Bukan perayaan yang gemerlap. Bukan pula seremoni yang berlebihan. Generasi pertama program enam tahun mondok di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tuban memilih mengakhiri masa belajarnya dengan cara yang sederhana.
Namun sarat makna. Setiap lantunan hadis dan penjelasan fiqih menjadi saksi perjalanan panjang mereka dalam menuntut ilmu.
Menandai para santri telah menyelesaikan mondok, digelar acara Wada’an. Seremonial perpisahan yang dihadiri oleh wali santri serta jajaran pengurus MBS Tuban.
Dalam pesannya, Mudir MBS Tuban, Ustadz Muslih, menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama di pondok.
“Apa yang telah menjadi kebiasaan baik di sini, jangan ditinggalkan. Bawalah itu ke tengah masyarakat. Karena di sanalah hakikat pengabdian dimulai,” pesannya.
Untuk menuju jenjang ini, para santri kelas XII itu telah mengikuti berbagai rangkaian. Selama empat hari, sejak 1 hingga 4 Mei, para santri menutup masa belajar mereka dengan khataman tiga kitab penting: Bulughul Maram, Arba’in Nawawi, dan Ghayah wa Taqrib.
Kegiatan ini dibimbing langsung oleh para Asatidz alumni Al-Azhar Kairo. Mereka yang juga memberikan ijazah sanad hadis sebagai tanda tersambungnya keilmuan hingga para ulama terdahulu.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 6 Mei dengan munaqasyah tahfidz Al-Qur’an. Yang juga menjadi ujian akhir hafalan para santri. Pada hari yang sama, digelar pula acara Wada’an yang dihadiri oleh wali santri serta jajaran pengurus MBS Tuban. Dalam suasana haru, terselip rasa bangga dan syukur atas perjalanan yang telah dilalui.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat prosesi pengambilan tumpeng. Para santri kemudian menyuapi dan disuapi oleh wali mereka masing-masing. Sebuah simbol sederhana yang menyiratkan makna mendalam. Bahwa di balik setiap langkah santri, ada perjuangan orang tua yang tak pernah putus. Yang menguatkan mereka untuk bertahan dan tumbuh di lingkungan pondok.
Kini, para santri itu melangkah pulang. Bukan hanya membawa kenangan, tetapi juga amanah ilmu, adab, dan harapan. Dalam diam yang penuh makna, mereka telah menyelesaikan satu fase kehidupan—untuk kemudian memulai peran baru di tengah umat.





0 Tanggapan
Empty Comments