Arus informasi yang begitu deras di media sosial telah mengubah cara masyarakat belajar agama. Sayangnya, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diiringi dengan kemampuan memilah mana ajaran yang benar dan mana yang menyesatkan.
Fenomena inilah yang menjadi perhatian utama Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kep. FISQua, saat menjadi narasumber Pengajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Magetan di Panti Asuhan Muhammadiyah, Jalan Salak, Magetan, Ahad (28/6/2026).
Di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas jajaran pengurus PDM Magetan, Aisyiyah, kader, hingga simpatisan Muhammadiyah, Mundakir mengajak warga persyarikatan untuk terus bersyukur sekaligus bangga berkhidmat di Muhammadiyah.
Menurutnya, Muhammadiyah telah memberikan teladan bagaimana menjalankan agama secara rasional tanpa meninggalkan kemurnian ajaran Al-Qur’an dan Sunah.
“Saya bersyukur dipertemukan dengan Muhammadiyah. Pengalaman panjang saya menunjukkan bahwa beragama dengan akal sehat dan pendekatan rasional justru saya temukan di Muhammadiyah. Rasional bukan berarti meninggalkan dalil, tetapi memahami Al-Qur’an dan Sunah secara benar dengan pendekatan ilmu,” ujarnya.
Menurut Mundakir, tantangan umat Islam saat ini bukan lagi sekadar minimnya akses terhadap ilmu agama, melainkan banjir informasi yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan.
Dia mencontohkan maraknya berbagai fenomena keagamaan yang viral di media sosial, mulai dari klaim mengetahui waktu datangnya hari Kiamat, praktik nikah batin, hingga berbagai bentuk ritual yang tidak memiliki dasar ilmiah maupun dalil yang kuat.
“Di media sosial banyak sekali praktik-praktik beragama yang menyimpang. Anehnya, karena viral, banyak orang langsung percaya tanpa melakukan tabayun atau mengecek sumbernya,” katanya.
Dalam paparannya, Mundakir mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Muhammadiyah dipersepsikan sebagai organisasi Islam yang paling rasional.
Dia menyebut, sekitar 78 persen responden dalam sebuah penelitian menilai Muhammadiyah sebagai organisasi yang mengedepankan cara beragama yang rasional. Bahkan di kalangan Generasi Z, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam berkemajuan.
“Ini yang saya sebut sebagai ‘login Muhammadiyah’. Muhammadiyah dipandang sebagai organisasi yang paling rasional. Bahkan Gen Z melihat Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang berkemajuan,” ungkapnya.
Untuk memperkuat pesannya, Mundakir mengutip firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 9:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Menurutnya, ayat tersebut menjadi penegasan bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama.
Empat Penyebab Beragama Tidak Rasional
Dalam kesempatan tersebut, Mundakir memetakan sedikitnya empat faktor yang menyebabkan praktik beragama menjadi tidak rasional.
1. Rendahnya Literasi
Ia menilai rendahnya budaya membaca dan belajar menjadi penyebab utama munculnya sikap ikut-ikutan dalam beragama.
“Kalau literasinya rendah, orang cenderung manut saja. Apa yang didengar langsung dipercaya tanpa mengkaji terlebih dahulu,” jelasnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun tradisi membaca, belajar, dan berdiskusi agar umat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.
2. Fragmentasi Otoritas Keilmuan
Menurut Mundakir, perubahan zaman membuat masyarakat tidak lagi belajar kepada guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
“Dulu orang mondok berpindah-pindah, belajar kepada banyak ulama, bahkan melanjutkan kuliah hingga luar negeri. Sekarang semua terasa ada di genggaman. Apa yang viral langsung dianggap benar, padahal belum tentu jelas sumbernya,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa warga Muhammadiyah memiliki rujukan keilmuan yang jelas melalui Majelis Tarjih dan Tajdid.
“Di Muhammadiyah ada Majelis Tarjih. Semua persoalan dikaji secara ilmiah, mendalam, dan berdasarkan dalil yang kuat. Itu yang menjadi rujukan kita,” ujarnya.
3. Anti-Complexity
Fenomena lain yang menjadi perhatian adalah munculnya kecenderungan masyarakat menginginkan segala sesuatu serba sederhana, termasuk dalam memahami agama.
Menurutnya, cara berpikir seperti ini berbahaya, terutama ketika berhadapan dengan persoalan fikih yang membutuhkan kajian mendalam.
“Kalau semua ingin instan dan tidak mau yang rumit, akhirnya muncul sikap antiintelektual. Padahal memahami agama membutuhkan proses belajar,” katanya.
4. Attention Economy
Mundakir juga menyoroti budaya media sosial yang lebih mengutamakan popularitas dibandingkan kebenaran.
“Yang viral dianggap paling benar. Padahal ukuran kebenaran bukan jumlah penonton atau jumlah pengikut, tetapi kesesuaian dengan Al-Qur’an, Sunah, dan metodologi keilmuan,” tegasnya.
Dampak Jika Beragama Tanpa Sikap Kritis
Menurut Mundakir, apabila praktik beragama yang tidak rasional terus berkembang, maka akan muncul berbagai dampak serius.
Pertama, tradisi keilmuan akan melemah. Ia mengingatkan bahwa peradaban Islam pernah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, dan Ibnu Sina karena kuatnya budaya belajar dan penelitian.
Karena itu, dia mengajak kader Muhammadiyah terus mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan, termasuk berkolaborasi dalam pengembangan keilmuan melalui Ma’had Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Kedua, muncul pengultusan terhadap figur tertentu yang merasa memiliki otoritas mutlak.
Menurutnya, Muhammadiyah justru mengembangkan budaya meritokrasi, yakni memberikan amanah kepada orang yang memiliki kompetensi, bukan karena faktor keturunan, kedekatan, atau popularitas.
“Jangan memberikan amanah kepada orang yang tidak memiliki kemampuan. Amanah harus diberikan kepada orang yang kompeten agar organisasi tetap sehat dan maju,” pesannya.
Ketiga, terjadi distorsi terhadap ajaran Islam karena banyak orang berbicara atas nama agama tanpa dasar ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keempat, kondisi tersebut berpotensi melahirkan polarisasi dan konflik di tengah umat akibat perbedaan pemahaman yang dibangun di atas informasi yang tidak valid. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments