Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

77 Tahun YTP: Dari Merawat Tradisi Menuju Pusat Peradaban

Iklan Landscape Smamda
77 Tahun YTP: Dari Merawat Tradisi Menuju Pusat Peradaban
Oleh : Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I Ketua Himpunan Alumni Pondok Pesantren Arrodlotul Ilmiyah (YTP)/HAPPRI Kertosono Korda Sidoarjo

Hari ini, 9 Agustus 2026, Pesantren Arrodlotul Ilmiyah (YTP) Kertosono genap berusia 77 tahun.

YTP lahir pada 9 Agustus 1949, ketika Indonesia masih muda dan sedang menata kehidupan setelah kemerdekaan. Selama 77 tahun, pesantren ini melewati berbagai perubahan zaman. Ia merawat ilmu, iman, tradisi, sekaligus terus berinteraksi dengan masyarakat.

Karena itu, usia 77 tahun tidak cukup dibaca sebagai angka. Ia adalah rekam jejak sekaligus cermin untuk melihat masa depan.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar apa yang telah dicapai YTP selama 77 tahun? Pertanyaan yang lebih strategis adalah: YTP hendak menjadi apa ketika genap berusia satu abad?

Pertanyaan itu penting karena menuju 100 tahun hanya tersisa 23 tahun. Tahun 2049 bukan waktu yang terlalu jauh. Anak-anak yang hari ini menjadi santri akan menjadi orang dewasa.

Mereka akan menjadi guru, ulama, akademisi, pengusaha, birokrat, profesional, teknolog, dan pemimpin masyarakat.

Di tangan merekalah wajah YTP pada usia satu abad akan ditentukan.

Karena itu, menuju satu abad, YTP tidak cukup hanya mempertahankan tradisi. Tradisi harus menjadi fondasi untuk melakukan lompatan.

Pesantren harus tetap berakar pada khazanah keislaman, tetapi sekaligus mampu membaca perubahan zaman. Dari sinilah gagasan Catur Nawa Pesantren YTP menjadi relevan: empat orientasi strategis untuk membawa YTP dari sekadar lembaga pendidikan menuju pusat peradaban.

Pertama, pusat ilmu Islam. Pesantren tidak boleh berhenti sebagai tempat transmisi ilmu keislaman. Pesantren harus berkembang menjadi ruang produksi gagasan.

YTP perlu mendorong riset, penulisan, diskusi, dan pengembangan pemikiran Islam yang mampu menjawab persoalan masyarakat kontemporer.

Santri tidak cukup hanya mampu membaca kitab. Mereka juga harus mampu membaca realitas.

Mereka perlu memahami perubahan sosial, perkembangan teknologi, ekonomi, politik, lingkungan, kebudayaan, hingga tantangan kemanusiaan.

Dengan demikian, ilmu agama tidak berhenti di ruang kelas atau masjid. Ia hadir sebagai kekuatan untuk membaca sekaligus menyelesaikan persoalan kehidupan.

Kedua, pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pesantren masa depan juga harus memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

Kemandirian ekonomi bukan sekadar soal mencari keuntungan. Ia adalah bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan pesantren dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Koperasi pesantren, kewirausahaan santri, pertanian produktif, ekonomi halal, digitalisasi bisnis, hingga pengembangan UMKM masyarakat sekitar dapat dikembangkan menjadi satu ekosistem ekonomi. Santri perlu belajar bahwa kesalehan tidak harus berjarak dengan produktivitas.

Pesantren idealnya tidak hanya melahirkan orang-orang saleh, tetapi juga manusia yang mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan memberdayakan masyarakat.

Ketiga, pusat pengembangan IPTEKS. Pesantren tidak boleh menjadi penonton perubahan teknologi.

Kecerdasan buatan, digitalisasi pendidikan, literasi media, teknologi pertanian, kesehatan, ekonomi digital, dan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan harus masuk dalam horizon pendidikan pesantren.

Teknologi memang bukan tujuan akhir. Tetapi menguasai teknologi adalah bagian penting agar pesantren mampu menjawab tantangan masa depan.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, santri harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta.

Masa depan tidak boleh hanya ditonton oleh pesantren. Santri harus menjadi salah satu aktornya.

Di sinilah pentingnya membangun budaya inovasi. Laboratorium, pusat riset, inkubator bisnis, ruang kreativitas, dan ekosistem digital pesantren perlu dipikirkan sejak sekarang.

Keempat, pusat produksi kepemimpinan. Inilah investasi paling strategis. Pada akhirnya, kualitas sebuah pesantren tidak hanya diukur dari gedung yang dibangun atau jumlah santri yang dididik. Ia juga diukur dari manusia seperti apa yang dilahirkannya.

YTP harus mampu melahirkan pemimpin yang berilmu, berakhlak, kompeten, mandiri, dan memiliki kemampuan bekerja lintas batas.

Alumni YTP harus dapat hadir di berbagai ruang kehidupan: sebagai ulama, akademisi, pengusaha, birokrat, profesional, teknolog, politisi, maupun penggerak masyarakat.

Namun, kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan menduduki jabatan.

Pesantren harus melahirkan kepemimpinan yang memadukan kecerdasan, integritas, keteladanan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Sebab, kepemimpinan tanpa akhlak akan kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak tanpa kompetensi akan kesulitan menghadapi kompleksitas zaman.

Dari Pesantren Menuju Peradaban

Catur Nawa Pesantren tersebut pada akhirnya bermuara pada satu cita-cita besar: YTP sebagai pusat peradaban. Peradaban tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari tradisi ilmu yang panjang.

Dari karakter yang kuat. Dari ekonomi yang mandiri. Dari kemampuan menguasai teknologi. Dan dari kepemimpinan yang visioner.

Karena itu, usia 77 tahun seharusnya tidak dibaca sebagai tanda bahwa perjalanan YTP telah panjang dan selesai.

Justru sebaliknya. 77 tahun adalah modal sejarah untuk menjemput 100 tahun. Dua puluh tiga tahun menuju 2049 harus dipersiapkan secara serius. YTP membutuhkan roadmap satu abad yang jelas dan terukur.

Apa yang harus dibangun? Manusia seperti apa yang harus disiapkan? Tradisi apa yang harus dipertahankan? Kebiasaan apa yang harus ditinggalkan? Inovasi apa yang harus dilahirkan? Dan yang paling penting: warisan peradaban apa yang hendak ditinggalkan YTP untuk generasi sesudahnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab bersama oleh pengasuh, pimpinan, guru, santri, alumni, dan seluruh keluarga besar YTP. Sebab, menuju satu abad bukan pekerjaan satu generasi. Ia adalah estafet.

Generasi hari ini menanam. Generasi berikutnya merawat. Generasi sesudahnya memanen.

Maka, milad ke-77 YTP bukan sekadar momentum untuk menengok ke belakang. Ia adalah saat untuk menatap jauh ke depan. 77 tahun merawat tradisi. 100 tahun menjemput peradaban.

Dari pesantren untuk umat. Dari ilmu untuk kemajuan. Dari Kertosono untuk Indonesia. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 09/08/2026 16:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu