Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Respon Pakar Kesehatan Umsura Soal Usulan Bangun SPPG MBG di Kampus

Iklan Landscape Smamda
Respon Pakar Kesehatan Umsura Soal Usulan Bangun SPPG MBG di Kampus
Foto: Maulana Sirya/Antara.
pwmu.co -

Usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, agar setiap kampus memiliki minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menuai beragam tanggapan.

Gagasan ini dinilai sebagai upaya memperkuat program peningkatan gizi nasional, termasuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, kalangan akademisi mengingatkan agar keterlibatan perguruan tinggi tetap berada pada koridor fungsi utamanya.

Kampus Harus Membumi dan Berdampak

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr Dede Nasrullah, menegaskan bahwa kampus seharusnya tidak bergeser menjadi pelaksana teknis layanan gizi seperti dapur SPPG.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki mandat utama sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

“Kampus harus membumi dan berdampak terhadap ilmu pengetahuan—dikenal melalui riset unggulan, kebijakan berbasis data, dan inovasi strategis. Bukan karena keberhasilannya mengelola teknis dapur dan distribusi makanan” ujarnya, Senin (04/05/2026).

Dede mendukung keterlibatan kampus dalam program SPPG. Namun, ia menekankan bahwa peran tersebut harus memiliki nilai akademik yang jelas dan terukur.

Menurutnya, fasilitas SPPG justru dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran dan pusat riset pangan.

Kampus dapat berkontribusi dalam pengembangan inovasi olahan makanan berbasis potensi lokal, peningkatan kualitas distribusi gizi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Misalnya, SPPG bisa dijadikan laboratorium hidup untuk riset pangan lokal, pengembangan teknologi pengolahan makanan, serta model distribusi gizi berbasis komunitas. Di situ ada nilai akademik yang kuat” jelasnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Kontribusi Perguruan Tinggi

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya batas yang tegas antara peran kampus dan fungsi operasional SPPG. Tanpa pembagian yang jelas, dikhawatirkan kampus justru kehilangan arah dan identitasnya.

“Jika kampus turut terlibat dalam pengelolaan aspek teknis seperti operasional MBG, maka perannya akan sulit dibedakan dari lembaga pelaksana. Padahal, kampus seharusnya berfungsi sebagai pusat pemikiran dan inovasi” tegasnya.

Dede juga mendorong agar kontribusi perguruan tinggi diarahkan pada riset-riset strategis yang dapat memperkuat kebijakan gizi nasional.

Di antaranya adalah penelitian terkait status gizi masyarakat, evaluasi dampak program MBG, hingga desain model penyediaan pangan berbasis petani lokal.

Riset tentang dampak MBG, desain menu berbasis kearifan lokal, hingga model rantai pasok yang melibatkan petani lokal itu yang seharusnya menjadi fokus kampus” tambahnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis riset akan memberikan kontribusi jangka panjang yang lebih signifikan dibanding keterlibatan dalam aspek teknis operasional.

Ia pun menegaskan bahwa dukungan kampus terhadap program prioritas pemerintah, termasuk MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, tetap penting. Namun, bentuk dukungan tersebut harus sesuai dengan kapasitas dan peran strategis perguruan tinggi.

“Kampus tetap harus fokus pada riset dan inovasi untuk mendukung keberhasilan program MBG, bukan terlibat langsung dalam urusan teknis operasional” pungkas Dede.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 04/05/2026 13:51
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡