Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) resmi membuka Baitul Arqam Dosen 2026 pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), ideologi Persyarikatan, serta integritas dosen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi.
Pembukaan Baitul Arqam dihadiri Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Wakil Rektor I Umsura, serta menghadirkan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Achmad Jainuri, M.A., Ph.D., dan anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Drs. Najih Ihsan, M.Ag. sebagai pemateri.
Dalam sambutannya, Mundakir menegaskan bahwa Baitul Arqam tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial ataupun agenda rutin institusi. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ruang refleksi sekaligus proses internalisasi nilai bagi seluruh dosen.
“Baitul Arqam bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan proses penguatan identitas dan komitmen dosen sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Dosen tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki integritas, keteladanan, dan semangat berkhidmat untuk universitas, Persyarikatan, umat, serta bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dosen memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas dan arah perkembangan perguruan tinggi. Tugas dosen tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter, membangun budaya akademik, serta memberikan teladan melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Menurut Mundakir, kecakapan akademik harus berjalan seiring dengan kekuatan moral dan spiritual. Kemajuan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari meningkatnya publikasi ilmiah, penelitian, inovasi, maupun reputasi institusi, tetapi juga dari integritas sumber daya manusianya.
“Ilmu pengetahuan yang tinggi harus diikuti akhlak dan tanggung jawab yang kuat. Dosen harus menjadi figur yang dapat diteladani mahasiswa, baik dalam kejujuran akademik, kedisiplinan, kepedulian sosial, maupun dalam menjalankan nilai-nilai Islam Berkemajuan,” tambahnya.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian Baitul Arqam dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, materi yang diperoleh tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan konseptual, tetapi harus diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola kelembagaan.
Perkuat Identitas Dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Baitul Arqam Dosen 2026 dirancang sebagai ruang penguatan ideologi, spiritualitas, profesionalisme, dan komitmen dosen terhadap misi Persyarikatan Muhammadiyah. Kegiatan ini juga menjadi momentum menyelaraskan kompetensi akademik dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Achmad Jainuri memberikan penguatan mengenai posisi strategis perguruan tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kaderisasi, serta dakwah Islam Berkemajuan. Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan Persyarikatan.
Sementara itu, Najih Ihsan menekankan pentingnya penguatan aspek keislaman, dakwah, dan pembinaan spiritual. Hal tersebut diperlukan agar dosen mampu menjalankan profesinya sebagai bagian dari ibadah sekaligus pengabdian kepada umat.
Melalui forum ini, para dosen juga didorong untuk memperdalam pemahaman tentang Muhammadiyah, memperkuat komitmen dalam berkhidmat di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta mengembangkan budaya kerja yang amanah, profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada kemajuan.
Baitul Arqam diharapkan mampu melahirkan dosen yang tidak hanya berperan sebagai pengajar dan peneliti, tetapi juga sebagai kader, pendidik, sekaligus penggerak perubahan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Umsura berkomitmen menjadikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai fondasi pengembangan institusi. Melalui Baitul Arqam Dosen 2026, universitas berharap dapat membangun ekosistem akademik yang unggul, berintegritas, inklusif, dan konsisten membawa semangat Islam Berkemajuan.
“Setelah mengikuti Baitul Arqam, harus ada perubahan dalam cara berpikir, cara bekerja, dan cara memberikan pelayanan. Nilai-nilai yang diperoleh harus hadir dalam perilaku nyata serta memberikan dampak bagi mahasiswa, institusi, dan masyarakat,” pungkas Mundakir. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments