradisi tersebut telah berlangsung panjang. Salah satu tonggaknya adalah terbitnya Suara Muhammadiyah pada 1915, yang kemudian diikuti berbagai media Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Pers merupakan tradisi Muhammadiyah yang menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak berdiri. Muhammadiyah berkembang bukan hanya karena bertambah besar secara kelembagaan dan amal usaha, tetapi juga karena gagasan,” katanya.
Menurut Muchlas, literasi pada akhirnya menjadi bagian yang melekat dalam gerakan Muhammadiyah. Karena itu, sejak Agustus 2024, Muhammadiyah menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
Dia menegaskan, peringatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.
“Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap tradisi literasi Muhammadiyah,” ujarnya.
Muchlas menambahkan, tradisi literasi yang sehat membutuhkan pers yang sehat. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan ekosistem media, media afiliasi Muhammadiyah dituntut terus menjaga kualitas jurnalistik.
Tahun ini, semangat tersebut diwujudkan melalui Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3. Kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas, jejaring, sekaligus komitmen media-media Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam kesempatan yang sama, MPI juga menyerahkan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir.
Muchlas mengatakan, Haedar selama ini dikenal sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dan cendekiawan muslim. Namun, di balik dua peran tersebut, Haedar juga memiliki perjalanan panjang sebagai jurnalis.
Dia pernah aktif dalam dunia jurnalistik, termasuk di lingkungan Suara Muhammadiyah dan Republika.
Atas dedikasi panjang tersebut, MPI mengajukan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Dewan Pers. Pengajuan itu kemudian disetujui pada Maret 2026.
Menurut Muchlas, pemberian kartu tersebut bukan sekadar penghargaan personal. Lebih dari itu, kartu tersebut merupakan pengakuan atas konsistensi Haedar dalam dunia jurnalistik selama puluhan tahun.
“Ini merupakan pengakuan atas proses dan konsistensi beliau dalam dunia jurnalistik selama puluhan tahun,” katanya.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh media afiliasi Muhammadiyah untuk terus menjaga kualitas jurnalistik.
Media Muhammadiyah, kata Muchlas, harus mampu menghadirkan informasi yang akurat, jernih, santun dalam bahasa, sekaligus membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
“Semoga penghargaan ini menjadi inspirasi bagi media afiliasi Muhammadiyah untuk terus menghadirkan jurnalistik yang akurat, jernih, santun dalam bahasa, dan membawa kemaslahatan,” ujarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments