Suasana haru menyelimuti tenda jamaah KBIHU Jabal Nur Kloter 116 Embarkasi Surabaya saat pelaksanaan khutbah wukuf di Padang Arafah, Senin (26/5/2026) atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Bertindak sebagai khatib, pembimbing sekaligus Amirul Hajj KBIHU Jabal Nur, Ustadz Tamami, menyampaikan khutbah yang menggugah tentang hakikat manusia di hadapan Allah.
“Di Arafah ini tidak ada profesor, tidak ada jenderal, tidak ada orang kaya. Semua sama. Semua hanyalah hamba Allah yang miskin dan membutuhkan pertolongan-Nya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa Padang Arafah menjadi tempat manusia menanggalkan seluruh atribut dunia. Semua jamaah mengenakan pakaian ihram putih yang menyerupai kain kafan.
“Yang membedakan hanyalah takwanya,” tegasnya.
Dalam khutbahnya, Ustadz Tamami mengajak jamaah meneladani perjalanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail Alaihissalam yang penuh keyakinan dan pengorbanan.
Ia menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus Makkah tanpa tanaman, tanpa air, dan tanpa kehidupan.
Namun Siti Hajar tetap yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
“Ketika bekal habis dan tidak ada pertolongan, Siti Hajar terus berlari antara Shafa dan Marwah. Beliau yakin Allah pasti menolong. Dan akhirnya Allah menghadirkan air zamzam dari hentakan kaki Nabi Ismail,” jelasnya.
Menurutnya, kisah itu menjadi pelajaran besar tentang tawakal dan keyakinan kepada Allah.
“Tidak ada perintah Allah yang buruk. Semua pasti mengandung kebaikan walaupun terasa berat,” katanya.
Ustadz Tamami juga mengingatkan bahwa pelaksanaan haji merupakan latihan mengenal diri sendiri sebagai hamba yang lemah.
“Hari ini kita sadar bahwa kita hanyalah calon mayit. Semua akan kembali kepada Allah,” ujarnya.
Suasana tenda beberapa kali dipenuhi isak tangis jamaah, terutama ketika khatib mengajak seluruh pasangan suami-istri untuk saling meminta maaf.
“Wahai suami, mintalah maaf kepada istrimu. Wahai istri, mintalah maaf kepada suamimu. Karena mungkin selama hidup masih banyak kesalahan yang belum tersampaikan,” ucapnya.
Jamaah tampak saling menggenggam tangan, menangis, dan berpelukan.
Dalam khutbahnya, Ustadz Tamami juga menekankan pentingnya menjaga tauhid dan menjauhi syirik.
Ia mengingatkan bahwa talbiyah yang terus diucapkan jamaah merupakan bentuk penghambaan total kepada Allah.
_Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik_
“Kalimat itu adalah pernyataan iman tertinggi. Bahwa tidak ada sekutu bagi Allah,” katanya.
Menjelang akhir khutbah, Ustadz Tamami mengajak jamaah memanfaatkan waktu wukuf sebaik-baiknya karena hari Arafah merupakan waktu pembebasan dosa dan pembukaan pintu ampunan Allah.
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah,” ujarnya.
Ia berharap seluruh jamaah pulang membawa perubahan diri, meninggalkan dosa, menjauhi suudzon, memperbanyak tolong-menolong, serta menjadi haji yang mabrur.
“Semoga kita pulang bukan hanya membawa gelar haji, tetapi membawa hati yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments