Penunjukan SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) sebagai Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) bukanlah capaian yang diraih secara instan. Predikat tersebut merupakan hasil seleksi ketat berdasarkan kualitas satuan pendidikan, mulai dari keunggulan peserta didik, kompetensi guru, hingga kepemimpinan kepala sekolah.
Hal itu disampaikan Fasilitator Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA), Abdullah S.Pd., M.Pd., saat kegiatan Pendampingan Sekolah Model di Ruang Direktur Smamita, Rabu (5/8/2026).
Menurut Abdullah, sejak awal pendampingan ia melihat kesiapan Smamita yang sangat baik. Budaya sekolah yang terbuka terhadap perubahan menjadi salah satu modal utama dalam menjalankan program Sekolah Model.
“Di luar ekspektasi saya, kesiapan sekolah sudah sangat maksimal. Saat pertama datang, saya melihat guru-guru Smamita sangat terbuka terhadap pengetahuan baru. Ini menunjukkan bahwa Smamita memang layak menjadi Sekolah Model,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Model PM dan KKA merupakan program yang berbeda dengan Sekolah Model Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Dalam program ini, penilaian difokuskan pada tiga aspek utama, yakni keunggulan peserta didik, kompetensi guru dalam pembelajaran, serta kualitas kepemimpinan kepala sekolah.
Selain itu, sekolah yang ditunjuk juga harus memiliki capaian rapor pendidikan yang baik, minimal berada pada kategori berkembang. Nilai yang lebih tinggi, seperti kategori maju atau unggul, menjadi nilai tambah dalam proses penilaian.
“Smamita memenuhi indikator tersebut. Dari rapor pendidikan terlihat banyak aspek yang sudah berada pada kategori berkembang, maju, bahkan unggul. Karena itu sekolah ini memenuhi syarat sebagai Sekolah Model,” jelasnya.
Pendampingan Dilaksanakan dalam Enam Tahap
Abdullah menerangkan, proses pendampingan tidak berhenti setelah penetapan sekolah. Selama program berlangsung, tim fasilitator akan mendampingi sekolah melalui enam tahapan, mulai dari asesmen awal, refleksi, penyusunan rencana tindak lanjut, hingga implementasi pembelajaran di kelas.
Melalui tahapan tersebut, guru, kepala sekolah, dan pengawas bersama-sama menganalisis berbagai kekuatan sekaligus aspek yang masih perlu diperkuat agar implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial berjalan secara optimal.
“Kami ingin guru Smamita semakin percaya diri. Apa yang selama ini sudah dilakukan di kelas sebenarnya sudah baik, tinggal diperkuat dan disempurnakan melalui refleksi yang berkelanjutan sehingga benar-benar menghasilkan perubahan dalam pembelajaran,” tuturnya.
Diproyeksikan Menjadi Laboratorium Inovasi Pembelajaran
Abdullah berharap predikat Sekolah Model semakin memperkuat posisi Smamita sebagai sekolah rujukan dalam pengembangan pembelajaran inovatif.
Menurutnya, status tersebut bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga amanah besar karena tidak semua sekolah memperoleh kesempatan yang sama.
“Harapannya, Smamita dapat menjadi laboratorium pendidikan berbasis inovasi. Status Sekolah Model harus menjadi identitas yang terus diperkuat melalui praktik pembelajaran yang berkualitas dan berdampak nyata bagi peserta didik,” katanya.
Ia menambahkan, di Kabupaten Sidoarjo hanya sekitar tiga sekolah yang dipercaya mengikuti program ini, salah satunya SMA Muhammadiyah 1 Taman. Melalui enam siklus pendampingan, para fasilitator berharap implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial benar-benar menjadi budaya belajar di sekolah.
Guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten, melakukan refleksi, dan terus meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Dampak akhirnya adalah terciptanya perubahan nyata dalam proses belajar mengajar sehingga Smamita benar-benar menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam dan kecerdasan artifisial,” pungkas Abdullah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments