SDI Raudlatul Jannah 2 Pepelegi, Waru, Sidoarjo, melakukan studi tiru pengelolaan pendidikan inklusif di SD Muhammadiyah 16 Surabaya atau Sekolah Kreatif Baratajaya, Selasa (18/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi rombongan SDI Raudlatul Jannah 2 untuk mempelajari sistem pendidikan inklusif yang diterapkan SD Muhammadiyah 16 Surabaya, mulai dari penerimaan peserta didik, pendampingan pembelajaran, pemantauan perkembangan, hingga penyediaan fasilitas pendukung.
SD Muhammadiyah 16 Surabaya telah mengembangkan layanan pendidikan inklusif sejak 2002. Pengalaman lebih dari dua dekade tersebut menjadi bagian dari proses sekolah dalam membangun sistem pelayanan yang menempatkan kebutuhan setiap peserta didik sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Berawal dari Tantangan
Koordinator Inklusi SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ida Afifah, S.Pd., menjelaskan perjalanan pendidikan inklusif di sekolahnya tidak selalu berjalan mudah. Pada masa awal penerapannya, konsep pendidikan inklusif bahkan sempat dianggap tidak lazim.
“Jauh sebelum Muhammadiyah mencanangkan Gembiramu atau Gerakan Pendidikan Inklusif untuk Generasi Emas Muhammadiyah yang diluncurkan secara hybrid pada Mei 2026 di Kantor PP Muhammadiyah, sekolah kami sudah mengawali pendidikan inklusif sejak 2002,” ujar Ida.
Menurutnya, keputusan membuka layanan pendidikan inklusif pada saat itu menghadirkan berbagai tantangan. Bahkan, pernah ada orang tua yang menarik anaknya karena muncul anggapan bahwa peserta didik akan dijadikan kelinci percobaan.
“Di awal kami dianggap aneh dan dinilai tidak mungkin. Bahkan pernah ada orang tua yang menarik siswa baru karena muncul isu bahwa anak-anak akan dijadikan kelinci percobaan. Ya, begitulah dinamika ketika mengawali sesuatu yang belum banyak dipahami,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi SDI Raudlatul Jannah 2. Kepala SDI Raudlatul Jannah 2, Nikmatus Sholikhah, S.Pd., menyampaikan apresiasinya karena rombongan sekolah mendapat kesempatan mempelajari pengelolaan pendidikan inklusif secara langsung.
“Kami menyampaikan banyak terima kasih karena sudah menerima kami untuk studi tiru. Kami berharap mendapatkan banyak pengetahuan tentang bagaimana mengelola pendidikan inklusif,” tutur Nikmatus.
Ia menjelaskan, pihaknya sengaja membawa tim agar pengetahuan yang diperoleh dapat dipahami bersama dan dikembangkan di sekolah.
“Kami sengaja membawa tim agar informasi yang diperoleh tidak berhenti pada satu orang. Kami ingin memahami sistemnya, mulai dari kurikulum, pendampingan, sarana prasarana, sampai pengelolaan peserta didik,” jelasnya.
Bangun Sistem Pendampingan
Rombongan SDI Raudlatul Jannah 2 disambut Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, S.H., M.Pd., Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS) Heru Tjahyono, serta Wakil Kepala Sekolah Suyono, S.Si.
Ely Rhodlifah menekankan bahwa pendidikan inklusif harus dibangun atas dasar penerimaan dan tanggung jawab terhadap setiap peserta didik.
“Pada prinsipnya kita menerima amanah. Dengan amanah tersebut kita jaga layaknya anak kami sendiri,” ujar Ely.
Ia mengakui, penerapan pendidikan inklusif pada awalnya memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya berkaitan dengan kesiapan peserta didik yang baru masuk sekolah.
“Di awal memang agak berat. Ada anak-anak yang baru masuk dan belum tuntas toilet training-nya. Karena itu, kami menyiapkan shadow teacher. Dari pengalaman tersebut kami belajar bahwa sistem memang sangat penting dalam pengelolaan pendidikan inklusif,” katanya.
Menurut Ely, pengalaman menghadapi berbagai kondisi peserta didik mendorong sekolah untuk terus mengembangkan sistem pendampingan sesuai kebutuhan anak.
Heru Tjahyono menambahkan, layanan inklusif tidak sekadar memberikan pendampingan khusus kepada peserta didik. Sekolah juga harus memastikan setiap anak memperoleh hak belajar yang setara.
“Sistem pengelolaan inklusif tidak terbatas pada pelayanan saja, tetapi juga bagaimana anak didik mendapatkan hak yang sama dalam pembelajaran,” ungkap Heru.
Ia menegaskan, setiap peserta didik memiliki karakteristik dan tahapan perkembangan yang berbeda sehingga sekolah perlu menyesuaikan pola pelayanan.
“Mereka adalah amanah yang harus kita jaga. Masing-masing tumbuh dan berkembang dengan cara serta fase yang berbeda. Karena itu, sekolah tidak bisa menyamakan semua anak dalam satu pola pelayanan,” tambahnya.
Pantau Perkembangan melalui PPI
Sementara itu, Suyono, S.Si., menjelaskan bahwa pemantauan perkembangan peserta didik dalam layanan inklusif dilakukan secara sistematis melalui Program Pembelajaran Individual (PPI).
“Setiap peserta didik inklusif kami monitor melalui Program Pembelajaran Individual atau PPI. Perkembangan masing-masing siswa direkam oleh sekolah melalui laporan dari shadow teacher,” jelas Suyono.
Dokumentasi tersebut juga menjadi sarana komunikasi antara sekolah dan orang tua. Dengan demikian, perkembangan peserta didik tidak hanya menjadi perhatian sekolah, tetapi juga dapat dipantau bersama keluarga.
“Orang tua dapat memantau progres perkembangan anak. Jadi, pendampingan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga,” katanya.
Selain PPI, sekolah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada proses maupun asesmen untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
“Pembelajaran diferensiasi pada proses maupun asesmen juga kami lakukan untuk memenuhi hak belajar siswa inklusif,” ujarnya.
Diskusi antara kedua sekolah kemudian berkembang pada persoalan teknis, khususnya mengenai peran dan mekanisme kerja shadow teacher. Ida menjelaskan bahwa pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Tinjau Fasilitas Pendukung
Selain sistem pembelajaran dan pendampingan, SD Muhammadiyah 16 Surabaya juga memiliki fasilitas pendukung layanan inklusif di Kampus 2 yang berada di Jalan Baratajaya 2 Surabaya.
“Kampus 2 menjadi salah satu fasilitas bagi siswa inklusif untuk mendapatkan pelayanan khusus, seperti terapi, ruang belajar privat, berbagai fasilitas terapi, serta kolam renang yang juga dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas olahraga,” terang Ida.
Setelah sesi diskusi, rombongan SDI Raudlatul Jannah 2 meninjau sejumlah fasilitas dan lingkungan pembelajaran. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB tersebut berlangsung hingga pukul 10.00 WIB dan dilanjutkan dengan kunjungan ke kelas yang didampingi Ida Afifah.
Studi tiru tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman bagi kedua sekolah. Bagi SD Muhammadiyah 16 Surabaya, pengalaman lebih dari dua dekade dalam mengelola pendidikan inklusif menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada sekolah lain.
Sementara bagi SDI Raudlatul Jannah 2, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sistem pendidikan inklusif dibangun dan diterapkan dalam keseharian sekolah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya membutuhkan penerimaan terhadap setiap peserta didik, tetapi juga sistem pendampingan, pembelajaran, asesmen, pemantauan perkembangan, serta keterlibatan keluarga yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments