Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis menjadi pintu masuk siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik untuk mengenal kembali sastra lama.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam Sharing Session bertajuk “Merapat ke Sastra Lama ‘Robohnya Surau Kami’” di Perpustakaan Taman Ilmu, Jumat (28/8/2026).
Kegiatan menghadirkan Nency Septriyana, S.KM., Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sebagai pemateri.
Sebelum sesi bersama pemateri dimulai, siswa terlebih dahulu diperdengarkan audio cerpen Robohnya Surau Kami. Setelah Nency hadir, audio dihentikan dan kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kemampuan literasi sekaligus pembacaan cerpen secara bersama-sama.
Perwakilan kelas 8A hingga 8G membaca cerpen secara bergantian. Pembacaan dilakukan paragraf demi paragraf hingga cerita selesai.
Setelah itu, siswa diajak membahas isi serta pesan yang terdapat dalam cerpen. Perwakilan kelas 8H dan 8I menyampaikan pendapat mereka mengenai cerita yang telah dibaca. Siswa lainnya kemudian mendapat kesempatan untuk memberikan pandangan berbeda.
Perwakilan kelas 8F, Nabila Sauqiya dan Nadhifa Almaira Hasita, turut aktif dalam sesi diskusi. Keduanya ikut merespons pembahasan mengenai cerpen tersebut.
Sesi diskusi menjadi kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca. Mereka juga belajar memahami isi bacaan, mengolah informasi, dan menyampaikan gagasan.
Dalam kegiatan tersebut, Nency juga mengenalkan latar belakang Robohnya Surau Kami yang ditulis A.A. Navis pada 1956.
Cerpen tersebut telah diterbitkan berkali-kali dengan berbagai sampul oleh sejumlah penerbit, salah satunya Gramedia.
Pengenalan karya tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan siswa dengan karya sastra lama. Cerpen tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi bahan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami serta menyampaikan gagasan.
Setelah istirahat, kegiatan berlanjut dengan materi Transformasi Karya. Siswa dikenalkan pada proses mengubah sebuah karya ke dalam bentuk karya lain dengan tetap mempertahankan gagasan atau pesan utama.
Setiap kelas nantinya akan membuat transformasi karya dalam berbagai bentuk, seperti puisi, lagu, teks resensi, dan bentuk karya lainnya.
Pada akhir kegiatan, sejumlah hasil karya siswa turut ditampilkan. Perwakilan kelas 8F membacakan puisi, sedangkan perwakilan kelas 8C membacakan teks resensi buku di hadapan peserta.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian apresiasi berupa buku kepada tiga peserta yang aktif selama Sharing Session.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk membaca, berdiskusi, menyampaikan pendapat, sekaligus mengolah karya sastra menjadi bentuk karya baru. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments