Sebuah seragam pencak silat milik sang ayah menjadi bagian dari perjuangan Arsyta Salsabila Irawan meraih prestasi. Siswi kelas VI SD Muhammadiyah 14 Surabaya itu mengenakan seragam lama sang ayah saat bertanding dalam Surabaya Championship II Tahun 2026.
Kejuaraan pencak silat tersebut berlangsung di GOR Hayam Wuruk, Kompleks Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Sabtu-Minggu (12-13/9/2026). Arsyta berhasil meraih Juara II Tanding Kelas N Putri Usia Dini.
Prestasi tersebut diraih Arsyta di tengah kesibukannya mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sebagai siswa kelas VI, ia harus membagi waktu antara kegiatan akademik di sekolah, persiapan TKA, dan latihan pencak silat.
Kesempatan mengikuti kejuaraan tersebut sebenarnya tidak datang sebagai sebuah paksaan dari orang tua. Mereka memahami bahwa Arsyta yang duduk di kelas VI memiliki banyak persiapan akademik yang harus dijalani.
Namun, ketika ditawari untuk mengikuti pertandingan, Arsyta justru langsung menyatakan kesediaannya.
Keinginan untuk tetap berprestasi membuat Arsyta berusaha menjalani keduanya. Jadwal latihan pencak silat harus disesuaikan dengan agenda belajar dan persiapan TKA.
Lawan yang dihadapi pun tidak mudah. Meski demikian, Arsyta tetap berusaha memberikan kemampuan terbaiknya hingga mampu melaju ke babak final.
Tim pelatih juga memahami kondisi siswa kelas akhir yang harus lebih banyak berkonsentrasi pada persiapan akademik. Karena itu, latihan tidak diberikan secara berlebihan.
“Kami menyadari bahwa siswa-siswa yang saat ini berada di kelas akhir masing-masing jenjang, tidak terlalu kami paksa untuk berlatih. Karena prestasi akademik juga diperlukan selain prestasi nonakademik seperti pertandingan pencak silat saat ini,” ujar M. Febrianto, salah satu tim pelatih.
Ada cerita menarik di balik perjuangan Arsyta dalam kejuaraan tersebut. Seragam yang dikenakannya bukan seragam baru. Seragam itu merupakan milik sang ayah yang dahulu digunakan untuk bertanding.
Seragam tersebut kemudian dikenakan Arsyta saat turun ke arena. Seolah meneruskan semangat sang ayah, ia berjuang melewati setiap pertandingan hingga mencapai babak final.
Namun, ada bagian dari seragam tersebut yang tidak mampu bertahan hingga pertandingan berakhir. Celananya robek saat Arsyta bertanding di babak final akibat serangan lawan.
“Ini seragam Abi dulu, celananya robek saat di babak final setelah menang di babak semifinal tadi,” ungkap Arsyta sembari menunjukkan celana seragamnya yang robek setelah bertanding.
Meski harus berjuang dengan seragam yang robek, Arsyta tetap menyelesaikan pertandingan. Ia akhirnya meraih Juara II Tanding Kelas N Putri Usia Dini.
Prestasi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Arsyta. Bukan hanya karena berhasil membawa pulang gelar juara, tetapi juga karena proses yang dilaluinya menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pendidikan dan pengembangan bakat.
Perjalanan Arsyta di Surabaya Championship II Tahun 2026 memberikan gambaran bahwa prestasi akademik dan nonakademik dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, ia memiliki tanggung jawab sebagai siswa kelas VI untuk mempersiapkan TKA. Di sisi lain, ia juga memiliki semangat untuk mengembangkan potensi melalui pencak silat.
Dukungan orang tua dan pendampingan pelatih menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Arsyta diberikan ruang untuk memilih dan menjalani kesempatan bertanding tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar.
Seragam milik sang ayah yang dikenakan Arsyta mungkin akhirnya robek di babak final. Namun, seragam itu telah menjadi bagian dari cerita perjuangan seorang siswi SD Muhammadiyah 14 Surabaya dalam mengejar prestasi.
Dari arena pencak silat, Arsyta membawa pulang gelar Juara II. Dari prosesnya, ia juga belajar tentang keberanian, disiplin, perjuangan, dan bagaimana membagi waktu antara belajar dan berlatih.
Semangat tersebut menjadi pesan penting bahwa prestasi tidak hanya lahir dari latihan keras, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pendidikan dan pengembangan potensi diri.





0 Tanggapan
Empty Comments