Sering kali ketika membuka media sosial (medsos) yang kita miliki di waktu senggang, kita disuguhkan halaman rekomendasi utama yang berisi deretan video, konten, hingga berita yang sedang viral atau berbagai jenis konten yang disesuaikan secara khusus berdasarkan algoritma yang dikenal dengan istilah “for your page” atau FYP.
Salah satu berita yang sedang FYP saat ini adalah ketika anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Jember, Jawa Timur, kedapatan bermain gim dan merokok di dalam ruangan saat rapat bersama dinas kesehatan setempat membahas isu kesehatan masyarakat, stunting, dan percepatan peningkatan gizi di wilayah Kabupaten Jember.
Meski yang bersangkutan sudah membuat video pernyataan maaf di media sosial, publik telanjur “kadung mangkel” dengan perilaku yang dianggap kurang beradab tersebut, terlebih karena yang bersangkutan merupakan anggota dewan terhormat.
Tentunya, bukan pertama kali berita negatif individu berlatar belakang anggota legislatif menghiasi jagat media sosial. Masih kita ingat beberapa waktu lalu ada anggota dewan yang tertidur saat rapat pembahasan anggaran pendidikan, ketahuan bermain judi online, hingga kasus menonton video pornografi yang sempat viral di media sosial.
Fenomena tersebut menjadi contoh nyata terjadinya degradasi moral dan etika di ruang publik. Di tengah gempuran kemajuan teknologi dan informasi, masyarakat menghadapi paradoks yang memprihatinkan. Kemudahan akses pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan penguatan karakter.
Ruang digital yang seharusnya memajukan peradaban justru kerap berubah menjadi arena polarisasi, intoleransi, dan erosi etika publik. Gejala ini menunjukkan adanya disorientasi nilai yang berjalan beriringan dengan modernitas.
Oleh karena itu, pendidikan karakter yang berlangsung di sekolah, khususnya sekolah Muhammadiyah, tidak boleh terjebak dalam orientasi instrumental yang hanya berfokus pada pencapaian akademis, peringkat, dan akreditasi semata. Pendidikan juga perlu menyentuh penanaman nilai karakter, seperti empati, kejujuran, dan tanggung jawab pada diri peserta didik.
Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan karakter di sekolah mampu menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk menghargai orang lain di ruang publik serta mematuhi norma sosial dan kesopanan yang berlaku di masyarakat.
Agar pembelajaran karakter dapat dipraktikkan secara langsung oleh peserta didik, guru dapat mendesain praktik pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning), bermakna (meaningful learning), dan berkesadaran (mindful learning) sesuai konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sebagai contoh, dalam pelajaran PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan), dampak negatif merokok terhadap kesehatan dapat disampaikan melalui materi kebugaran jasmani dengan subtema daya tahan (endurance) dan kecepatan (speed).
Dalam penyusunan rencana pembelajaran atau modul ajar fase D, capaian pembelajaran (CP) pada elemen pengembangan karakter dan internalisasi nilai-nilai gerak menyebutkan bahwa peserta didik diharapkan proaktif memelihara dan memonitor peningkatan derajat kebugaran jasmani serta menunjukkan keterampilan bekerja sama dengan merujuk pada peraturan dan pedoman yang berlaku. Peserta didik juga diharapkan mampu mempertahankan interaksi sosial yang baik dalam aktivitas jasmani.
Dari capaian pembelajaran tersebut, guru PJOK dapat mengintegrasikan teori tentang daya tahan (endurance) dan kecepatan (speed) dengan pemahaman peserta didik mengenai dampak negatif rokok terhadap sistem pernapasan, terutama paru-paru, yang berpengaruh terhadap kemampuan daya tahan dan kecepatan tubuh.
Penyampaian materi akan semakin menarik jika dibarengi penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) di kelas guna meningkatkan interaksi antara guru dan peserta didik. Hal ini dapat mendorong pendalaman materi sekaligus membangun kesadaran peserta didik dalam memahami pentingnya kebugaran jasmani.
Setelah penyampaian teori di kelas, guru dapat melanjutkan dengan praktik kebugaran jasmani di lapangan melalui berbagai aktivitas gerak, seperti shuttle run, zig-zag run, hingga aktivitas HIIT (high intensity interval training) sebagai parameter ketercapaian materi kebugaran jasmani.
Di sela-sela kegiatan tersebut, guru dapat menyisipkan apersepsi dan kutipan tentang bahaya merokok. Setelah itu, guru perlu melakukan refleksi bersama peserta didik melalui LKPD (lembar kerja peserta didik) dan asesmen yang berkaitan dengan pembelajaran tersebut.
Jika praktik baik ini dilakukan secara berulang dalam setiap pembelajaran, meskipun materi yang diajarkan berbeda-beda, korteks serebral yang dimiliki peserta didik secara bertahap akan mengalami peningkatan pada aspek kognitif dan afektif. Dengan demikian, proses pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka menengah dapat tercapai.
Inilah salah satu upaya berkemajuan dalam pembelajaran PJOK, bahwa peningkatan kebugaran jasmani juga dapat menjadi sarana membentuk dan menanamkan karakter positif sebagai bagian dari pembentukan peserta didik seutuhnya, and this is what we call changing habits through movement.
Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia karya H.A.R. Tilaar menyebutkan bahwa hakikat pendidikan tidak dapat direduksi sekadar menjadi instrumen penyedia keterampilan teknis yang mengikuti logika kebutuhan pasar. Pendidikan merupakan proses pemanusiaan yang meniscayakan internalisasi nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan keadaban secara mendalam.
Dengan kata lain, pelajaran PJOK tidak hanya bertugas mencetak individu yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berkarakter, memiliki integritas moral, serta menghayati tanggung jawab etis dalam kehidupan sosial.
Memang, praktik baik yang dilakukan guru di sekolah, terutama dalam pengaplikasian pendidikan karakter, tidak serta-merta memberikan dampak langsung terhadap peserta didik. Namun, keteladanan profetik yang dihidupkan oleh pendidik akan memberikan pengaruh yang mendalam.
Guru idealnya mampu merepresentasikan kepemimpinan yang memanusiakan (humanisasi), membebaskan pikiran (liberasi), dan mengaitkan ilmu dengan spiritualitas (transendensi).
Pada akhirnya, mengatasi degradasi moral bukan hanya tugas lembaga pendidikan. Dibutuhkan kolaborasi sinergis antara keluarga sebagai fondasi utama penanaman nilai, sekolah sebagai penguat dan pematangan yang sistematis, serta masyarakat sebagai ruang aktualisasi dan pengujian nilai-nilai tersebut. Melalui sinergi itulah ketahanan moral bangsa dapat dibangun untuk menghadapi kompleksitas zaman. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments