Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

TOF Tunas Athfal IGABA Jatim, Integrasikan Kompetensi Hizbul Wathan dalam Pembelajaran PAUD

Iklan Landscape Smamda
TOF Tunas Athfal IGABA Jatim, Integrasikan Kompetensi Hizbul Wathan dalam Pembelajaran PAUD
Endang Mulyani Purwo saat memberi materi di TOF Tunas Athfal di gedung ATC Purwosari Pasuruan (Rahma Yulia Isnaini/PWMU.CO)
pwmu.co -

Training of Fasilitator (TOF) Tunas Athfal Pimpinan Wilayah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Jawa Timur mendorong guru PAUD Aisyiyah mengintegrasikan kompetensi kepanduan Hizbul Wathan (HW) ke dalam pembelajaran sehari-hari. Tunas Athfal diharapkan tidak menjadi beban materi tambahan, tetapi menjadi ruh penggerak dalam membangun karakter anak sejak usia dini.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Aisyiyah Training Center (ATC), Purwosari, Pasuruan, Kamis–Jumat (1–2/10/2026), ini diikuti 72 guru PAUD Aisyiyah dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Timur.

Dalam kegiatan tersebut, Bunda Endang Mulyani Purwo, Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, menyampaikan materi tentang implementasi integrasi kompetensi Tunas Athfal Hizbul Wathan dalam pembelajaran PAUD Aisyiyah.

Endang mengajak peserta memahami kembali kurikulum PAUD Aisyiyah dan merancang cara agar kompetensi Tunas Athfal dapat terintegrasi secara alami dalam kegiatan pembelajaran.

“Yang penting di kurikulum itu ada tujuan, isi materi, dan cara untuk menyiapkan anak ke jenjang berikutnya,” jelasnya.

Ia menegaskan, pelaksanaan pembelajaran juga perlu memaksimalkan seluruh aspek perkembangan anak, meliputi nilai agama dan moral, fisik motorik, sosial emosional, bahasa, kognitif, dan seni.

Membangun Fondasi Akhlak Mulia Sejak Dini

Tunas Athfal merupakan kegiatan kepanduan Hizbul Wathan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Karena itu, orientasi pembelajarannya bukan semata-mata agar anak mahir membaca, menulis, berhitung, atau menghafal banyak materi. Lebih dari itu, Tunas Athfal menjadi sarana menumbuhkan nilai keislaman, kemandirian, kecakapan dasar, dan kebiasaan baik sejak dini.

Endang menjelaskan, terdapat tujuh kompetensi inti Tunas Athfal Hizbul Wathan yang perlu dikembangkan, yaitu Al-Islam, Kemuhammadiyahan/Keaisyiyahan, literasi, menulis, logika dan numerasi, fisik motorik, serta sensorimotor.

Menurutnya, seluruh kompetensi tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan sederhana yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.

“Tujuh kompetensi inti ini dikembangkan melalui kegiatan yang menyenangkan, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, melalui bermain, meniru, bergerak, melompat, merangkak, mencoba, bercerita, dan mengalami langsung,” paparnya.

Melalui pendekatan tersebut, anak memperoleh kesempatan belajar sesuai dengan dunianya. Nilai-nilai kepanduan tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi dihidupkan melalui pengalaman nyata, pembiasaan, dan interaksi dengan teman maupun lingkungan.

SMPM 5 Pucang SBY

Muara dari kegiatan Tunas Athfal adalah terbentuknya akhlak mulia dan karakter positif. Kompetensi spiritual, kognitif, dan fisik dikembangkan secara terpadu untuk menumbuhkan generasi yang penuh kasih sayang, jujur, tangguh, serta menjunjung tinggi adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Tunas Athfal, Ruh Penggerak Ekosistem PAUD

Dalam implementasi pembelajaran mendalam, Endang menekankan pentingnya memilih kegiatan Tunas Athfal yang bermakna, menggembirakan, sekaligus mampu membentuk karakter anak.

Ia mengingatkan agar Tunas Athfal tidak dipandang sebagai tambahan materi yang justru membebani guru maupun anak.

“Memilih kegiatan ini jangan dianggap sebagai beban materi tambahan, melainkan ruh penggerak yang mengaktifkan seluruh roda ekosistem PAUD. Artinya, kegiatan Tunas Athfal bukan pelajaran baru yang menambah tugas guru dan beban belajar anak,” paparnya.

Endang mencontohkan kegiatan tali-temali yang tidak harus selalu dilakukan menggunakan peralatan kepanduan khusus. Anak dapat berlatih mengikat tali sepatu sendiri, bermain puzzle, mencari jejak, atau melakukan kegiatan bertualang sederhana.

Kegiatan-kegiatan tersebut sejatinya dapat diintegrasikan dengan aktivitas intrakurikuler yang sudah berlangsung di sekolah. Dengan demikian, guru tidak perlu menambah banyak kegiatan baru, tetapi dapat memperkaya kegiatan yang ada dengan nilai-nilai kepanduan.

Lebih lanjut, Endang menghubungkan implementasi Tunas Athfal dengan prinsip pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Prinsip tersebut didukung oleh kerangka pembelajaran yang menyeluruh serta pengalaman belajar melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

“Jika dihubungkan dengan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, didukung kerangka pembelajaran yang menyeluruh serta pengalaman belajar berupa memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun iman, akhlak, kemandirian, kedisiplinan, kepedulian, dan keterampilan hidup,” jelasnya.

Melalui integrasi tersebut, Tunas Athfal diharapkan hadir dalam keseharian anak, baik melalui kegiatan bermain, pembiasaan, interaksi sosial, maupun pengalaman belajar di lingkungan sekolah dan rumah. Dengan demikian, keberhasilan Tunas Athfal tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dan menjadi kebiasaan anak. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 02/10/2026 19:58
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu