Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ranting Muhammadiyah: Ujung Tombak Sekaligus Ujung Tombok

Iklan Landscape Smamda
Ranting Muhammadiyah: Ujung Tombak Sekaligus Ujung Tombok
Ranting Muhammadiyah: Ujung Tombak Sekaligus Ujung Tombok
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes Ketua MPKU PDM Sidoarjo

Ada satu kalimat menarik dari Kyai Sam’un, Ketua PCM Sepanjang: “Ranting adalah Ujung Tombak sekaligus Ujung Tombok pergerakan Persyarikatan Muhammadiyah.

Beliau menyampaikan hal itu saat penulis rapat dengan beliau. Di banyak tempat, ranting Muhammadiyah adalah pihak pertama yang datang ketika warga sakit, masjid sepi, remaja mulai jauh dari pengajian, atau masyarakat bingung mencari arah.

Tetapi lucunya, ketika bicara anggaran, fasilitas, dan perhatian, ranting justru sering menjadi ‘anak tiri’ organisasi. Mereka diminta terus bergerak, tetapi kadang bergerak sambil nombok. Dalam bahasa Jawa: ujung tombak sekaligus ujung tombok.

Inilah ironi gerakan modern. Tepuk tangan paling keras sering terdengar di forum besar, sementara kerja paling berat justru terjadi di gang-gang sempit kampung. Ranting tidak hidup dari kemewahan proposal. Mereka hidup dari ketulusan, kopi sachet, tikar masjid, dan semangat ‘sing penting mlaku dhisik.’

Padahal, sejarah membuktikan: organisasi besar tidak runtuh karena kurang slogan, tetapi karena akar rumputnya lelah sendirian. Allah SWT berfirman: _”Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”_ (Al Ma’idah 2). Ayat ini bukan sekadar hiasan spanduk musyawarah ranting.

Ini adalah perintah membangun ekosistem saling menopang. Artinya, jangan biarkan ranting menjadi pekerja abadi tanpa dukungan nyata. Sebab dakwah bukan hanya soal pidato inspiratif, tetapi juga soal siapa yang membayar listrik masjid ketika kas minus.

Lebih ironis lagi, di era media sosial, sebagian orang sibuk membangun citra dakwah digital, sementara aktivis ranting diam-diam menjual waktunya, tenaganya, bahkan uang pribadinya demi menjaga pengajian tetap hidup. Mereka tidak viral, tetapi merekalah firewall moral masyarakat.

SMPM 5 Pucang SBY

Rasulullah SAW bersabda: _”Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”_ (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menampar budaya organisasi yang kadang terlalu sibuk di level wacana, tetapi lupa memperkuat pondasi. Ranting bukan tukang sapu organisasi. Ranting adalah jantungnya. Kalau ranting mati, maka persyarikatan hanya tinggal logo, baliho, dan nostalgia sejarah.

Kita perlu jujur: banyak ranting hari ini mengalami kelelahan struktural. SDM terbatas, kader menua, generasi muda sibuk scrolling, sementara tuntutan program terus bertambah. Jika kondisi ini dibiarkan, maka ranting akan berubah menjadi museum pengabdian: dihormati saat pidato, dilupakan saat pembagian sumber daya.

Muhammadiyah lahir bukan dari gedung mewah, tetapi dari keberanian orang-orang kecil yang mau bergerak besar. Karena itu, revitalisasi ranting bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan peradaban.

Jangan sampai ranting terus diminta menjadi ujung tombak, tetapi dibiarkan menjadi ujung tombok sendirian. Sebab pohon sebesar apa pun, jika akarnya terus dibiarkan kering, akhirnya hanya tinggal menunggu tumbang.

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/05/2026 19:11
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡