Empat hari (21-24/9/2026) mengikuti Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) ke-2 di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Pujon, Kabupaten Malang, meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Bukan hanya tentang perlombaan dan kegiatan perkemahan, tetapi juga tentang persaudaraan, kemandirian, kedisiplinan, dan pengalaman bertemu santri Muhammadiyah dari berbagai penjuru Indonesia.
Kesan tersebut salah satunya disampaikan Rimun, pendamping regu dari Pesantren Al-Mujahiddin Balikpapan. Menurutnya, KSMN II menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan para santri dari berbagai daerah dalam satu kegiatan.
“KSM kali ini sangat menyenangkan karena bisa bertemu dan membangun relasi dengan seluruh santri Muhammadiyah dari pelosok negeri,” tuturnya.
Menurut Rimun, keberadaan berbagai perlombaan dalam KSMN juga memberikan ruang bagi santri untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Panitia memberikan kesempatan kepada santri untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan melalui perlombaan. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah melaksanakan tugas dengan baik sehingga KSM berjalan lancar dan sukses,” ujarnya.
Datang Tak Saling Kenal, Pulang Jadi Keluarga
Kesan yang tidak kalah kuat dirasakan para peserta. Salah seorang peserta, Feby, mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari KSMN II.
Empat hari berada di Coban Rondo menjadi pengalaman yang menurutnya sulit dilupakan. Ribuan santri yang sebelumnya tidak saling mengenal dipertemukan dalam satu ruang kebersamaan.
“Kami datang sebagai salah satu dari 1.500 santri yang tidak saling kenal, pulang sebagai satu keluarga,” ungkapnya.
Bagi Feby, pengalaman mengikuti KSMN bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Berbagai aktivitas sederhana selama berada di perkemahan justru memberikan pelajaran kehidupan.
Dinginnya udara Malang, lelahnya mengikuti baris-berbaris, antre mandi, hingga menjalankan shalat berjamaah menjadi pengalaman yang mengajarkan arti disiplin, kesabaran, dan kemandirian.
Menurutnya, kebersamaan selama kegiatan juga semakin kuat karena suasana yang dibangun panitia dan pendamping penuh dengan bimbingan serta keteladanan.
“Tidak ada perundungan, hinaan, umpatan, dan hal negatif lainnya. Yang ada hanya bimbingan dan keteladanan,” katanya.
KSMN Mengajarkan Arti Kebersamaan
Kesan serupa disampaikan Athifa Nahda Muhabbin, salah seorang peserta dari Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Bagi Athifa, mengikuti KSMN II merupakan pengalaman berharga karena dapat bertemu dan berinteraksi dengan santri Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Menurutnya, pertemuan dengan peserta dari berbagai pesantren membuatnya semakin menyadari luasnya persaudaraan santri Muhammadiyah.
“Kesan saya selama mengikuti KSMN sangat menyenangkan. Saya bisa bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah dan merasakan kebersamaan sebagai santri Muhammadiyah,” ujarnya.
Athifa mengatakan, berbagai kegiatan yang diikuti selama perkemahan tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga melatih keberanian, kedisiplinan, kemandirian, dan kerja sama.
Ia juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari interaksi dengan peserta maupun pendamping dari berbagai daerah.
“Pesan yang saya dapat dari KSMN ini adalah jangan takut mencoba hal baru, terus belajar, dan tetap menjaga kebersamaan. Karena dari kegiatan seperti ini kita bisa mendapatkan pengalaman dan teman baru yang mungkin tidak akan kita temui di tempat lain,” tuturnya.
Bagi Athifa, KSMN II juga memberikan pengalaman tentang bagaimana hidup bersama dalam keberagaman. Para peserta datang dengan latar belakang pesantren dan daerah yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh identitas sebagai santri Muhammadiyah.
“Semoga setelah pulang dari KSMN, kami tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga membawa semangat untuk menjadi santri yang lebih disiplin, mandiri, berprestasi, dan bermanfaat bagi orang lain,” pesannya.
Kuat Kaki, Hati, dan Pikiran
Dari pengalaman empat hari tersebut, Feby membawa pesan yang lebih dalam. Baginya, perjalanan di Coban Rondo bukan sekadar perjalanan mengikuti perkemahan, melainkan proses belajar menjadi santri yang lebih kuat.
Kuat bukan hanya secara fisik, tetapi juga kuat dalam membangun persaudaraan dan memiliki semangat belajar.
“Dari Coban Rondo kami belajar, santri Muhammadiyah itu harus kuat kakinya untuk mendaki, kuat hatinya untuk ukhuwah, dan kuat pikirannya untuk selalu belajar,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi gambaran bahwa KSMN II meninggalkan pengalaman yang melampaui batas perlombaan. Para santri pulang membawa cerita, sahabat baru, dan nilai-nilai kehidupan yang diharapkan terus mereka bawa ke pesantren dan daerah masing-masing. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments