Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Masjid Remaja Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran menggelar Kajian Ahad Pagi Spesial dengan menghadirkan tokoh nasional sekaligus Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, Prof. KH. Din Syamsuddin, Ahad (7/6/2026).
Kajian yang mengangkat tema Membangun Karakter Muslim Sejati tersebut diikuti jamaah masjid dan warga Muhammadiyah se-Cabang Kenjeran. Suasana berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi dari peserta yang hadir.
Dalam tausiyahnya, Prof. Din Syamsuddin menegaskan pentingnya memakmurkan masjid dan mengoptimalkan fungsinya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, kebudayaan, pemberdayaan ekonomi umat, pembinaan masyarakat, hingga ruang pembahasan persoalan kebangsaan.
“Masjid harus memberikan manfaat yang luas bagi umat. Di masa Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban yang membangun masyarakat secara utuh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masjid harus terbuka bagi seluruh umat Islam tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun kelompok tertentu. Menurutnya, masjid harus menjadi sarana pemersatu umat sebagaimana fungsi Masjid Quba yang dibangun Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah.
Mengutip pandangan Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Din menyampaikan bahwa umat Islam merupakan ummatan wahidah atau umat yang satu karena memiliki kiblat yang sama. Karena itu, umat Islam tidak boleh terjebak dalam perpecahan yang disebabkan oleh berbagai kepentingan.
“Kita jangan sampai diadu domba antara Islam Arab dan Persia ataupun oleh berbagai kepentingan yang memanfaatkan perbedaan untuk memecah umat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Din juga menyoroti keberadaan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia. Menurutnya, organisasi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan dakwah yang sama, yakni mewujudkan kemuliaan Islam dan kemaslahatan umat.
“Ormas adalah alat, bukan tujuan. Kita boleh fanatik sebagai identitas organisasi, tetapi harus tetap simpatik dan tidak mencela organisasi lain. Semua memiliki tujuan yang sama, yakni dakwah untuk kemaslahatan umat,” jelasnya.
Prof. Din mengajak jamaah menjadi bagian dari ummatan wasathan atau umat pertengahan yang memiliki tujuh karakter utama.
Karakter tersebut meliputi Al-I’tidal atau berlaku adil, At-Tawazun menjaga keseimbangan hidup, At-Tasamuh menjunjung toleransi, Tawassuth bersikap moderat, Musawah menjunjung persamaan derajat manusia, Syura mengedepankan musyawarah, dan Islah yang berarti terus melakukan perbaikan serta pembaruan.
Menurutnya, kerukunan umat harus dibangun secara tulus dan tidak berhenti pada simbol atau formalitas semata. Perbedaan pandangan, termasuk dalam penetapan awal bulan hijriah, tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan karena masing-masing memiliki dasar dan metode yang diyakini.
Pada bagian akhir kajian, Prof. Din mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun hijriah sebagai momentum introspeksi diri dan evaluasi kehidupan.
Ia mengutip sebuah hikmah yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang sama dengan kemarin adalah orang yang merugi, sedangkan orang yang lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama dalam membentuk generasi masa depan yang tangguh dan berkarakter.
“Jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi rebahan yang hanya sibuk dengan gawai, malas, dan sekadar menikmati hidup. Jadilah generasi perubahan yang siap membangun masa depan bangsa dan umat,” pesannya.
Prof. Din juga mengingatkan masyarakat agar menghindari pragmatisme politik, materialisme politik, dan oportunisme politik yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Ia mengajak umat Islam menjadikan keluarga sebagai tempat melakukan muhasabah dan muraqabah untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Kajian Ahad Pagi Spesial ini menjadi momentum memperkuat karakter Muslim sejati, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat peradaban yang memberikan manfaat luas bagi umat dan masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments