Komunitas Gowesmu binaan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Surabaya kembali menggelar rihlah dakwah dengan mengunjungi Langgar Gipo dan Masjid Taqwa Surabaya, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang bersepeda bersama, tetapi juga memperkuat ukhuwah sekaligus menelusuri jejak perjuangan tokoh-tokoh besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Pahlawan.
Sebanyak sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan yang dimulai dari Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya di Jalan Wuni Nomor 9.
Koordinator Gowesmu Surabaya, Abdillah Rosyidin, mengatakan komunitas Gowesmu hadir bukan hanya untuk menikmati suasana jalanan Surabaya, tetapi juga sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah melalui keteladanan dan etika berlalu lintas.
Menurutnya, kegiatan bersepeda menjadi media untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan dari masjid ke masjid sekaligus memperkuat persaudaraan antarkader.
“Aktivitas Gowesmu Surabaya pada sore hari ini begitu spesial karena tidak sekadar mengayuh pedal sepeda menyusuri Surabaya, tetapi kita juga belajar dari para tokoh perjuangan di Surabaya, khususnya kawasan Ampel yang begitu menginspirasi generasi muda untuk tetap semangat berkarya dan merajut ukhuwah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persiapan kegiatan dilakukan hanya dalam hitungan hari oleh kader-kader muda Muhammadiyah. Awalnya peserta yang mengonfirmasi kehadiran sekitar 25 orang, namun menjelang keberangkatan jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 45 peserta.
Peserta berasal dari berbagai cabang Muhammadiyah di Surabaya, seperti Mulyorejo, Gubeng, Wonokromo, Wiyung, dan Sukomanunggal, bahkan ada yang datang dari Tropodo, Sidoarjo.
Menjelang Magrib, rombongan tiba di Langgar Gipo dan disambut hangat oleh para pengurus, di antaranya Ust. Abdan Fikri, cucu KH Mas Mansur, serta Agus Rosyidi, cucu menantu KH Mas Mansur.
Di lokasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah perjuangan KH Hasan Gipo dan KH Mas Mansur melalui koleksi foto serta dokumentasi yang tersimpan di museum lantai dua.
Peserta juga diajak memahami hubungan kekeluargaan antara KH Hasan Gipo, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), dan KH Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah, sebagai teladan persaudaraan lintas organisasi Islam.
Usai Salat Magrib berjamaah, peserta mengikuti pemaparan sejarah perjuangan kedua tokoh tersebut yang disampaikan sejarawan muda NU Surabaya, Ust. Asrul.
Menjelang Salat Isya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Taqwa yang berjarak sekitar 200 meter dari Langgar Gipo.
Setelah Salat Isya berjamaah, peserta bersilaturahmi dengan jamaah masjid sebelum mengikuti sesi diskusi sejarah di ruang kelas SD Mufidah yang berada di lantai dua kompleks masjid.
Ketua Yayasan KH Mas Mansur, Agus Rosyidi, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme kader muda Muhammadiyah yang mengikuti kegiatan tersebut.
“Dan ke depan kami berharap muncul kader Muhammadiyah untuk meneruskan Perjuangan KH Mas Mansur serta menggali pemikiran pemikiran KH Mas Mansur untuk memperluas dakwah dan aksi nyata,” jelasnya.
Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya, Andi Hariyadi, menjelaskan bahwa Masjid Taqwa memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan Muhammadiyah Surabaya.
Menurutnya, setelah dilantik langsung oleh KH Ahmad Dahlan pada 1 November 1921 sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya, KH Mas Mansur mengembangkan berbagai amal usaha, mulai dari masjid, sekolah hingga layanan kesehatan yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Muhammadiyah Mas Mansur Surabaya.
Andi juga mengisahkan perjuangan KH Mas Mansur bersama para kader dalam mempertahankan keberlangsungan amal usaha Muhammadiyah, termasuk lahirnya semangat Wali Rongpoloh sebagai gerakan bersama untuk memperkuat dakwah dan amal usaha.
“Keteladanan Wali Rongpoloh ini begitu menginspirasi gerakan dakwah generasi sebagai kader Muhammadiyah untuk penguatan dan pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah. Dan saat ini peserta Gowesmu hendaknya mampu bergerak dalam dakwah nyata melalui Persyarikatan Muhammadiyah,” pintanya.
Melalui rihlah sejarah tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman bersepeda bersama, tetapi juga memperdalam pemahaman mengenai nilai perjuangan, persaudaraan, dan semangat dakwah yang diwariskan para tokoh Muhammadiyah dan NU di Surabaya.





0 Tanggapan
Empty Comments