Momentum Iduladha dinilai tidak cukup dimaknai hanya sebagai ritual penyembelihan hewan kurban tahunan. Lebih dari itu, Iduladha harus menjadi gerakan sosial yang mampu mendorong kesejahteraan ekonomi umat dan memperkuat kepedulian terhadap masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., saat menjadi khatib Salat Iduladha 1447 Hijriah di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, Rabu (27/5/2026).
Menurut Prof. Dr. Nazaruddin Malik, keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menunjukkan makna pengabdian total kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui kesalehan spiritual sekaligus kepedulian sosial.
“Oleh sebab itu, Iduladha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” tegasnya.
Dalam khutbahnya, Nazaruddin Malik menjelaskan konsep Tauhid Rahmatiyah, yakni pemahaman tauhid yang tidak berhenti pada ritual ibadah semata, tetapi melahirkan energi sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan tauhid tidak hanya dilihat dari kuatnya pemahaman akidah seseorang, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
“Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial. Apakah manusia hidup lebih sejahtera,” ungkapnya.
Ia menilai semangat kurban seharusnya menjadi sarana pemerataan manfaat ekonomi, terutama jika pengelolaan dan distribusi daging dilakukan secara profesional dan amanah.
Selain membantu masyarakat yang membutuhkan, pelaksanaan kurban juga dinilai mampu memberdayakan peternak lokal dan menggerakkan ekonomi berbasis umat.
Prof. Dr. Nazaruddin Malik juga mengingatkan pentingnya distribusi daging kurban yang tepat sasaran. Menurutnya, panitia kurban perlu memastikan bantuan tidak hanya diberikan kepada mereka yang meminta, tetapi juga menjangkau masyarakat kurang mampu yang memilih menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta.
“Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan dengan adil,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa nilai pengorbanan dan kepedulian sosial tidak boleh berhenti setelah bulan Zulhijah berakhir. Semangat kurban seharusnya menjadi titik awal pembentukan karakter umat Islam yang jujur, peduli, dan memiliki komitmen terhadap penguatan ekonomi halal serta pelayanan kepada kaum duafa.
Menurutnya, ibadah kurban memiliki makna sosial yang luas karena mengajarkan solidaritas, pemerataan kesejahteraan, dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari implementasi nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari.





0 Tanggapan
Empty Comments