Oleh: Ferry Is Mirza
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
Allah Wa Ta’ala berfirman: “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Tidak pernah ada rezeki yang paling mahal dalam hidup ini kecuali menebalnya iman. Dan menebalnya iman itu seringkali ditandai dengan satu hal sederhana namun mendalam: dibukakannya hati untuk mencintai ilmu.
Tak sedikit orang mengejar rezeki dalam bentuk harta, jabatan, atau kesehatan. Semua itu memang penting. Namun semuanya memiliki satu kesamaan: bisa habis, bisa hilang, bisa diambil kapan saja.
Harta bisa lenyap dalam sekejap. Jabatan bisa turun dalam satu keputusan. Kesehatan bisa berubah dalam satu diagnosis.
Namun iman berbeda. Ia tidak sekadar menemani hidup—ia menentukan akhir hidup.
Iman yang dibawa hingga ajal menjemput, itulah bekal yang menyelamatkan di akhirat.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Tapi iman hanya diberikan kepada yang Dia cintai.” (HR. Ahmad).
Hadis ini seperti tamparan halus bagi kita. Dunia bisa dimiliki siapa saja. Tapi iman—itu pilihan Allah.
Kenapa Iman Disebut Rezeki Termahal?
1. Tidak bisa dibeli
Di dunia ini, hampir semua bisa dibeli. Rumah, kendaraan, bahkan pendidikan terbaik.
Namun hidayah tidak pernah masuk dalam daftar jual beli.
Ada orang kaya raya, tapi hatinya kosong dari iman.
Sebaliknya, ada orang sederhana, namun lisannya basah dengan dzikir dan hatinya penuh ketenangan.
Itulah bukti bahwa iman murni pemberian Allah.
Kita sering melihat dua orang dengan kondisi ekonomi yang berbeda. Yang satu bergelimang harta tapi gelisah, sulit tidur, penuh kecemasan. Kemudian yang lain hidup sederhana, tapi wajahnya teduh, tidurnya nyenyak, dan lisannya selalu bersyukur. Yang membedakan bukan jumlah uangnya—tapi imannya.
2. Penentu husnul khatimah
Akhir hidup adalah misteri. Tidak ada yang tahu bagaimana seseorang akan meninggal.
Namun satu hal pasti:
mati dalam keadaan beriman adalah kemenangan terbesar.
Bahkan seseorang yang banyak dosa, jika wafat dalam iman, masih memiliki harapan ampunan Allah. Sebaliknya, hidup penuh kenikmatan dunia tapi tanpa iman, berakhir tanpa keselamatan.
Betapa banyak kisah orang yang di akhir hidupnya masih mampu mengucap kalimat la ilaha illallah dengan tenang. Itu bukan kebetulan. Itu hasil dari iman yang dijaga sepanjang hidup.
3. Membuat hati tenang
Orang beriman memiliki satu keyakinan kuat: Allah yang menjamin rezekinya.
Karena itu, ia bekerja keras tanpa rasa panik. Ia berusaha maksimal tanpa kehilangan ketenangan.
Tidak takut miskin, tidak gelisah berlebihan, tidak iri dengan rezeki orang lain.
Saat usaha sedang sepi, orang beriman tidak langsung putus asa. Ia tetap berikhtiar, sambil berkata dalam hati, “Allah belum memberi sekarang, tapi pasti ada hikmahnya.”
Ketika yang lain stres dan marah, ia justru semakin mendekat kepada Allah.
4. Pahala terus mengalir
Iman melahirkan amal. Dan amal yang lahir dari iman tidak berhenti di dunia.
Salat, sedekah, mengajar, menolong orang lain—semuanya menjadi investasi akhirat.
Bahkan setelah seseorang wafat, pahala dari amal yang didasari iman bisa terus mengalir.
Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas, mungkin sudah lama wafat. Tapi ilmu yang diajarkan terus diamalkan murid-muridnya. Setiap amal itu menjadi pahala yang terus mengalir—karena berawal dari iman.
Pada akhirnya, kita perlu jujur pada diri sendiri: apa yang selama ini paling kita kejar?
Jika hanya dunia, maka kita sedang mengejar sesuatu yang fana.
Namun jika iman yang kita perkuat, maka kita sedang menyiapkan bekal yang kekal.
Maka berbahagialah jika hari ini kita masih diberi rasa suka pada ilmu, senang menghadiri majelis, ringan untuk beribadah, dan hati yang rindu kepada Allah.
Itu tanda rezeki paling mahal sedang Allah titipkan kepada kita.
Semoga Allah Wa Ta’ala memberikan kita rezeki terbaik berupa iman yang kuat, hati yang tenang, serta kecintaan yang mendalam terhadap ilmu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments