Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalin kerja sama strategis dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mewujudkan desa tangguh bencana di Indonesia.
Kolaborasi ini mencakup penguatan mitigasi, pemulihan pascabencana, pemetaan kawasan rawan bencana, hingga pengembangan simulasi kebencanaan guna membangun masyarakat yang lebih resilien.
Kasubdit Pengembangan Kemitraan Industri Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional UMS, Sidiq Permono Nugroho, SE, MM, menjelaskan, ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi pengembangan resilient city hingga tingkat desa, mitigasi dan pemulihan bencana, optimalisasi pemetaan kawasan rawan bencana, serta pemodelan simulasi kebencanaan.
Menurut Sidiq, penguatan ketangguhan masyarakat harus dimulai dari desa sebagai unit terkecil yang paling dekat dengan berbagai potensi risiko bencana.
“Ke depan akan kita lihat apakah tingkat ketangguhannya benar-benar mencerminkan kondisi yang ada di lapangan,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Ia menuturkan, sebagian besar masyarakat desa sebenarnya telah memiliki pengalaman kolektif dalam menghadapi berbagai bencana, mulai dari banjir, letusan gunung berapi, hingga gempa bumi. Namun, kondisi tersebut dinilai masih sebatas pada aspek kesiapsiagaan.
Karena itu, kerja sama dengan BNPB diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan penanganan pascabencana.
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat merupakan investasi penting bagi keberlangsungan kehidupan warga.
Kejelasan sistem mitigasi, strategi penanganan, hingga komitmen terhadap pemulihan bencana diharapkan mampu meminimalkan kerugian, baik material maupun nonmaterial, ketika bencana terjadi.
“Biayanya memang besar. Tetapi ini bukan sekadar berbicara tentang pengembalian dana, melainkan bagaimana melindungi aset, manusia, dan perekonomian,” tegasnya.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat BNPB, Jakarta, Kamis (18/6/2026), disepakati bahwa UMS akan melakukan pemetaan kondisi lapangan, evaluasi, serta menyusun rekomendasi lanjutan terkait mitigasi dan pemulihan bencana.
Kerja sama tersebut ditandatangani secara desk to desk oleh Deputi I Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati dan Wakil Rektor V UMS Prof. Supriyono, ST, MT, Ph.D.
Untuk mengimplementasikan program tersebut, UMS akan melibatkan sejumlah pusat studi dan tenaga ahli dari berbagai bidang. Dua pusat studi yang diproyeksikan berperan sebagai koordinator ialah Pusat Studi Lingkungan dan Pusat Studi Mitigasi Bencana.
“Pusat studi ini akan menjadi koordinator. Sedangkan tenaga ahlinya akan kami petakan berdasarkan keahlian dan pengalaman masing-masing untuk mendukung kasus maupun model simulasi yang dibutuhkan,” ungkap Sidiq.
Ia berharap hasil riset yang dihasilkan civitas academica UMS dapat menjadi rujukan dalam penanganan bencana di tingkat nasional sekaligus mendukung sinkronisasi kebijakan Pemerintah RI, BNPB, dan berbagai mitra strategis lainnya.
“Bencana memiliki dampak yang sangat luas, mulai dari aspek sosial, psikologis, hingga ekonomi. Semua itu harus disimulasikan agar investasi yang dilakukan dapat memberikan perlindungan yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments