Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

25 Tahun Mengabdi, Guru Smamita Raih Hadiah Tiket Umrah

Iklan Landscape Smamda
25 Tahun Mengabdi, Guru Smamita Raih Hadiah Tiket Umrah
Kepala sekolah beserta HRD Smamita memberikan tiket umrah kepada guru Ismuba Miftahol Jannah, SAg MPd di ruang Demokrasi. Foto: Nashiiruddin/PWMU.CO
pwmu.co -

Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengabdikan diri sebagai pendidik. Ada perjalanan panjang, ketekunan, dan kesetiaan yang menyertai setiap langkah.

Hal itu dirasakan Guru Ismuba SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) Miftahol Jannah, SAg MPd. Setelah seperempat abad mengabdi di Smamita, ia mendapat hadiah istimewa berupa tiket umrah.

Miftahol Jannah menerima apresiasi tersebut dengan penuh haru dan rasa syukur di Ruang Demokrasi Smamita, yang disaksikan seluruh guru dan karyawan, Senin (7/9/2026).

Baginya, hadiah tersebut bukan sekadar kesempatan melakukan perjalanan ke Tanah Suci, melainkan anugerah yang akan dikenang sepanjang hidup.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya, khususnya Bapak Pimpinan Smamita. Mudah-mudahan amanah ini benar-benar diridai Allah Swt.,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan hadiah tersebut. Menurutnya, tiket umrah yang diterimanya merupakan anugerah yang nilainya tidak dapat diukur dengan materi.

“Hadiah ini tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Ini anugerah yang tidak ternilai buat hidup saya. Tentu tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Semoga keberkahan selalu menaungi Smamita,” tuturnya sembari mengusap air mata.

Smamita Tak Hanya Mengajarkan Ilmu Dunia

Bagi Miftahol, perjalanan pengabdiannya di Smamita memberikan pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar pendidikan akademik. Ia merasakan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual.

“Pelajaran terpenting buat saya, Smamita tidak hanya memberikan ilmu duniawi, tetapi pelajaran spiritual atau akhirat juga diperkuat,” katanya.

Karena itu, ia memandang hadiah umroh tersebut sebagai sebuah amanah besar. Perjalanan ke Tanah Suci bukanlah akhir dari sebuah penghargaan, melainkan awal untuk menghadirkan perubahan dan kebaikan setelah kembali.

“Amanah ini sangatlah sulit. Tidak hanya sebagai ibadah umrah saja, melainkan yang terpenting adalah pasca umrah. Insyaallah semua Bapak Ibu guru akan bergantian menuju Tanah Suci,” ujarnya yang disambut ucapan amin dari para guru dan karyawan.

Dari Gaji Rp80 Ribu hingga Tiket Umroh

Perjalanan Miftahol menjadi pendidik di Smamita menyimpan kisah perjuangan yang penuh makna. Ia mengawali pengabdiannya pada 2001 dengan penghasilan sekitar Rp80 ribu.

Dari jumlah tersebut, Rp75 ribu digunakan untuk membayar biaya kos. Sementara itu, hanya tersisa Rp5 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian memiliki proses panjang yang tidak selalu mudah. Dari perjuangan dengan penghasilan yang sangat terbatas hingga mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah, perjalanan Miftahol menjadi bagian dari sejarah panjang pengabdian di Smamita.

SMPM 5 Pucang SBY

“Semoga saya bisa mengambil hikmah dan spirit dari perjalanan ibadah ini,” harapnya.

Smamita Targetkan Dua Guru Berangkat Setiap Tahun

Sementara itu, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Taman Edwin Yogi Laayrananta, S.Pd., M.IKom., menyampaikan bahwa pemberangkatan guru untuk menunaikan ibadah umrah diharapkan menjadi program berkelanjutan di Smamita.

“Insyaallah Smamita akan memberangkatkan setiap satu tahun satu guru. Tetapi saya berusaha memberangkatkan dua guru. Bismillah, semoga saja bisa,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pada kesempatan mendatang terdapat tiga guru Smamita yang mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci.

Salah satunya Kholidah, S.Pd., M.Pd., sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya. Sementara Fauzi Asnawi, S.Sos.I., Guru Bimbingan dan Konseling, mendapatkan umrah gratis dari PCM Sepanjang dalam Kajian Ramadan. Pemberangkatan tersebut insyaallah dijadwalkan pada pertengahan Januari.

Bagi Edwin, apresiasi tersebut tidak hanya tentang perjalanan ke Tanah Suci. Lebih dari itu, program tersebut menjadi upaya membangun budaya kebersamaan, penghargaan, dan keberkahan di lingkungan Smamita.

“Kami sebagai pimpinan hanya diberikan sebuah amanah untuk memimpin. Ibaratnya hanya sebagai perantara antara gas dan api yang berusaha untuk tetap menyala. Bapak dan Ibu guru adalah gasnya, sehingga kami semuanya saling berkaitan dan membutuhkan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa setiap jabatan dan amanah memiliki batas waktu. Ketika amanah tersebut selesai, semua akan kembali pada peran masing-masing sebagai pendidik.

“Ketika amanah itu habis, semua akan kembali menjadi guru biasa. Maka, coba kita bangun kebersamaan, karena amanah hanya sementara dan sebentar saja,” pesannya.

Edwin mengajak seluruh keluarga besar Smamita untuk terus menjaga nama baik sekolah dan menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan menghadirkan keberkahan.

“Mari kita bawa nama baik Smamita sampai kapan pun. Karena di Smamita kita semua bisa merasakan keberkahan untuk keluarga. Semoga setiap hal terbaik yang kita lakukan membawa keberkahan bagi kita semuanya. Maka, jadikan ini sebagai motivasi,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 08/09/2026 06:25
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu