Kesiapan satuan pendidikan dalam melanjutkan pembelajaran pascabencana di wilayah Sumatra menunjukkan perkembangan positif. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan menjadi fondasi utama dalam memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat segera pulih dan berjalan optimal.
Dukungan diberikan melalui penyediaan fasilitas darurat, pemulihan infrastruktur, serta pendampingan bagi guru dan siswa. Satuan pendidikan di wilayah terdampak juga menunjukkan kemampuan adaptif dalam menghadapi situasi darurat, mulai dari penyelenggaraan pembelajaran di ruang sementara hingga penyesuaian metode belajar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) SD Negeri 158498 Aek Tolang, Sumatra Utara, Hayati, menyampaikan bahwa pembelajaran telah kembali berjalan normal sejak Januari 2026.
“Sekolah kami sempat melaksanakan pembelajaran di tenda darurat pada Desember 2025. Namun sejak Januari 2026, KBM sudah berjalan seperti biasa di sekolah,” ujarnya, Jumat (27/3).
Dalam pelaksanaannya, sekolah juga menerapkan pembelajaran adaptif dengan menyesuaikan kurikulum secara mandiri. Asesmen dilakukan secara fleksibel dengan mengacu pada petunjuk teknis pembelajaran untuk satuan pendidikan terdampak bencana dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Selain itu, dukungan pemerintah turut memperkuat proses pemulihan. Bantuan diberikan dalam bentuk dana kebersihan lingkungan sekolah serta kebutuhan siswa seperti seragam.
SDN 158498 Aek Tolang juga mendapatkan dukungan lanjutan melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan berupa pembangunan dua ruang kelas baru, toilet, serta penataan lingkungan sekolah.
Di Sumatra Barat, kesiapan serupa ditunjukkan oleh SMAN 1 Batang Anai. Kepala sekolah Zulbaidah menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran tetap berlangsung meskipun dalam kondisi pascabencana.
Sebanyak 10 rombongan belajar (rombel) saat ini menempati Asrama Haji Kabupaten Padang Pariaman, sementara sebagian lainnya belajar di tenda darurat yang difasilitasi oleh Kemendikdasmen.
Dalam proses pembelajaran, sekolah melakukan penyesuaian dengan mengurangi durasi waktu belajar dan memfokuskan pada materi esensial. Pembelajaran mengacu pada panduan dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar) Kemendikdasmen.
Dukungan pemerintah pusat dan daerah juga terus mengalir, mulai dari bantuan biaya normalisasi, distribusi bantuan bagi siswa, layanan trauma healing, hingga penyediaan tenda darurat. Pemerintah daerah turut membantu melalui normalisasi menggunakan alat berat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta penyediaan lokasi pembelajaran sementara.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi dalam kondisi apa pun.
“Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan dalam situasi bencana sekalipun. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bergerak cepat memastikan anak-anak tetap belajar dengan aman, nyaman, dan bermakna. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya memulihkan fasilitas, tetapi juga memulihkan harapan dan semangat belajar peserta didik,” ujarnya.
Upaya kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, dan satuan pendidikan ini menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di tengah situasi bencana.





0 Tanggapan
Empty Comments