Di zaman sekarang, satu kebiasaan yang hampir tidak bisa lepas dari kita adalah scroll—membuka media sosial, melihat video, membaca konten tanpa henti.
Bangun tidur, yang pertama dilihat HP.
Sebelum tidur, yang terakhir dipegang juga HP.
Tidak salah menggunakan teknologi. Namun yang perlu kita renungkan adalah:
- Berapa banyak waktu kita habis untuk scroll, dan
- Berapa banyak waktu kita gunakan untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Artinya, tujuan hidup kita bukan sekadar menikmati dunia, tapi beribadah kepada Allah.
Scroll itu seringkali tanpa sadar:
- 5 menit jadi 1 jam
- 1 jam jadi lupa waktu
- Lupa salat, lupa zikir, bahkan lupa diri
Padahal, waktu yang kita miliki sangat terbatas.
Allah Ta’ala mengingatkan: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian…” (QS. Al-‘Asr: 1-2)
Kerugian terbesar bukan karena kehilangan uang, tapi karena kehilangan waktu yang tidak bisa kembali.
Bayangkan seorang pekerja yang berniat hanya membuka HP sebentar setelah pulang kerja. Ia duduk, membuka satu video, lalu berlanjut ke video lain. Tanpa sadar, azan isya berkumandang, tapi ia berkata, “sebentar lagi.”
Tiba-tiba waktu sudah larut malam. Shalat tertunda, hati pun terasa kosong. Yang tersisa hanya rasa lelah—bukan ketenangan.
Atau seorang ibu yang menunggu anaknya tidur. Awalnya hanya ingin “refresh sebentar” dengan media sosial. Namun satu jam berlalu. Anak sudah terlelap, tapi ia belum juga beranjak untuk bermunajat kepada Allah. Padahal, malam adalah waktu mustajab untuk berdoa.
Atau seorang mahasiswa yang berniat belajar. Buku sudah terbuka, tapi notifikasi datang. Ia berkata, “cek sebentar.” Yang terjadi kemudian: satu jam hilang, tugas tak selesai, hati gelisah karena menunda tanggung jawab.
Bandingkan dengan orang yang membiasakan istighfar. Seorang sopir ojek online, misalnya, di sela menunggu order ia membiasakan lisannya berucap, “Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Mungkin terlihat sederhana. Tapi hatinya lebih tenang, pikirannya lebih jernih, dan harinya terasa lebih ringan.
Seorang pedagang di pasar, saat sepi pembeli, ia tidak sibuk dengan HP, tapi berzikir pelan. Ia sadar, rezeki bukan hanya soal usaha, tapi juga keberkahan dari Allah. Mari kita bandingkan:
Scroll terus:
- Hati makin gelisah
- Pikiran penuh hal tidak penting
- Waktu habis tanpa nilai ibadah
Istighfar:
- Hati menjadi tenang
- Dosa diampuni
- Hidup menjadi lebih ringan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri, yang sudah dijamin dosanya, tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita ubah kebiasaan kecil kita:
- Sebelum scroll, istighfar dulu
- Saat membuka HP, niatkan untuk kebaikan
- Di sela aktivitas, ingat Allah dulu
Tidak harus langsung berubah besar, cukup mulai dari yang sederhana: “Astaghfirullah”. Bahkan kita bisa membuat “aturan pribadi”:
- Setiap membuka HP, minimal satu kali istighfar.
- Setiap selesai melihat satu konten, selipkan zikir
Karena bisa jadi, satu istighfar yang kita ucapkan dengan tulus lebih bernilai di sisi Allah daripada berjam-jam scroll tanpa makna.
Dan kelak, di hari ketika waktu kita dimintai pertanggungjawaban, bukan berapa banyak yang kita lihat yang ditanya, tapi bagaimana kita menggunakannya.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba yang pandai menjaga waktu, ringan lisannya dalam berdzikir, dan selalu ingat kepada-Nya di setiap keadaan. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments