Adanya dendam dan rasa dendam lalu berubah menjadi balas dendam telah berdampak pada pelaku, korban dan keluarganya. Dampak buruk justru akan muncul dari rasa dendam tersebut. Dampaknya yang akan terjadi antara lain sebagai berikut:
- Mendapatkan hukuman mati bagi pelaku dendam. Seperti hukuman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang kafir jahiliah yang memusuhi dan dendam pada Islam dan umatnya. Hukum diberikan sesuai dengan syariat Islam yakni had atau qishas. Mereka yang dihukum di antaranya: Ikrimah bin Abi Jahl (anak Abu Jahl) , Abdullah bin Khathal, Miqyas bin Shubabah dan Abdullāh bin Abi Sarḥ. (Rumasyo. com).
- Dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang yang suka dendam dan pendendam itu paling dibenci oleh Allah Ajja Wa Jalla. Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Lelaki (manusia) yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras permusuhannya (suka menaruh dendam).” (HR. Bukhari no. 2457 dan HR. Muslim no. 2668).
- Terjerumus dalam perbuatan syirik dan dosa besar. Orang yang suka dendam dalam menuruti hawa nafsunya dapat menggunakan cara apa saja untuk melampiaskan dendamnya. Antara lain menggunakan kekuatan sihir untuk membalas dendamnya pada orang yang menjadi obyeknya. (QS. Al-Falaq: 5). Padahal sihir termasuk dalam perbuatan syirik dan dosa yang sangat besar. (QS. An Nisa:48, 116).
Solusi Mengendalikan Dendam
Dendam yang sudah terpendam sangatlah bahaya bila dibiarkan bersemi dan bersemai di dalam qalbu manusia. Itulah kenapa dalam mengendalikan dendam tidak mudah seperti membalik telapak tanga.
Namun karena dendam sebagai penyakit hati yang berbahaya, tentunya tetap harus disembuhkan. Islam memberikan banyak solusi, anta lain sebagai berikut:
- Bertaqwa. Orang yang bertaqwa sedemikian mudah mengendalikan rasa dendam yang berada dalam dirinya. Sebab mereka memiliki karakter berbeda dengan orang-orang lainnya. Karakternya antara lain disebutkan dalam firman Allah Aza Wa Jalla, “(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (segala kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” — (QS. Ali ‘Imran: 134)
- Bersabar dan pemaaf. Orang-orang yang sabar juga dapat mengendalikan dendam dan tidak akan menyalurkan rasa dendam dengan cara apapun. Kesabaran dan bersabar pada saat menerima tindak keburukan dan kejahatan menjadi benteng hati untuk mengendalikan dendam pada dirinyalah.” (QS. Fushshilat: 34-35).
- Berbuat baik. Rasa dendam dapat dipendam dan dikendalikan dengan senantiasa berbuat baik pada siapapun termasuk orang yang jahat dan menyakitinya. Hal ini dijelaskan dalam hadits, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, seseorang telah berkata pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasul, saya mempunyai keluarga yang saya hubungi tetapi mereka memutuskan hubungan dengan saya. Saya berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka membalas kebaikanku dengan berbuat jahat. Saya berusaha sabar dalam hal ini, tapi mereka selalu usil dan berbuat kebodohan kepadaku.”





0 Tanggapan
Empty Comments