Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tugas Muhammadiyah Belum Selesai, Kemerdekaan Harus Diisi dengan Ilmu dan Amal

Iklan Landscape Smamda
Tugas Muhammadiyah Belum Selesai, Kemerdekaan Harus Diisi dengan Ilmu dan Amal
Dr. KH. Sholihin Fanani, menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Ahad PDM Kabupaten Blitar, Ahad (9/8/2026). Foto: istimewa
Oleh : Tanwirul Huda

Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengisi, membangun, dan memajukan Indonesia. Perjuangan itu tidak cukup berhenti pada sejarah merebut kemerdekaan, tetapi harus dilanjutkan dengan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, serta berbagai bentuk keterbelakangan.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM menegaskan hal tersebut dalam Pengajian Ahad Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Blitar, Ahad (9/8/2026).

Pengajian tersebut dihadiri jajaran PDM, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Blitar.

Menurut Sholihin, perjuangan Muhammadiyah untuk Indonesia sejak awal tidak dapat dilepaskan dari cita-cita kemerdekaan yang hakiki.

Kemerdekaan bukan semata-mata terbebas dari penjajahan secara politik, melainkan juga terbebas dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, serta keyakinan yang menyimpang dari tauhid yang murni.

“Jika bangsa Indonesia masih bodoh, miskin, tauhidnya tidak murni, sakit, dan bergantung kepada pengaruh luar, maka sulit bagi bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan yang hakiki,” ujarnya.

Kiai Sholihin menjelaskan, kontribusi Muhammadiyah terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat. Sejumlah tokoh Muhammadiyah telah ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional, termasuk KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan atau Nyai Walidah.

Bagi KH Ahmad Dahlan, kemerdekaan Indonesia memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar terbebas dari penjajahan.

Bangsa Indonesia harus dibebaskan dari kebodohan dan kemiskinan, memiliki keyakinan yang lurus, serta mampu berdiri secara mandiri tanpa bergantung pada kekuatan dari luar.

Cita-cita tersebut kemudian diwujudkan KH Ahmad Dahlan melalui pendirian Muhammadiyah. Organisasi ini menjadi wadah perjuangan untuk mencerdaskan masyarakat, memperkuat kehidupan keagamaan, meningkatkan kesejahteraan, serta membangun kehidupan sosial yang lebih berkemajuan.

Dengan demikian, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dakwah, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah sesungguhnya merupakan bagian dari perjuangan panjang untuk mewujudkan kemerdekaan dalam makna yang lebih substantif.

Empat Dimensi Kemerdekaan

Sholihin juga mengaitkan cita-cita tersebut dengan pemikiran Ibnu ‘Asyur mengenai empat unsur penting kemerdekaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Pertama, Hurriyah al-I‘tiqadiyah, yakni kebebasan dalam memiliki keyakinan. Kedua, Hurriyah al-Aqwal, yaitu kebebasan berpendapat atau menyampaikan suara.

Ketiga, Hurriyah al-‘Ilmi, kebebasan dalam menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Keempat, Hurriyah al-A‘mal, yakni kebebasan dalam bekerja dan berusaha.

“Empat dimensi tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan memiliki dimensi yang luas. Masyarakat yang merdeka harus memiliki kebebasan berpikir dan belajar, kesempatan untuk bekerja dan berusaha, serta kemampuan menentukan kehidupan berdasarkan keyakinan dan nilai yang diyakininya,” ujar dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Dalam konteks itu, Muhammadiyah memiliki ruang perjuangan yang tetap relevan. Tantangan zaman berubah, tetapi misi pembebasan tetap diperlukan.

Karena itu, Kiai Sholihin mengingatkan agar cita-cita KH Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Generasi muda Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan tersebut sesuai dengan tantangan zaman.

Estafet perjuangan itu dapat diwujudkan melalui penguatan nilai kebajikan, amal saleh, amar makruf nahi mungkar, penegakan keadilan sosial, serta pembangunan masyarakat yang beradab, mandiri, dan bermartabat.

“Perjuangan dan cita-cita KH Ahmad Dahlan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia harus dilanjutkan oleh generasi muda Muhammadiyah,” tegasnya.

Bagi Muhammadiyah, kemerdekaan dengan demikian bukan sekadar warisan yang diperingati setiap Agustus. Kemerdekaan merupakan amanah yang harus terus diisi dengan kerja nyata.

Tauhid menjadi fondasi, ilmu pengetahuan menjadi instrumen, dan amal saleh menjadi wujud pengabdian.

“Ketiganya menjadi modal penting Muhammadiyah untuk terus mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang lebih berkemajuan,” pungkas Kiai Sholihin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/08/2026 17:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu