
Konvoi Sumoud yang membawa ribuan manusia menuju Gaza mengalami hambatan usai otoritas Mesir menolak permintaan lisensi ke Kedutaan Besar Mesir di Tunisia. (Istimewa/PWMU.CO).
PWMU.CO – Ribuan manusia yang mengikuti Konvoi Sumoud dengan tujuan ke Gaza menghadapi tantangan keras usai terhalang untuk melewati Mesir.
Konvoi darat yang terdiri dari 12 bus dan 100 mobil pribadi ini diikuti lebih dari 1.000 peserta. Mereka dipimpin oleh masyarakat sipil Tunisia serta peserta dari Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Libya, yang berangkat dari ibu kota Tunisia pada hari Senin (09/06/2025).
Penyelenggara konvoi darat yang berupaya menerobos blokade Israel terhadap Jalur Gaza dilaporkan telah mengumumkan keputusan mereka untuk membatalkan perjalanan konvoi tersebut. Tepatnya, pasca pihak berwenang di Libya timur menolak mengizinkan mereka menyeberang ke Mesir.
“Diputuskan untuk membatalkan perjalanan konvoi tersebut setelah pasukan Libya timur bersikeras mencegah konvoi tersebut menyeberang ke Sirte” ujar Koordinasi Aksi Gabungan untuk Palestina.
Tuntut Pembebasan Aktivis
Melansir dari The Palestine Chronicle, juru bicara konvoi Wael Nawar mengatakan kepada Al Jazeera bahwa konvoi tersebut tidak akan kembali ke Tunisia hingga pembebasan 15 aktivis Libya, Tunisia, dan Aljazair yang ditahan oleh pasukan Libya timur.
“Kami akan melanjutkan aksi duduk kami di wilayah Buirat al-Hassoun, sebelah barat Sirte” kata Nawar.
Pasukan keamanan yang berafiliasi dengan otoritas Libya timur menghentikan konvoi di pinggiran Sirte. Selain itu, mereka juga mencegah konvoi untuk melanjutkan perjalanan, dengan dalih menunggu persetujuan keamanan.
“Kami telah diberitahu oleh otoritas Libya bahwa otoritas Mesir telah menolak permintaan lisensi yang kami kirimkan ke Kedutaan Besar Mesir di Tunisia. Melalui semua saluran hukum dan diplomatik yang memungkinkan” ujar perwakilan Konvoi Sumoud di halaman Facebook-nya.
Lebih lanjut, konvoi juga telah mempertimbangkan opsi untuk kembali ke Tunisia dan memikirkan cara lain mengakhiri pengepungan di Gaza. “Kami memutuskan untuk kembali ke Tunisia dan mencari cara lain untuk mencabut pengepungan di Gaza” bunyi pernyataan tersebut.
Kelompok konvoi tersebut menegaskan kembali bahwa konvoi tersebut damai dan akan tetap damai. “Dan kami akan tetap berada di lokasi dengan damai menunggu pembebasan para peserta yang ditahan” tambah Nawar.
Pada Sabtu (14/06/2025), konvoi tersebut mengatakan bahwa mereka menjadi sasaran blokade sistematis oleh otoritas Libya timur, yang mencegahnya maju menuju Sirte di utara negara itu.
Berdasarkan pantauan terakhir dari PWMU.CO, Rabu (18/06/2025) tampak bahwa kelompok konvoi sumoud berada di sekitar wilayah At-Tuwaybiyah, Janzur, Libya.
Gabungan 7000 Dokter hingga Aktivis
Sebelumnya, konvoi yang membawa lebih dari 7000 dokter, mahasiswa, dan aktivis ini berangkat dari Ibu Kota Tunisia pada Senin (09/06/2025).
Kemudian pada Selasa (10/06/2025), konvoi tiba di kota Zawiya, Libya dan berencana untuk mencapai Gaza melalui Penyeberangan Rafah Mesir, dengan menggunakan mobil dan bus. Adapun bagi Anda yang ingin melacak konvoi Sumoud tersebut, dapat melihatnya pada tautan berikut.
Menurut Majalah Carthage Tunisia, penyelenggara menyatakan bahwa konvoi tersebut merupakan “respons langsung terhadap blokade di laut. Sebuah upaya untuk memberikan tekanan pada Mesir agar memfasilitasi bantuan dan mengizinkan lewatnya mereka yang membutuhkan”.
Beberapa waktu sebelumnya, pada senin dini hari (09/06/2025), Israel mencegat kapal bantuan berbendera Inggris yang menuju Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan.
Dua belas aktivis, termasuk wartawan, di atas kapal Madleen, bagian dari Freedom Flotilla Coalition (FCC), ditahan oleh angkatan laut Israel.
Kemudian pada Selasa (10/06/2025), FCC mengonfirmasi bahwa empat dari 12 aktivis telah dideportasi dan delapan masih ditahan di Israel.
Ketika Israel terus menutup perbatasan Gaza untuk bantuan kemanusiaan sejak awal Maret, badan-badan bantuan serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan tentang risiko kelaparan di antara 2,4 juta penduduk Gaza.
Sejak Israel mengingkari gencatan senjata pada 18 Maret, Israel telah membunuh dan melukai ribuan warga Palestina di seluruh Jalur Gaza melalui pengeboman udara yang berdarah dan berkelanjutan.
Penuis Danar Trivasya Fikri, Editor Azrohal Hasan





0 Tanggapan
Empty Comments