Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

5 Keutamaan Ibadah Haji, Penghapus Dosa hingga Balasan Surga

Iklan Landscape Smamda
5 Keutamaan Ibadah Haji, Penghapus Dosa hingga Balasan Surga
Foto: Reuters
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial.

Di balik rangkaian ibadah yang penuh pengorbanan, Allah SWT menjanjikan berbagai keutamaan bagi para jamaah haji, mulai dari pengampunan dosa, doa yang mustajab, hingga balasan surga bagi mereka yang meraih haji mabrur.

Berikut lima keutamaan ibadah haji yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw:

Pertama, Panggilan Spesial dari Allah

Sejatinya, ibadah haji merupakan undangan spesial dari Allah untuk seseorang yang terpilih. Hal ini terbukti lewat surah Al Hajj ayat 27 yang tertulis jelas bahwa Allah sengaja menyuruh segenap kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah haji.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ]

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Makna Utama Ayat:

• Perintah Berhaji: Merupakan ayat yang mendasari kewajiban ibadah haji, di mana Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengumumkan kepada seluruh umat manusia agar mengunjungi Baitullah (Ka’bah).

• Bukti Kekuasaan Allah: Meskipun pada masa itu perjalanan sangat berat dan jarak sangat jauh, Allah menjamin bahwa manusia akan datang berbondong-bondong. Kalimat “unta yang kurus” merupakan kiasan akan beratnya perjalanan yang ditempuh demi memenuhi panggilan Allah SWT.

• Ayat ini menjadi pengingat akan agungnya ibadah haji, di mana setiap muslim yang mampu akan datang dari seluruh dunia untuk mencari rida Allah

• Berdasarkan undangan tersebut, jamaah haji perlu merasa bangga menjadi manusia pilihan di antara milyaran umat di bumi. Pentingnya ibadah ini menjadi acuan penting untuk mendaftarkan diri bagi mereka yang mampu.

Kedua, Diampuni Dosanya dan Kembali Suci

Melaksanakan haji dengan sempurna—menjaga diri dari perkataan kotor (rafats) dan perbuatan fasik—menjadikan seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Pelaksanaannya diibaratkan seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقُ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang melaksanakan haji di Baitullah ini kemudian tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali keadaannya seperti saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Balasan Surga

Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur (haji yang diterima dan mendatangkan kebaikan) selain surga. Kemurnian ibadah ini menjadikan pelakunya sangat dicintai Allah dan layak mendapatkan tempat terbaik di akhirat.

Begitu dahsyatnya ibadah haji, sehingga balasan dari ibadah haji mabrur tersebut adalah surga. Hal ini sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

العمرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Antara umrah dan umrah lainnya adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Surga.” (HR. Bukhari no. 1773)

Makna Penting:

• Haji Mabrur: Ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Ini dicapai ketika seseorang melaksanakannya dengan ikhlas, mengikuti tuntunan Nabi, dan menjaga diri dari perbuatan dosa atau maksiat selama menjalankannya.

• Balasan Surga: Menurut penjelasan ulama seperti Imam An-Nawawi, balasan ini menunjukkan bahwa ibadah haji mabrur memiliki kedudukan yang sangat agung. Pelakunya tidak hanya dihapuskan dosanya, tetapi benar-benar berhak dimasukkan langsung ke dalam Surga oleh Allah SWT

SMPM 5 Pucang SBY

Keempat, Doa yang Mustajab

Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah SWT di bumi-Nya. Segala doa yang dipanjatkan, terutama saat wukuf di Arafah dan di tempat-tempat mustajab lainnya, sangat berpeluang besar untuk dikabulkan.

عن جابر رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ وَسَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ

Artinya: Dari sahabat Jabir ra, Nabi Muhammad saw bersabda, “Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya dan mereka meminta kepada-Nya, lalu Allah memberikan permintaan mereka” (HR Al-Bazzar).

Berikut adalah beberapa hal penting mengenai keistimewaan tersebut:

• Diundang Langsung: Menjadi “tamu Allah” berarti Anda sedang memenuhi panggilan dan undangan langsung dari Allah SWT.

• Doa Dikabulkan: Selama beribadah di Tanah Suci, Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa dan permintaan para jamaah.

• Dosa Diampuni: Selain doa yang mustajab, ibadah ini juga menjadi waktu terbaik untuk meminta ampun atas segala dosa yang telah berlalu.

Kelima, Jamaah haji yang meninggal dibangkitkan dengan talbiyah

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِعَرَفَةَ فَوَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَأَوْقَصَتْهُ أَوْ وَقَصَتْهُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِى ثَوْبَيْنِ وَلاَ تُحَنِّطُوهُ وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا

“Dari sahabat Ibnu Abbas ra, ia bercerita, ketika sedang (wukuf) bersama Rasulullah di Arafah, seseorang tiba-tiba terjatuh dari kendaraannya, lalu membuat lehernya patah, kemudian meninggal dunia. Rasulullah saw mengatakan, “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafankanlah pada dua lapis. Jangan berikan obat pengawet dan jangan tutup kepalanya karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan tercatat di dalam kitab-kitab hadis utama seperti Shahih Muslim 2092

Kisah di balik hadis ini menceritakan tentang seorang sahabat yang meninggal dunia karena jatuh dari kendaraannya saat sedang melakukan ibadah haji (wukuf di Arafah). Rasulullah saw kemudian memerintahkan tata cara khusus untuk mengurus jenazahnya.

Berikut adalah arti dari hadis tersebut dan penjelasannya secara sederhana:

1. “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara”
Jenazah harus dimandikan dengan air yang dicampur daun bidara agar bersih dan wangi.

2. “Kafanilah ia dengan dua kain”
Jenazah dikafani menggunakan kain ihram yang ia kenakan (karena ia meninggal dalam keadaan berhaji).

3. “Jangan beri ia wewangian (hunuth)”
Orang yang sedang berhaji (muhrim) dilarang memakai wewangian, sehingga aturan ini tetap berlaku saat ia wafat.

4. “Jangan tutup kepalanya”
Saat berhaji, kepala tidak boleh ditutup. Ini menunjukkan bahwa ia wafat dalam keadaan suci menjalankan ibadah.

5. “Karena Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat dalam keadaan membaca Talbiyah”
Ini adalah keutamaan luar biasa. Allah SWT akan membangkitkan orang yang meninggal saat berhaji dalam kondisi sedang melafalkan kalimat talbiyah.

Lafadz Talbiyah (Arab)

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ]

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 28/06/2026 21:21
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu