Komitmen penguatan tata kelola dan pelayanan kesehatan Muhammadiyah menjadi fokus dalam Safari Pembinaan Pimpinan dan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Kesehatan se-Kabupaten Banyuwangi yang digelar pada Sabtu (20/6/2026), bertepatan dengan 5 Muharam 1448 Hijriah.
Kegiatan yang diikuti pimpinan Muhammadiyah, pengelola rumah sakit, klinik, serta tenaga kesehatan Muhammadiyah di Kabupaten Banyuwangi tersebut menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Kesehatan, Dr. dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., sebagai narasumber utama.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PDM Banyuwangi, Direktur RSI Fatimah Banyuwangi beserta jajaran, PCM Rogojampi beserta jajaran, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi beserta unsur manajemen, PCM Muncar beserta jajaran, Direktur Klinik Khadijah Muncar beserta staf, PCM Kalibaru beserta jajaran, Direktur Klinik PKU Muhammadiyah Sumbergondo Kalibaru, serta unsur pelayanan kesehatan Muhammadiyah lainnya di Banyuwangi.
Pada sesi sambutan, Drs. Sunarto, M.Pd., menyampaikan pentingnya kesiapan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah bidang kesehatan dalam menghadapi perubahan regulasi yang berkembang cepat. Menurutnya, salah satu regulasi yang perlu menjadi perhatian adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit Berbasis Kompetensi yang akan menjadi landasan tata kelola rumah sakit pada masa mendatang.
Sunarto menilai perubahan regulasi harus disikapi dengan kesiapan dan semangat untuk terus belajar. Ia berharap rumah sakit Muhammadiyah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang dan meningkatkan kualitas pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sesi utama kegiatan diisi dengan pembinaan oleh Dr. Agus Taufiqurrohman. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah tidak hanya berkaitan dengan profesionalisme, tetapi juga bagian dari ibadah dan dakwah yang harus dilandasi keikhlasan.
“Bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah harus dilandasi nilai keikhlasan. Ketika diberikan amanah, maka kerjakan dengan sungguh-sungguh, penuh semangat, dan jangan mudah mengeluh. Berusahalah memberikan hasil yang terbaik. Jangan selalu menonjolkan diri ketika berprestasi, karena semua yang kita kerjakan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT,” pesannya.
Selain menekankan pentingnya keikhlasan, Agus juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan kompetensi tenaga kesehatan. Menurutnya, sikap, akhlak, empati, serta kemampuan berkomunikasi dengan pasien dan keluarga turut menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan.
Dalam pembahasannya mengenai tantangan sektor kesehatan, Agus menjelaskan bahwa perubahan regulasi berlangsung secara dinamis sehingga rumah sakit dituntut untuk terus beradaptasi. Ia menyoroti Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 yang masih berada dalam masa transisi selama sekitar dua tahun dan perlu dimanfaatkan untuk melakukan berbagai persiapan strategis.
“Saat ini perubahan sangat cepat. Regulasi rumah sakit berubah dari waktu ke waktu. PMK Nomor 6 Tahun 2026 masih memiliki waktu transisi sekitar dua tahun lagi. Ini harus kita persiapkan mulai sekarang. Jika rumah sakit tidak mampu mengikuti perubahan, maka rumah sakit bisa menjadi sakit, bahkan berpotensi mengalami kolaps dan akhirnya ditutup,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengelola rumah sakit Muhammadiyah memperkuat kompetensi kelembagaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memenuhi kebutuhan sarana dan alat kesehatan agar mampu mengikuti perkembangan regulasi dan tuntutan pelayanan kesehatan.
Agus juga menyoroti perubahan ekspektasi masyarakat terhadap layanan rumah sakit. Menurutnya, pasien saat ini tidak hanya membutuhkan layanan medis yang baik, tetapi juga pelayanan yang cepat, mudah, dan nyaman sejak pertama kali datang hingga selesai menjalani perawatan.
“Masyarakat datang ke rumah sakit dengan harapan ingin cepat sembuh, cepat dilayani, biaya yang terjangkau, serta mendapatkan kenyamanan sejak pertama kali datang hingga pulang kembali ke rumah. Semua proses pelayanan harus dipermudah dan jangan sampai menyulitkan pasien maupun keluarganya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai budaya keramahan, kecepatan pelayanan, dan kepedulian terhadap pasien perlu menjadi bagian dari budaya organisasi rumah sakit Muhammadiyah. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi komunikasi sebagai sarana edukasi kesehatan, pengingat kontrol, serta penyampaian informasi kepada pasien secara berkelanjutan.
Safari pembinaan tersebut menjadi forum penguatan kapasitas bagi pimpinan, pengelola, dan tenaga kesehatan Muhammadiyah di Banyuwangi dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan dan perubahan regulasi yang terus berkembang.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pembaruan informasi terkait kebijakan kesehatan, tata kelola rumah sakit, serta penguatan nilai-nilai pelayanan yang menjadi ciri khas Amal Usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments