Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil lolos KMI Expo XVII 2026 melalui DIARICE, inovasi beras analog berbahan rumput laut Gracilaria sp.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa Umsida dengan bimbingan Wiwik Sulistiyowati, S.T., M.T. Tim DIARICE terdiri atas Muhammad Nafi’udin Eka Prawira sebagai ketua, Adinda Dwi Cahayani, Ibnaty Salsabilla Aulia Permadi, Achmad Rizki Dwi Nur Amrin, dan Achmad Lutfi Rahmawan.
KMI Expo XVII 2026 menjadi salah satu tahapan yang diikuti tim DIARICE setelah melakukan persiapan produk dan presentasi. Persiapan tersebut meliputi penyempurnaan produk, penyiapan materi presentasi, pelengkapan legalitas, serta latihan pitching.
Ketua Tim DIARICE, Muhammad Nafi’udin Eka Prawira, menjelaskan bahwa tim juga mengevaluasi cara penyampaian agar produk dapat dijelaskan secara singkat dan mudah dipahami saat seleksi.
“Kami juga melakukan evaluasi terhadap cara penyampaian agar dapat menjelaskan DIARICE secara singkat dan jelas saat proses seleksi,” tuturnya.
Menurut Nafi’udin, kelolosan dalam KMI Expo XVII 2026 menjadi pencapaian yang tidak disangka sebelumnya. Capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi tim untuk terus mengembangkan produk dan usaha DIARICE.
“Bagi kami, lolos KMI Expo XVII menjadi sebuah pencapaian sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan DIARICE agar produk dan usaha kami bisa menjadi lebih baik,” kata Nafi’udin.
Manfaatkan Potensi Rumput Laut Tlocor
Nafi’udin menjelaskan, ide pengembangan DIARICE muncul dari pengamatan terhadap potensi rumput laut di kawasan Tlocor, Sidoarjo. Menurutnya, sebagian rumput laut tersebut masih dijual langsung kepada pengepul setelah dikeringkan.
Kondisi itu mendorong tim mencari bentuk olahan yang dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut lokal menjadi produk pangan.
“Saat ini rumput laut tersebut sebagian besar masih dijual langsung kepada pengepul setelah dikeringkan. Dari situ, kami melihat peluang untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut menjadi produk pangan,” jelasnya.
Selain melihat potensi bahan baku lokal, tim DIARICE juga memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap pilihan pangan yang mendukung pola makan sehat. Beras dipilih sebagai bentuk produk karena merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia.

Nafi’udin mengatakan, tim berusaha mengembangkan produk yang tetap familiar bagi masyarakat, tetapi menggunakan bahan baku yang berbeda.
“Kami berinovasi pangan yang tetap familiar bagi masyarakat, tetapi menggunakan bahan baku yang berbeda dengan harapan produk lebih mudah diterima dan dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari,” terang Nafi’udin.
Beras analog merupakan produk pangan berbentuk menyerupai beras yang dibuat dari bahan selain padi. Dalam pengembangan DIARICE, tim memanfaatkan rumput laut Gracilaria sp. sebagai salah satu bahan utama.
“Kami juga menggunakan bahan-bahan lokal yang kami pilih dan menjaga proses produksinya agar menghasilkan produk yang pas,” ujarnya.
Sempurnakan Formula Produk
Dalam proses pengembangan, tim DIARICE melakukan sejumlah percobaan untuk memperoleh formula yang sesuai. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah karakteristik rumput laut yang memiliki aroma khas.
“Rumput laut memiliki karakteristik dan aroma yang cukup khas, sehingga kami perlu melakukan beberapa kali percobaan untuk mendapatkan hasil yang sesuai, baik dari segi rasa, tekstur, maupun karakteristik produk akhirnya,” ujar Nafi’udin.
Dosen pembimbing DIARICE, Wiwik Sulistiyowati, menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan sejak pemetaan potensi bahan baku hingga riset dan uji coba formula produk.
Pendampingan tersebut meliputi survei tambak, wawancara dengan petani, penguatan data melalui referensi Badan Pusat Statistik (BPS) dan artikel ilmiah, serta pengembangan formula.
Menurut Wiwik, DIARICE tidak hanya diarahkan sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan nilai tambah rumput laut lokal dan membuka peluang hilirisasi bagi petani maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Keberlanjutan inovasi ini dirancang melalui empat aspek utama, yaitu keberlanjutan pangan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan,” jelasnya.
Dari sisi kesehatan, DIARICE masih berada dalam tahap pengembangan sebagai alternatif pangan untuk mendukung pola makan sehat. Tim masih perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan gizi, keamanan pangan, serta karakteristik produk secara lebih mendalam.
Setelah lolos KMI Expo XVII 2026, tim DIARICE akan melanjutkan penyempurnaan produk dan pengembangan usaha. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan rumput laut lokal Sidoarjo menjadi produk pangan bernilai tambah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments