Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sejarawan Apresiasi Gerakan Muhammadiyah Jatim Melacak Jejak Sejarah

Iklan Landscape Smamda
Sejarawan Apresiasi Gerakan Muhammadiyah Jatim Melacak Jejak Sejarah
Kuncarsono Prasetyo saat memandu jelajah sejarah yang diadakan Lazismu Jatim. Foto: Dok/PWMU.CO
pwmu.co -

Sejarawan Kuncarsono Prasetyo mengapresiasi gerakan Muhammadiyah Jawa Timur yang aktif menelusuri dan merawat jejak sejarah Muhammadiyah. Menurut dia, langkah tersebut memiliki arti penting dan strategis karena tidak hanya mengenalkan kembali sejarah kepada generasi sekarang, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk memahami akar sebuah peradaban.

“Gerakan seperti ini sangat penting dan strategis sebagai upaya merawat dan menelusuri akar dari sebuah peradaban,” ujar Kuncarsono kepada PWMU.CO, Sabtu (12/9/2026).

Kuncarsono mengaku sudah lama mengamati kader-kader Muhammadiyah yang memiliki perhatian terhadap sejarah. Terutama yang dilakukan Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalsasi (MPID) PWM Jawa Timur.

Menurut dia, perhatian tersebut semakin penting ketika diwujudkan dalam gerakan nyata untuk menelusuri, mendokumentasikan, dan mengenalkan kembali jejak sejarah Muhammadiyah kepada generasi sekarang.

“Saya melihat ada kader-kader Muhammadiyah yang concern terhadap sejarah. Ini sesuatu yang sangat positif. Sebab, sebuah gerakan tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya,” ujar Co-Founder Begandring Soerabaia itu.

Dia lalu menegaskan, sejarah tidak semestinya hanya dipahami sebagai catatan tentang masa lalu. Sejarah juga tersimpan dalam ruang-ruang yang pernah menjadi tempat berlangsungnya sebuah peristiwa.

Karena itu, menelusuri jejak sejarah secara langsung dapat membantu generasi sekarang memahami bagaimana sebuah gerakan tumbuh dan berkembang.

Kuncarsono menyebut sedikitnya ada tiga alasan yang membuat gerakan pelacakan sejarah seperti yang dilakukan Muhammadiyah Jawa Timur menjadi penting.

Pertama, sejarah membantu sebuah gerakan mengenali akarnya. Setiap gerakan memiliki perjalanan. Ada gagasan yang melahirkannya, tokoh yang menggerakkannya, tempat yang menjadi titik pertumbuhannya, serta berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan tersebut.

Begitu pula dengan Muhammadiyah. Perkembangan gerakan Muhammadiyah di Jawa Timur tidak berdiri sendiri. Ada jejak panjang yang tersebar di berbagai kota dan kawasan. Masjid, sekolah, rumah tokoh, gedung persyarikatan, hingga kampung-kampung tertentu menyimpan cerita tentang bagaimana dakwah Muhammadiyah berkembang.

“Kalau kita ingin memahami sebuah gerakan, kita harus mengetahui akarnya. Dari mana ia tumbuh, siapa yang menggerakkan, dan bagaimana prosesnya,” kata Kuncarsono.

Kedua, pelacakan sejarah menjadi cara merawat ingatan kolektif. Perubahan zaman membuat banyak jejak sejarah terancam hilang. Bangunan berubah, kawasan berkembang, bahkan sebagian tokoh dan pelaku sejarah telah tiada.

Dalam kondisi seperti itu, penelusuran sejarah menjadi penting. Ia bukan hanya mencari apa yang tersisa dari masa lalu, tetapi juga mendokumentasikan ingatan sebelum benar-benar hilang.

“Yang kita rawat bukan hanya tempatnya, tetapi juga ingatannya. Karena ketika ingatan hilang, kita kehilangan bagian penting dari perjalanan kita,” ujar jurnalis senior yang telah mendapat banyak perhargaan jurnalistik tingkat nasional itu.

SMPM 5 Pucang SBY

Kata dia, kegiatan berjalan menyusuri kawasan bersejarah memiliki kelebihan tersendiri. Peserta tidak hanya mendapatkan informasi melalui tulisan, tetapi dapat melihat langsung ruang tempat sebuah sejarah berlangsung.

Dengan demikian, sejarah menjadi lebih dekat. Generasi muda dapat melihat bahwa cerita tentang Muhammadiyah bukan sesuatu yang jauh dan abstrak.

Sejarah itu pernah berlangsung di jalan yang mereka lewati, di kampung yang mereka datangi, di masjid tempat masyarakat beribadah, atau di bangunan yang masih berdiri hingga sekarang.

Ketiga, sejarah dapat menjadi pijakan untuk menatap masa depan.

Kuncarsono mengingatkan agar kegiatan pelacakan sejarah tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Nilai terpenting dari sejarah justru terletak pada pelajaran yang dapat diambil untuk kehidupan hari ini dan masa depan.

“Sejarah bukan untuk membuat kita berhenti di masa lalu. Sejarah harus menjadi pijakan untuk melihat masa depan,” tuturnya.

Dari jejak perjalanan Muhammadiyah, generasi sekarang dapat belajar tentang bagaimana sebuah gagasan diperjuangkan, bagaimana organisasi dibangun, bagaimana para pendahulu menghadapi keterbatasan, serta bagaimana nilai-nilai gerakan dipertahankan dalam perubahan zaman.

Karena itu, Kuncarsono menilai gerakan Muhammadiyah Jawa Timur melacak jejak sejarah memiliki nilai strategis. Kegiatan tersebut mempertemukan sejarah dengan generasi baru.

Sejarah tidak hanya berada di buku. Ia berada di ruang-ruang kehidupan.

Ketika ruang itu kembali didatangi, kisah yang pernah berlangsung di dalamnya dapat diceritakan kembali. Ketika kisah itu dicatat, ingatan kolektif dapat dirawat. Dan ketika generasi muda mempelajarinya, sejarah dapat menjadi bekal untuk melanjutkan perjalanan.

“Pada akhirnya, kita tidak hanya sedang melihat ke belakang. Kita sedang mencari pijakan untuk melangkah ke depan,” kata Kuncarsono. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/09/2026 09:26
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu