Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bertahan di Sisi Hijir Ismail, Menjemput Salat Subuh Dekat Ka’bah di Masjidil Haram

Iklan Landscape Smamda
Bertahan di Sisi Hijir Ismail, Menjemput Salat Subuh Dekat Ka’bah di Masjidil Haram
Penulis saat menunggu sholat subuh di dekat Ka'bah (Moh. Ernam)
pwmu.co -

Pengalaman melaksanakan tawaf ifadah menjadi bekal berharga bagi jamaah KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo untuk semakin percaya diri beribadah secara mandiri di Masjidil Haram. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat berusaha mendapatkan saf salat Subuh sedekat mungkin dengan Ka’bah, tepat di sekitar Hijir Ismail.

Jamaah yang menginap di kawasan Syisyah harus menempuh perjalanan sekitar 6–7 kilometer menuju Masjidil Haram. Untuk itu, mereka memanfaatkan layanan bus shalawat yang beroperasi selama 24 jam.

Keinginan melaksanakan salat Subuh di Masjidil Haram membuat penulis berangkat sejak pukul 02.00 dini hari waktu Arab Saudi pada 17 Dzulhijjah 1447 H. Awalnya penulis berjanji berangkat bersama seorang teman. Namun karena terlambat turun ke lobi hotel, ia mengira temannya telah lebih dahulu berangkat.

Penulis kemudian berjalan sendiri menuju Halte 3 Sektor 4 dan mendapati bus shalawat yang sedang menunggu jamaah. Setelah tiba di Terminal Syib Amir, ternyata temannya beserta sang istri berada di bus yang sama.

Dari terminal, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Haram.

Rute yang ditempuh cukup berbeda dari biasanya. Setelah mendekati Babul Fath, rombongan masuk melalui jalur menuju WC 9 yang tidak banyak diketahui jamaah. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui selasar hingga tiba di Babus Salam.

Setelah turun melalui eskalator dan keluar di dekat lampu hijau yang menjadi titik awal tawaf, penulis memulai tawaf sunnah dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil membaca, “Bismillahi Allahu Akbar.”

Saat itu, pelataran Ka’bah dipadati ribuan jamaah dari berbagai negara yang terus bergerak mengelilingi Baitullah. Penulis mengenakan sarung, baju koko, dan songkok identitas KBIHU Jabal Nur.

Memasuki putaran kedua hingga keempat, posisi penulis semakin mendekati Ka’bah. Ketika memasuki putaran kelima, adzan pertama menjelang Subuh mulai berkumandang.

Suasana di pelataran Ka’bah perlahan berubah. Banyak jamaah mulai menghentikan tawaf untuk mencari posisi terbaik dalam saf salat berjamaah.

Penulis memutuskan berhenti di sekitar Hijir Ismail dan bergabung dengan jamaah lain yang mulai membentuk barisan salat.

Petugas keamanan Masjidil Haram segera mengarahkan jamaah agar menghentikan tawaf dan keluar dari jalur putaran demi memberikan ruang bagi pelaksanaan salat berjamaah. Jamaah perempuan yang sebelumnya berada di sekitar Ka’bah juga diarahkan menuju area lain.

SMPM 5 Pucang SBY

Perlahan, area yang sebelumnya dipenuhi jamaah tawaf berubah menjadi saf-saf salat yang tertata rapi mengelilingi Ka’bah.

Dari pengalaman tersebut, penulis memperoleh pelajaran penting bahwa jamaah yang ingin mendapatkan saf depan sebaiknya segera menata posisi saat adzan pertama berkumandang.

Jika tetap melanjutkan tawaf hingga mendekati iqamah, peluang mendapatkan saf di area terdekat Ka’bah akan semakin kecil karena lokasi tersebut cepat terisi oleh jamaah.

Tak lama kemudian, adzan Subuh berkumandang. Ribuan jamaah berdiri dalam barisan yang mengelilingi Ka’bah.

Salat Subuh berjamaah berlangsung dengan khusyuk. Setelah itu, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan salat jenazah yang menjadi tradisi rutin setelah salat fardu di Masjidil Haram.

Usai salat, penulis kembali melanjutkan tawaf hingga genap tujuh putaran. Selanjutnya ia menunaikan salat sunnah di belakang Maqam Ibrahim, meminum air zamzam, serta mengisi beberapa botol untuk dibawa pulang ke hotel.

Momen berdiri di saf dekat Ka’bah saat salat Subuh menjadi pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.

Di tengah jutaan umat Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia, Allah SWT memberikan kesempatan untuk berdiri begitu dekat dengan rumah-Nya dan merasakan kekhusyukan ibadah yang selama ini hanya dibayangkan.

“Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkau telah mengundang kami menjadi tamu-Mu dan memberi kesempatan bersujud di rumah-Mu. Semoga Engkau berkenan mengundang kami kembali ke Baitullah pada waktu yang Engkau kehendaki,” doa penulis.

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/06/2026 09:26
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu