Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tawakal dalam Islam: Cara Mengatasi Overthinking dan Hati Gelisah

Iklan Landscape Smamda
Tawakal dalam Islam: Cara Mengatasi Overthinking dan Hati Gelisah
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mengalami overthinking, cemas berlebihan, dan takut menghadapi masa depan. Islam mengajarkan tawakal sebagai jalan menenangkan hati setelah berusaha dan berdoa.

Dengan tawakal, seorang Muslim belajar berserah diri kepada Allah Ta’ala tanpa kehilangan semangat ikhtiar dalam menjalani kehidupan.

Bahkan sesuatu yang belum terjadi sudah dikhawatirkan seolah-olah pasti terjadi.
Padahal, belum tentu itu terjadi.

Ada orang yang belum dipanggil wawancara kerja tetapi sudah membayangkan dirinya gagal. Ada yang baru mendapat teguran sedikit dari atasan, lalu semalaman tidak bisa tidur karena takut kehilangan pekerjaan.

Ada pula orang tua yang terlalu cemas memikirkan masa depan anaknya sampai lupa menikmati kebersamaan hari ini.

Begitulah overthinking bekerja.
Masalah yang kecil menjadi besar di kepala.
Yang belum terjadi terasa seakan sudah nyata.

Di sinilah Islam mengajarkan satu konsep yang luar biasa: tawakal.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini mengajarkan bahwa setelah kita berusaha dan berikhtiar, maka serahkan hasilnya kepada Allah Wa Ta’ala.

Seorang petani tetap menanam benih meski ia tidak bisa memastikan kapan hujan turun. Seorang nelayan tetap melaut walau ombak kadang tidak bersahabat.
Seorang pedagang tetap membuka tokonya meski pembeli belum tentu ramai.

Mereka tetap berusaha, tetapi hati mereka tidak menggantungkan hasil sepenuhnya kepada kemampuan diri. Ada keyakinan bahwa Allah yang mengatur hasil akhirnya.

Itulah tawakal.

Overthinking membuat hati sempit. Tawakal membuat hati tenang.

Overthinking membuat kita ingin mengontrol semuanya. Padahal kita hanyalah hamba, bukan penentu segalanya.

Sering kali manusia ingin semua berjalan sesuai rencananya. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, hati mulai kecewa, marah, bahkan putus asa.

Padahal boleh jadi apa yang kita anggap buruk justru menyelamatkan kita. Dan boleh jadi apa yang kita kejar mati-matian ternyata bukan yang terbaik menurut Allah Wa Ta’ala.

Allah Wa Ta’ala juga berfirman: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3)

SMPM 5 Pucang SBY

Ayat ini adalah jaminan. Bukan sekadar motivasi, tapi janji dari Allah Ta’ala. Bahwa orang yang bertawakal akan dicukupkan kebutuhannya.

Betapa banyak orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenang karena dekat kepada Allah.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan.

Karena ketenangan sejati bukan hanya soal banyaknya harta, tetapi kuatnya tawakal dalam dada. Namun perlu kita pahami, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Rasulullah saw mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan berserah diri. Ketika seseorang bertanya apakah untanya dilepas saja lalu bertawakal, Rasulullah saw menjawab agar untanya diikat terlebih dahulu, kemudian bertawakal.

Artinya, Islam tidak mengajarkan kemalasan. Tawakal itu:

  • Berusaha maksimal
  • Berdoa dengan sungguh-sungguh
  • Lalu ikhlas menerima hasilnya

Kadang kita lelah bukan karena masalahnya besar, tapi karena kita memikirkannya terlalu berlebihan.

Kita terlalu sibuk memikirkan “bagaimana nanti”, sampai lupa bahwa Allah selalu membersamai hamba-Nya.

Coba kita ganti:

  • Dari banyak khawatir → jadi banyak doa
  • Dari banyak mikir → jadi banyak zikir
  • Dari takut masa depan → jadi percaya pada rencana Allah Ta’ala

Ketika hati mulai gelisah, biasakan mengucap:

“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.

Kalimat sederhana ini mampu menenangkan hati yang sedang kacau. Karena orang yang bertawakal sadar bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi hidup.

Ada Allah yang Maha Mengatur.
Ada Allah yang Maha Menolong.
Ada Allah yang tidak pernah tidur menjaga hamba-Nya.

Mari kita pilih jalan yang benar:
Bukan overthinking yang melelahkan, tapi tawakal yang menenangkan.

Insya Allah, Allah Wa Ta’ala menjadikan kita hamba yang kuat dalam usaha dan tenang dalam berserah diri. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/05/2026 10:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡